Google+ Followers

Wednesday, April 26, 2017

Perlukah Mempersiapkan Tabungan Pendidikan?

Tahun ini insyaAllah anak sulung saya naik kelas ke tingkat dua di pondok pesantrennya. Mohon doa untuk kelancaran studinya ya teman sebab kriteria naik kelas di pondok pesantrennya ini detail banget, ujiannya lisan dan tulisan dan penilaiannya tak semata angka hasil ujian tetapi juga kepribadian. Nah ganti tahun ajaran artinya harus menimbang kembali masalah anggaran pendidikan. Pondok pesantren adalah salah satu lembaga swadaya yang pembiayaannya murni swadaya wali santri dan hasil usaha pondok pesantren (jika ada). Otomatis biaya pendidikan menjadi tanggung jawab wali santri, tidak ada subsidi dari pemerintah. Hmmm (tarik nafas hembuskan...)
Setiap ajaran baru pondok pesantren sama seperti sekolah swasta lainnya, ada biaya daftar ulang. Ditambah beli buku baru dan beberapa peerlengkapan santri yang mungkin perlu diperbaharui. Bagi wali santri yang kemampuan finansialnya di atas rata-rata biaya-biaya tersebut tidaklah menjadi masalah. Tetapi bagi yang kemampuan finasialnya menengah alias pas-pasan seperti kami tentu memerlukan strategi khusus untuk memenuhinya.
Kondisi seperti ini mengingatkan pada Tabungan Pendidikan. Perlukan mempersiapkan Tabungan Pendidikan bagi buah hati kita? Jawabannya relatif sih. Bisa ya atau tidak. Kami sendiri tidak khusus memilih produk bank berupa Tabungan Pendidikan. Kami juga belum berpikir untuk ikut asuransi pendidikan. Namun kami memiliki tabungan yang khusus digunakan sebagai sumber dana utama untuk biaya pendidikan anak-anak. Tabungan tersebut berupa rekening umum, bukan khusus untuk Tabungan Pendidikan. Tetapi kami juga tidak mengambilnya jika tidak digunakan sebagai sarana membiayai pendidikan anak-anak.
Dari pengalaman pribadi bolehkan saya berbagi tips menyisihkan Anggaran Pengeluaran belanja keluarga alias APBK (nggak mau kalah dengan APBN dan APBD) agar bisa memiliki tabungan pendidikan:
1.   Lakukan survey secara berkala terhadap lembaga pendidikan yang kita pilih sebagai tempat anak-anak menuntut ilmu. Kira-kira berapa biaya yang dibutuhkan saat pendaftaran murid baru dan daftar ulang setiap ganti tahun ajaran
Langkah ini kami lakukan saat hendak memasukkan si sulung di pondok pesantren tujuan. Biaya yang ditetapkan pondok tertulis secara rinci di situs resmi namun kami juga harus memperhitungkan biaya transportasi dan akomodasi sehingga bisa memperkirakan berapa rupiah yang dibutuhkan
2.   Siapkan tabungan sejak dini
Menabung khusus untuk pendidikan anak-anak sejak jauh hari membantu kita agar merasa menabung itu “pekerjaan yang ringan”. Ilustrasinya begini. Jika pada Tahun ajaran 2017 memerlukan biaya pendidikan 20 juta rupiah dan proses menabung baru dimulai awal tahun 2016 maka kita harus menabung sebesar 1.250.000 per bulannya agar terkumpul 20 juta rupiah pada bulan ke 18. Namun jika kita menabung sejak dua atau tiga tahun sebelumnya maka nominal menabung setiap bulan tentu lebih ringan. Perhitungan biaya pendidikan perlu memperhitungkan biaya inflasi. Anggaplah biaya pendidikan meningkat 4 persen setiap tahunnya untuk membantu perhitungan berapa uang yang harus disisihkan tiap bulan.
3.   Konsisten
Agar terasa lebih ringan haruslah konsisten dalam menabung. Jika bulan ini menabung sejumlah 500 ribu rupiah dan bulan berikutnya tidak menabung maka dua bulan berikutnya akan terasa lebih berat. Trus jangan bolak balik diambil dah saldonya. Kalau perlu pilih tabungan berjangka, deposito atau tabungan tanpa kartu ATM biar kesusahan kalau mau gesek (emang lampu ajaib Aladdin, digesek trus keluar duit?)
4.   Menabung dari pos penghasilan tambahan
  Penghasilan pas-pasan dan sulit menyisihkan uang untuk tabungan? Kami juga bukan keluarga yang berlebihan secara finansial. Tetapi demi masa depan anak-anak kami cukup rajin mencari penghasilan tambahan untuk ditabung. Mulai dari jual pulsa sampai jual mukena. Lumayan dah untung seribu dua ribu perak atau sepuluh dua puluh ribu dari jual mukena bisa dapat empat ratus ribuan sebulan. (kalau butuh mukena contact saya lah yaw di WA hihihihi)


Teman-teman sendiri sudah menyiapkan Tabungan Pendidikan? yaa...meski nggak khusus berupa rekening Tabungan Pendidikan setidaknya punya tabungan di bank bukan?. Lebih aman nabung di bank deh daripada di lembaga keuangan yang kurang jelas apalagi kalau sekedar disimpan di rumah. Resiko kalau tiba-tiba ada pencurian, musibah kebakaran padahal uang kan ngga diasuransikan. Kalau nabung di bank saldo hingga 2 Milyar kan dijamin Lembaga Penjamin Simpanan alias LPS. Dari kuis #TanyaLPS yang saya ikuti di twitter dan facebook tempo hari pencairan tabungan nasabah jika bank terlikuidas maksimal 5 hari saja, cepat dan gak ribet kan. Menurut PIC yang bertugas di media sosial tabungan nasabah yang terlikuidasi tersebut bisa dicairkan cash tetapi lebih baik jika ditransfer ke simpanan bank yang lain untuk meminimalisir perampokan.
Trus yang simpanannya melebihi 2 Milyar gimana dong? ini pasti horang kayaa....Kalau punya simpanan lebih dari 2 Milyar dan banknya terlikuidasi maka simpanannya akan dikembalikan setelah proses likudasi dan penjualan aset bank selesai. (Kalau gitu mending punya simpanan masing-masing 3 Milyar di 10 rekening bank yang berbeda ya hihihihi)


Teman-teman sudah pada tau kan jenis tabungan dan simpanan yang dijamin LPS? Ini dia jenis tabungannya



Dan ini jenis simpanan yang dijamin LPS


Mau tau lembaga keuangan (baca BANK) yang telah menjadi peserta penjaminan LPS? pastinya ada stiker seperti ini nih di kantornya. Tapi ga perlu khawatir lah. Semua bank yang beroperasi di wilayah hukum Indonesia telah menjadi peserta penjaminan LPS. Jadi sebagai nasabah kita bisa don't worry and stay happy.

No comments:

Post a Comment