catatan seorang ibu, wanita, hamba sahaya yang ingin berbagi pikiran dengan dunia

Hadits Tentang Keutamaan Menuntut Ilmu

        Menuntut ilmu adalah wajib hukumnya bagi umat muslim. Begitu pentingnya ilmu, ibarat insan manusia tanpa ilmu bagaikan gelapnya malam tanpa cahaya dan lampu. Berbekal ilmu seorang muslim diharapkan mampu mengkaji ayat-ayat Allah, baik di dalam kitab suci Al Qurán maupun yang tersirat di alam raya yang telah Allah ciptakan.

        Menuntut ilmu yang bermanfaat dan mengamalkan serta mengajarkannya merupakan salah satu ladang pahala. Bahkan ilmu yang diajarkan dan dimanfaatkan oleh orang-orang yang dididik bisa menjadi amal jariyah.

Hadits Tentang Keutamaan Menuntut Ilmu
Hadits Tentang Keutamaan Menuntut Ilmu

Perintah menuntut ilmu tersurat dalam Al Quran surat Al Mujadilah ayat 11

 

Artinya: “Wahai orang-orang yang beriman, apabila dikatakan kepada kalian, ‘Berlapang-lapanglah dalam majelis,’ maka lapangkanlah, niscaya Allah akan memberi kelapangan untuk kalian. Dan apabila dikatakan, ‘Berdirilah kamu,’ maka berdirilah, niscaya Allah akan meninggikan orang-orang yang beriman diantara kalian dan orang-orang yang diberi ilmu pengetahuan beberapa derajat. Dan Allah Maha Mengetahui atas apa yang kalian kerjakan.”

 (Qs. Al-Mujadilah: 11)

Allah dengan tegas berfirman bahwa orang yang beriman dan berilmu akan ditinggikan derajatnya hingga beberapa derajat lebih tinggi di antara insan manusia lainnya. Pentingnya kewajiban dan keutamaan menuntut ilmu kembali ditegaskan Allah melalui Rasulullah dalam beberapa hadits  berikut ini:

1.    Tholibul Ilmi faridhotun ala kulli muslimin
Artinya “Menuntut ilmu wajib bagi setiap Muslim.”

[Hadits shahih li ghairihi, diriwayatkan Ibnu Majah (no. 224), dari jalur Anas bin Malik radhiyallahu’anhu. Hadits ini diriwayatkan pula oleh sekelompok para shahabat, seperti Ali bin Abi Thalib, ‘Abdullah bin ‘Abbas, ‘Abdullah bin ‘Umar, ‘Abdullah bin Mas’ud, Abu Sa’id Al-Khudriy, Al-Husain bin ‘Ali, dan Jabir radhiyallahu’anhum. Dishahihkan oleh Syaikh Albani dalam Shahih wa Dha'if Sunan Ibnu Majah no. 224.

Dalam riwayat lain, hadits ini berbunyi:

“Tholabul ‘ilmi faridhotun ‘alaa kulli muslimin wal muslimat minal mahdi ilal lahdi”

Artinya:
“Menuntut ilmu itu wajib bagi setiap muslim dan muslimah sejak dari ayunan hingga liang lahat.

(H.R. Ibnu Majah No. 224 dari Anas bin Malik R.A. dishahihkan oleh Asy-Syaikh Al-Albani dalam Shahih Ibni Majah: 183 dan Shahihut Targhib: 72)

Dari hadits ini dapat disimpulkan bahwa menuntut ilmu adalah wajib hukumnya bagi umat muslim, umat beriman, baik lelaki maupun perempuan sepanjang hayat masih dikandung badan.

2.    Wa Man Salaka Thoriiqon Yaltamisu Fiihi Ilman Sahhalallahu Lahu Thoriiqon Ila Al Jannah.

Artinya : “Dan siapa yang menempuh jalan untuk mencari ilmu, maka Allah akan mudahkan baginya jalan menuju surga.” (HR. Muslim no. 2699)

Hadits ini menegaskan keutamaan menuntut ilmu, hingga Allah pun menjanjikan kemudahan jalan menuju surga bagi para pejuang di jalan ilmu  pengetahuan

3.    Man yuridillahu bihi khoyran yufaqqihhu fiddiin

Artinya : “Barangsiapa yang Allah kehendaki mendapatkan seluruh kebaikan, maka Allah akan memahamkan dia tentang agama”

(HR Bukhari No.71 dan HR Muslim No.1037)

Hadits ini menegaskan tentang janji Allah bahwa melalui pemahaman ilmu (agama) Allah akan menganugerahkan seluruh kebaikan bagi orang yang bersungguh-sungguh menuntut ilmu.

