Google+ Followers

Sunday, September 17, 2017

Sidoarjo Peduli Rohingya

Sabtu 16 September 2017 kemarin saya berkesempatan hadir di aksi #SidoarjoPeduliRohingya. Aksi yang diselenggarakan dari kerja sama berbagai elemen masyarakat : IKADI, FPI, IMM, KOKAM, Salimah, Tapak Suci dan berbagai ormas-ormas Islam di Sidoarjo ini mewakili aspirasi masyarakat Sidoarjo tentang konflik yang terjadi di Rohingya.

Saya sendiri hadir tidak menjadi representasi dari ormas manapun. Sekedar menemani ustadzah yang mewakili Salimah. Aksi kemanusiaan ini diawali dengan sholat ashar berjamaah di Masjid An Nuur, masjid milik Universitas Muhammadiyah Sidoarjo di depan RSUD Sidoarjo lalu dilanjutkan dengan long march ke alun-alun, tepatnya di Monumen Jayandaru.

Saya pernah membaca berbagai ulasan mengenai konflik yang terjadi di Rakhine. Sebagian analis menyatakan bahwa konflik ini bukan sekedar sentimen agama namun terdapat latar belakang politis, sejarah dan ekonomi. Sayangnya, terdapat sentimen agama atau tidak yang terjadi pada etnis Rohingya adalah pembantaian, pelanggaran terhadap Hak Asasi Manusia namun dunia (terutama negara yang sering berkoar-koar tentang HAM) seolah diam saja. 

Kebetulan saja, saya seorang muslim dan berada di tengah aksi kemanusiaan untuk Rohingya. Padahal tanpa melihat sudut pandang agama, yang dialami oleh etnis ini adalah genocide, pembantaian besar-besaran. Di mata saya ini bukan perang, seperti yang biasa negara-negara pembela HAM katakan tentang Palestina - Israel. Jika yang dibantai adalah rakyat sipil, wanita dan anak-anak tanpa ada perlawanan maka - sekali lagi - ini bukan perang melainkan pembumihangusan dan pembantaian. Sekali lagi, ini penilaian saya sebagai orang awam, ibu yang memiliki dua anak.

Masing-masing perwakilan ber-orasi singkat. Isi orasinya tak jauh-jauh dari masalah Rohingya. Sebenarnya saya ingin mendengar sesuatu yang lebih terperinci mengenai konflik yang terjadi di Rakhine ini. Namun tak ada yang saya peroleh dari orasi-orasi singkat. Salah satu yang berorasi (dan mengklaim pernah terbang ke Myanmar untuk menyalurkan bantuan kemanusiaan) menyatakan bahwa pihak militer Myanmar sangat tertutup dan sangat membatasi gerak para relawan kemanusiaan. Mudah-mudahan bantuan-bantuan itu sampai pada tangan pengungsi, seperti yang diniatkan para donatur. Berharap masih banyak yang masih punya hati dan memiliki rasa manusiawi untuk tidak mengambil yang bukan haknya.

Seperti biasa saya mencari-cari hal yang paling menarik selain pokok bahasan utama. Dan saya menemukan bahwa di tengah karut marutnya dunia generasi muda kita karena masalah narkoba, pornografi, tindak kekerasan dan kebrutalan (ala-ala gladiator) masih ada anak-anak yang berbudi pekerti luhur. Setidaknya adik-adik Tapak Suci (dan adik-adik lain yang saya tidak tahu mewakili organisasi mana) menunjukkan itikad baik. Mereka tidak malu memunguti sampah atau menyorongkan karung plastik hitam untuk menerima sampah dari tangan para peserta aksi kali ini. Ya Allah semoga generasi muda Indonesia yang baik-baik bisa lebih banyak lagi. Semoga negeri tercinta ini dijauhkan dari konflik yang terjadi di Myanmar. Dan semoga konflik Rohingya ini segera terselesaikan tanpa memakan korban jiwa lebih besar lagi.


4 comments:

  1. Semoga para pelaku zalim mendapat hukuman yang setimpal

    ReplyDelete
  2. Semoga para korban dihapuskan dosanya dan yang meninggal diterima di sisi Allah SWT

    ReplyDelete
  3. Tabarokallah...
    aku kangen banget ikut ginian. Bolak/balik dpt info temen2 NH tapi aku ga bisa melulu hiks
    --bukanbocahbiasa(dot)com--

    ReplyDelete