catatan seorang ibu, wanita, hamba sahaya yang ingin berbagi pikiran dengan dunia

Pengalaman-pengalaman Tak Terlupakan di Negeri di Atas Awan

Masih Berada di Bawah Awan, Dokpri
"Tidak perlu mendaki gunung untuk menjejakkan kaki di atas awan," kata seorang teman. Bagaimana bisa pikirku, kalau mau berada di atas awan berarti harus berada di ketinggian, di dalam pesawat atau di tempat tinggi sekali yaitu gunung. Kalau berada di pesawat memang bisa berada di atas awan tanpa perlu mendaki, tapi kan lumrah, nggak usah dibahas. Nah bagaimana caranya selain naik pesawat dan mendaki gunung bisa berada di atas awan?
"Melancong saja ke negeri di atas awan," lanjutnya. 
Apapula ini, pikiranku langsung melayang ke negerinya Nirmala, tapi kan itu negeri dongeng. Tapi aku tak patah semangat, ternyata negeri di atas awan itu benar-benar bisa ditemui, meski maksudnya mungkin kiasan tetapi menggambarkan bahwa ketika menjejakkan kaki di sana, maka bisa jadi awan berada di bawah kita.
Negeri di atas awan, inilah yang menjadi julukan bagi Dieng, dataran tinggi di Wonosobo, Jawa Tengah.

Sungguh beruntung, bagaikan gayung bersambut. Ketika sedang membayangkan seperti apa negeri di atas awan, suami tercinta mengajak berpetualang ke Dieng pertengahan Oktober lalu. Berbekal tiga hal : sedikit tabungan, mobil pinjaman dan nekad maka berangkatlah kami berempat menempuh perjalanan kurang lebih 10 jam dengan beberapa kali berhenti untuk sarapan dan sholat.

Namun belum sampai tujuan, masih di tengah perjalanan menuju homestay yang sudah dipesan kami sudah menemui pengalaman tak terduga.

 Pungutan liar mengurangi kenyamanan

Di sebuah ruas jalan menuju homestay yang terletak di seberang obyek wisata Pintu Langit dan Taman Langit, tampak antrian mobil berjajar. Seseorang melambaikan karcis di depan tulisan besar ; retribusi 15 ribu/orang.

Apaan nih pikirku, ruas jalan ini jalan utama, bukan jalan atau pintu masuk menuju obyek wisata kok sudah ada retribusi? Tetapi saat giliran mobil pinjaman kami berhenti di depan "oknum" si bapak ini mempersilahkan kami melintas tanpa membayar. Ya udahlah meski penasaran mengapa tidak diperlakukan sama dengan antrian mobil sebelumnya, kami pun melanjutkan perjalanan.

"Oooh mungkin kita nggak dipungut bayaran karena dia melihat topi Polisi Militer di jok depan ini Pa" kata anakku yang membuat kami sadar dan tergelak. Bisa jadi, topi Polisi Militer (PM) milik saudara si pemilik mobil yang dititipkan di jok depan ini menjadi penyelamat kami dari pungli.

Namun di hari yang berbeda, keesokan harinya saat menuju arah obyek wisata Kawah Sikidang ternyata topi PM sudah tidak punya taji, karena kami tetap harus membayar pungli yang bisa ditawar. "Tiap orang 15 ribu tetapi boleh bayar seikhlasnya Pak. jangan lupa nanti di obyek wisatanya bayar karcis masuk lagi" kata si oknum. Karena penawaran tersebut jadilah suami bayar pungli sejumlah 30 ribu. Toh nantinya di obyek wisata masih bayar lagi antara 15-20 ribu per orang. 


Pengen dapat view lautan awan tapi....

Harapan menjejakkan kaki di atas lautan awan selama berada di Dieng tak kunjung kesampaian. Padahal kalau lihat di media sosial sepertinya sering sekali pemandangan ini ditemukan. Ya sudahlah, toh sebagai gantinya kami mendapatkan pemandangan tak terduga yaitu awan mirip topi di puncak Sindoro yang bisa dipandang dari Gardu Pandang Tieng. Oh ya, untuk menikmati pemandangan di Gardu Pandang Tieng ini tidak dipungut biaya. Tetapi kalau ingin berfoto di Taman Langit dan Pintu Langit yang berada di bawahnya barulah membayar 20 ribu/orang di weekend dan 15 ribu per orang/weekdays di masing-masing spot foto.