Syaikh Muhammad bin Sholih Al “Utsaimin dalam Kitabul Ilmi menafsirkan pemahaman ilmu agama dalam hadits ini sebagai pemahaman yang menyeluruh, termasuk tauhid, hubungan dengan Allah dan sesama manusia dan syariat Islam yang berkaitan dengan kehidupan bermasyarakat. 

Dalam riwayat hadits yang lebih panjang, keutamaan menuntut ilmu ditekankan sebagai berikut:

“Dari Katsir bin Qois, ia berkata, aku pernah duduk bersama Abu Darda’ di Masjid Damasqus, lalu datang seorang pria yang lantas berkata, “Wahai Abu Ad Darda’, aku sungguh mendatangi dari kota Rasul -shallallahu ‘alaihi wa sallam- (Madinah Nabawiyah) karena ada suatu hadits yang telah sampai padaku dimana engkau yang meriwayatkannya dari Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Aku datang untuk maksud mendapatkan hadits tersebut. Abu Darda’ lantas berkata, sesungguhnya aku pernah mendengar Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam berkata, “Barangsiapa menempuh jalan untuk mencari ilmu, maka Allah akan mudahkan baginya di antara jalan menuju surga. Sesungguhnya malaikat meletakkan sayapnya sebagai tanda ridho pada penuntut ilmu. Sesungguhnya orang yang berilmu dimintai ampun oleh setiap penduduk langit dan bumi, hingga ikan yang berada dalam air pun memohon ampun untuknya. Sesungguhnya keutamaan orang yang berilmu dibanding ahli ibadah adalah seperti perbandingan bulan di malam badar dari bintang-bintang lainnya. Sesungguhnya ulama adalah pewaris para Nabi. Sesungguhnya Nabi tidaklah mewariskan dinar dan tidak pula dirham. Barangsiapa yang mewariskan ilmu, maka sungguh ia telah mendapatkan keberuntungan yang besar.” 

(HR. Abu Daud no. 3641. Syaikh Al Albani mengatakan bahwa hadits ini shahih).

Majelis Taklim adalah salah satu tempat menuntut ilmu
(Hadits Tentang Keutamaan Menuntut Ilmu)

Dari hadits-hadits tersebut dapat disimpulkan beberapa hal penting mengenai keutamaan menuntut ilmu bagi kaum muslim”:

1.     Menuntut ilmu wajib hukumnya bagi laki-laki maupun perempuan beriman.

2. Allah menjanjikan kemudahan menuju surga bagi para penuntut ilmu.

3. Jika Allah menghendaki kebaikan bagi seseorang, maka Allah akan memahamkannya tentang ilmu agama.

4.     Begitu mulianya kedudukan seseorang yang menuntut ilmu di hadapan Allah, hingga malaikat menaungkan sayapnya, segenap penduduk langit dan bumi hingga ikan di lautan memohonkan ampun bagi para penuntut ilmu.

5. Rasulullah telah memberikan contoh yang nyata bahwa beliau tidak mewariskan harta kekayaan, namun ilmu dan pengetahuan. Barangsiapa yang mewariskan ilmu maka ia akan mendapatkan keberuntungan besar

 Bagaimana dengan perintah "tuntutlah ilmu sampai ke negeri Cina" ?

Beberapa ulama berpendapat bahwa hadits ini lemah. Saya kutip dari Republika:

Teks Arab hadits tersebut adalah, اُطْلُبُوْا الْعِلْمَ وَلَوْ بِالصِّيْنِ (Uthlub al-‘ilm walau bi ash-shin).

Artinya: “Tuntutlah Ilmu, walau ke negeri China”.

