Google+ Followers

Thursday, July 14, 2016

Warna-Warni Hidup dalam Kamera Ponselku





Ponsel berkamera sederhana sejuta cerita, itulah ponsel kesayangan saya yang notabene adalah warisan suami. Sebuah ponsel jadul dengan isolasi untuk menahan keypadnya yang telah aus. Suwer saya suka banget ponsel jadul dengan keypad pencet jempol. Untuk mengirim sms lebih mudah daripada smartphone jaman sekarang. Handphone jadul saya sudah nggak diproduksi lagi, yang jual second aja mungkin sudah jarang entah kenapa saya masih sayang.
“Asal bisa nelpon dan sms” itu salah satu alasan saya nggak mudah gonta ganti handphone. Tapi buat saya handphone nggak sekedar nelpon dan sms. Sebagai pecinta fotografi dan suka mengikuti berbagai lomba menulis dan kuis saya membutuhkan ponsel berkamera untuk mengabadikan momen-momen di sekitar. Momen suka duka, peristiwa bahagia penuh gelak tawa hingga saat-saat haru berurai air mata. Momen-momen yang bisa terekam dengan sekali pencet meski untuk menguploadnya di media sosial untuk keperluan lomba blog atau kuis yang membutuhkan foto masih memerlukan kabel data.
Sebuah rekaman kamera mewakili ingatan kita tentang masa lalu. Pedih pilu atau bahagia tiada terkira ada hikmah tersembunyi di baliknya. Kamera berponsel saya mungkin sederhana tetapi menyimpan ribuan cerita. Kisah tentang masa kecil anak-anak saya, ketika si bungsu baru lahir tujuh tahun lalu. Kadang senyum-senyum sendiri melihat foto-foto jadul mereka yang tersimpan rapi dalam memori. Momen saat si bayi tertawa atau tidur bersama sang kakak sambil berpegangan tangan erat. Hikmahnya saya bisa menunjukkan kepada duo bersaudara Rafi dan Raditya untuk tetap kompak, bahu membahu satu sama lain, tetap saling menyemangati dalam suka maupun duka.

Ada juga kisah tentang semangat yang membara. Hikmah dari sebuah kenangan foto rumah kami yang pertama. Rumah yang kami tinggali selama delapan tahun ini menyimpan berbagai kenangan, termasuk ari-ari Raditya yang tertanam di halaman depan. Rumah type 21 dengan lebih tanah ini kami bangun dengan harta, “darah” dan air mata. Tabungan semenjak belum menikah terkuras untuk membangun rumah sederhana ini. Sayangnya lingkungan sekitar memaksa kami untuk berhijrah. Rumah kenangan ini selalu kebanjiran setiap musim hujan dan air laut pasang. Banjirnya pun tak mudah surut. Bisa berhari-hari hingga seminggu kemudian baru surut kembali. Saat banjir terbesar melanda, segala hewan air seperti ular, kepiting bahkan ikan piaraan tambak tetangga desa masuk di dalam rumah yang tergenang air dan hanya menyisakan kamar mandi sebagai satu-satunya tempat dengan lantai tak terendam banjir. Rumah ini juga jauh dari masjid sehingga kurang mendukung rencana kami mengajarkan pondasi agama lebih kuat bagi sang buah hati. Memandang kembali foto rumah ini di handphone jadul saya mengingatkan kembali betapa besar karunia Allah yang memperkenankan kami untuk berhijrah, memberi kami kemampuan untuk membeli rumah di lokasi yang berbeda. Lebih nyaman dihuni dan beberapa langkah saja dari masjid, rumah tempat bernaung kami sejak enam tahun lalu.

Ponsel jadul ini merekam juga peristiwa saat saya menoreh prestasi di bidang kepenulisan. Sebuah kenangan indah ketika dinobatkan sebagai juara II kategori netizen lomba menulis deskripsi di bidang kelalulintasan yang diselenggarakan oleh Satlantas Polres Sidoarjo. Hadiahnya lumayan, lembaran rupiah untuk membayar satu kali cicilan rumah baru hehehe. Sekaligus merajut tali silaturahim karena saya menjalin pertemanan dengan siswi SMA sebagai juara I yang kini telah berkeluarga dan baru melahirkan anak pertama.


Namun ponsel berkamera ini juga merekam duka. Ketika suami saya menderita patah tulang akibat jatuh dari atap rumah dan harus dioperasi dengan dana talangan (yang tak kunjung lunas hingga sekarang). Sebuah momen yang mengingatkan saya kembali bahwa manusia hidup untuk diuji. Ujian bisa berupa kebahagiaan atau duka lara seperti yang saat itu kami alami. Sebuah teguran agar saya lebih menghormati suami, menghargai dan mencintai tanpa melampaui kecintaan saya kepada Illahi



Ponsel jadul ini juga merekam senyum pertama Mama sejak kepergian adik bungsu saya menghadap Illahi tahun 2012 lalu. Senyum Mama di atas kereta, yang menjadi ide blogpost saya di sini

Berjuta peristiwa datang dan pergi. Membuka kembali foto-foto lama sama halnya dengan membuka memori yang tersimpan rapi. Ponsel kenangan ini sejatinya sudah saatnya dipensiunkan. Ia pernah tiba-tiba menderita kerusakan pada LCD. Nah saat itu tukang reparasinya masih bisa menemukan LCD bekas yang bisa ditambal sulam. Bagaimana kalau kelak tak ada spare part pengganti? Jauh di lubuk hati sebenarnya saya ingin mereformasi ponsel ini dengan ASUS Zenfone 2 Laser ZE550KL Berbagai keistimewaannya membuat saya jatuh cinta. 
https://youtu.be/zSWES5qtht8

Mulai dari harganya yang tak terlalu mahal dan masuk akal, spesifikasinya yang penuh keistimewaan dan yang terpenting menunjang kebutuhan saya dalam bekerja sebagai pecinta kuis, penulis lepas dan blogger. Saya bahkan sempat berkompetisi mengulas produknya di sini. Sayangnya saat itu belum rezeki. Mungkin suatu saat nanti tiba waktunya Ponsel yang saya dambakan bisa saya miliki dan setia berada dalam genggaman. 

'Giveaway Aku dan Kamera Ponsel by uniekkaswarganti.com'

6 comments:

  1. kamera ponsel emang sangat berguna buat abadiin momen, bcause ada momen yang gak bakal bisa di ulang dan psti beda momennya klu smpat trulang lgi. After all, ceritanya bgus mbak, tulisannya enak di baca. keep spirit :) salam kenal

    ReplyDelete
  2. kamera ponsel memang simple untuk dibawa kemana2 dan merekam momen indah2 kita y mbak ^_^

    ReplyDelete
  3. betul mba, foto bisa merekam segala momen yg kita miliki baik suka maupun duka, dan pengunaan kamera ponsellah yang lebih praktis

    ReplyDelete
  4. Jangan remehkan kamera jadul. Karena kenangannya sungguh bernyawa :D

    ReplyDelete
  5. Terima kasih sudah ikutan GA Aku dan #KameraPonsel. Good luck.

    ReplyDelete