Google+ Followers

Thursday, September 21, 2017

Surya Merekah di 1 Muharram 1439 Hijriah

Hari ini saya tiba-tiba ingin mengabadikan momen matahari terbit dari view lahan kosong perumahan yang berupa semak belukar dan sebagian masih terhampar sebagai sawah. MasyaAllah indah banget. Baru kali ini melihat detik-detik mentari terbit dari tanah lapang. Perlahan menyembul dari berwujud bulatan raksasa berwarna merah, 

lalu menjadi semburat kuning

 hingga akhirnya bersinar putih cerah saat sudah semakin meninggi.

Suasana pagi itu semakin syahdu oleh kepungan kabut pagi di tanah lapang yang tak jauh dari masjid Al Ukhuwwah. Sayup-sayup dari masjid desa seberang suara orang mengaji. Mungkin khataman di 1 Muharram. Tahun lalu di Masjid Al Ukhuwwah juga ada khataman membaca Al Quran memperingati Tahun baru Islam. Entah bada subuh kali ini kok masjidnya sepi, mungkin banyak yang sedang bepergian karena mendekati akhir pekan. Jadi hanya diisi doa bersama bada maghrib.

Iseng banget ya saya kali ini, yang lain mengaji saya malah merekam matahari terbit di akun instagram . Yang bikin baper beberapa kali burung terbang melintas di hadapan saya. Mereka pagi-pagi sudah mengais rezeki, mengisi perutnya dengan bebijian yang terhampar di muka bumi.

Surya merekah di pagi 1 Muharram 1439 Hijriah ini menjadi pengingat diri bahwa rezeki setiap makhluk sudah ditetapkan. Belajar lagi pada burung-burung yang terbang, yang tawakal, berpasrah pada Allah tentang bagaimana mengisi perut lapar dan berhenti sebelum kenyang.

Harapan saya, sebagai insan manusia bisa lebih baik kadar tawakalnya dari burung-burung yang notabene tidak dianugerahi akal pikiran. Dulu saya pernah berpikir : duh bagaimana kelak kalau sudah tak bekerja dan punya gaji, kira-kira keluarga saya masih bisa tercukupi enggak. Sekarang sering mikir : waduh biaya sekolah makin meninggi, bisakah kami menyekolahkan anak-anak hingga lulus pondok pesantren dan ke jenjang lebih tinggi? lalu semakin menua mikirnya: walah ga punya pensiunan bagaimana nanti mencukupi kebutuhan hidup kala sudah tak mampu lagi bekerja mencari nafkah? 

Alamaak kok jarang mikir yang begini: ya Allah kalau aku besok mati muda, lalu bekalku menghadapMu apa? ternyata saya kalah tawakal sama burung-burung yang ceria terbang ke sana kemari. Hijrah yang belum kaffah, itulah saya. 

Berharap mentari tahun baru 1439 Hijriah ini menjadi saksi saya yang berjanji menjadi insan yang lebih baik lagi, lebih sabar alias gak ngomelan, lebih khusyu dalam beribadah, lebih rajin bekerja mencari nafkah. Semoga dana JHT yang saya cairkan tempo hari cukup buat modal usaha kecil-kecilan. Hmm kira-kira usaha apa ya, yang ga perlu bayar pegawai dan sewa tempat. Bisa dilakoni sambil ngekuis atau menulis plus jualan pulsa. Any idea?

Mentari 1 Muharram, sebagai saksi tentang arti dan hikmah "hijrah" Bahwa hijrah bukan sekedar berpindah atau berubah namun berubah menjadi lebih baik di mata Allah. Bahwa hijrah hendaknya istiqomah hingga saat menutup mata. 

Selamat Tahun Baru Islam 1439 Hijriah
Semoga langkah kaki kita semakin mendatangkan barokah
Istiqomah untuk berhijrah 
Menjadi pribadi yang lebih dicintai Allah



3 comments:

  1. selamat tahun baru islam mak, di depok (rumahku) pun merasakan hal yang sama ... pagi ini terasa beda, sejuk tapi enggak dingin mirip suasana mau lebaran di pagi hari

    semoga tahun baru islam ini rezeki lebih baik + pribadi lebih baik, amiiiin

    ReplyDelete
  2. Waaahhh, sang surya cantiiikk bangett!
    Thanks udah nulis beautiful post ini ya mbaaa
    --bukanbocahbiasa(dot)com--

    ReplyDelete
  3. Begitulah mbak, Allah sudah mengatur rejeki masing masing makhluknya. Allah juga mengatur pertemuan mbak Dwi dengan matahari yg indah ini. Saya belum rejeki lihat matahari pertama tahun Hijriyah :(

    ReplyDelete