Dalam buku M. Quraish Shihab Menjawab dijelaskan, hadits ini banyak ditemukan dalam berbagai kitab hadits. Hadits ini diriwayatkan oleh Ibnu ‘Adi, Abu Nu’aym dalam kitabnya yang berjudul Akhbar Ishfahan dan Abu al-Qasim al-Qusyayri dalam kitabnya al-Arba’in.

Menurut M Quraish, salah seorang jalur perawinya adalah Abu ‘Atikah Tharif bin Sulayman, yang dinilai sangat lemah, tidak tepercaya, dan pembuat hadits-hadits palsu. Dalam kitabnya yang berjudul al-Mawadhu’at (Kumpulan Hadits Palsu), Ibnu al-Jawzi menulis hadits itu batil dan mengutip pendapat Ibnu Hibban yang menyatakan hadits itu mempunyai jalur lain serta tidak memiliki dasar.

Memang, menurutnya, ada beberapa ulama yang menilai hadits tersebut sebagai hadits shahih. Akan tetapi, pandangan ini ditolak oleh banyak ulama. Di antaranya adalah ulama hadits Muhammad Nashiruddin al-Albani dalam kitabnya yang berjudul Silsilah al-Ahadits adh-Dha’ifah wa al-Mawdhu’ah, jilid I, halaman 602.

Dikutip dari Rumaysho

Mayoritas ulama pakar hadits menilai bahwa hadits ini adalah hadits dho’if (lemah) dilihat dari banyak jalan.

Syaikh Isma’il bin Muhammad Al ‘Ajlawaniy rahimahullah telah membahas panjang lebar mengenai derajat hadits ini dalam kitabnya ‘Mengungkap kesamaran dan menghilangkan kerancuan terhadap hadits-hadits yang sudah terkenal dan dikatakan sebagai perkataan Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam’ pada index huruf hamzah dan tho’. Dalam kitab beliau tersebut, beliau mengatakan bahwa hadits ini diriwayatkan oleh Al Baihaqi, Al Khotib Al Baghdadi, Ibnu ‘Abdil Barr, Ad Dailamiy dan selainnya, dari Anas radhiyallahu ‘anhu. Lalu beliau menegaskan lemahnya (dho’ifnya) riwayat ini. Dinukil pula dari Ibnu Hibban –pemilik kitab Shohih-, beliau menyebutkan tentang batilnya hadits ini. Sebagaimana pula hal ini dinukil dari Ibnul Jauziy, beliau memasukkan hadits ini dalam Mawdhu’at (kumpulan hadits palsu).

Ilmu dan pengetahuan adalah warisan yang tak kalah berharga dibandingkan harta kekayaan. Ilmu yang bermanfaat bisa menjadi amal jariyah jika diajarkan secara berkesinambungan. Semoga kita mampu menjadi golongan yang tak lelah menuntut ilmu kebaikan dan mengajarkannya di jalan kebaikan.

 Daftar Pustaka :

1. https://rumaysho.com/586-kelemahan-hadits-qtuntutlah-ilmu-sampai-ke-negeri-chinaq.html

2.            https://www.republika.co.id/berita/qmgvvd366/tuntutlah-ilmu-ke-negeri-china-hadits-lemah-atau-shahih

Share:

1 comment:

  1. Saat pertama kali tahu kalau menuntut ilmu juga amalan sempat gak percaya, ternyata memang ilmu itu penting juga apalagi ilmu agama.

    ReplyDelete

BloggerHub

Warung Blogger

KSB

komunitas sahabat blogger

Kumpulan Emak-emak Blogger

Blogger Perempuan

Blogger Perempuan
Powered by Blogger.

About Me

My photo
Ibu dua putra. Penulis lepas/ freelance writer (job review dan artikel/ konten website). Menerima tawaran job review produk/jasa dan menulis konten. Bisa dihubungi di dwi.aprily@gmail.com atau dwi.aprily@yahoo.co.id Twitter @dwiaprily FB : Dwi Aprilytanti Handayani IG: @dwi.aprily

Total Pageviews

Antologi Ramadhan 2015

Best Reviewer "Mommylicious_ID"

Blog Archive

Labels

Translate

Popular Posts

Ning Blogger Surabaya

Ning Blogger Surabaya

Labels

Labels

Blog Archive

Recent Posts

Pages

Theme Support

Need our help to upload or customize this blogger template? Contact me with details about the theme customization you need.