Gunung Sindoro Bertopi Awan, Dokpri


Kejutan dari pedagang makanan di gardu pandang.
Menikmati udara pagi dan panorama pegunungan yang indah sekali kurang nikmat jika tidak ada yang menemani. Camilan adalah teman yang paling bisa membuat happy. Nah di area gardu pandang ini ada beberapa pedagang yang menjajakan kudapan. Kami sempat mencicipi bakso tusuk. Wow baru kali ini makan bakso dengan kuahnya disajikan dalam gelas setara kemasan AMDK 250 ml. Ide brilian si abang bakso agar nggak capek  cuci mangkok, toh kalau si pembeli ingin menikmati kuah bakso tinggal diminum saja seperti minum air hahaha.
Keesokan hari kami datang lagi ke gardu pandang Tieng. Sayang kan lokasinya hanya beberapa meter di seberang, harus dipuas-puasin sebelum pulang. Kali ini menyempatkan jajan sate ayam. Kirain pedagang di sini penduduk lokal. Kaget nih saat melihat abang sate mengangkat ponselnya yang berdering dan mendengar ia bercakap-cakap dengan bahasa Madura secara lancar "Dekremah, Madureh taah, tetanggaan nih kita," timpal suami yang disambut senyuman lebar si abang sate madura. Luar biasa, di ketinggian 1700 meter, sejauh 700 kilometer-an dari Jawa Timur ternyata sate madura masih berjaya.


Ternyata mie ongklok itu...

Salah satu daya tarik jalan-jalan bersama keluarga adalah wisata kuliner. Jauh-jauh dari Sidoarjo ke Wonosobo pasti rugi dong kalau nggak mencicipi makanan khas daerah sini. Sate madura dan bakso tusuk gardu pandang Tieng belum bisa disebut sebagai kuliner khas Dieng kaan, maka harus mencari makanan yang lain sebagai perbandingan.

Nah, sepanjang perjalanan dibuat penasaran papan : Mie Ongklok Wonosobo. Jadilah malam harinya berkelana ke  pusat keramaian di Titik Nol Dieng buat mencari mie ongklok yang membuatku terheran-heran.

Ternyata mie ongklok tuh mie berkuah ditambah bumbu sate. Pantesan rata-rata di kedai Titik Nol Dieng mie ongklok disajikan satu paket dengan sate sapi/ayam atau kambing. Seporsi mie ongklok - 3 tusuk sate dibandrol 25 ribu rupiah. Dagingnya gede-gede, nggak heran jika makan mie anget dan tiga tusuk sate nih perut sudah kenyang banget.


Pelajaran tentang kejujuran di Candi Arjuna

Di Dieng mau kemana aja? Pilihan obyek wisata di Dieng cukup banyak sih. Tapi suami memilih yang terdekat dengan penginapan. 2 hari 2 malam di Dieng selain ke gardu pandang Tieng dan Pintu Langit di seberang jalan, disempurnakan dengan berkunjung ke Kawah Sikidang dan Candi Arjuna. Di Dieng dikenal sistem tiket terusan. Pengunjung Kawah Si Kidang dikenai HTM 30 ribu per orang dan berlaku tiket terusan ke Candi Arjuna, alias per destinasi wisata (belum termasuk pungli di tengah perjalanan) setiap pengunjung dikenai tiket masuk 15 ribu. 

Meski gerimis yang cukup deras mulai turun, kami memutuskan untuk melanjutkan perjalanan ke Candi Arjuna. "Hujan nih, mending kita pulang aja," kata suami. "Aaah sayang tiketnya hangus dong, lanjut aja, paling sebentar lagi gerimisnya reda" sahutku (maklum emak-emak kan paling merasa sayang kalau ada uang terbuang) Alhamdulillah gerimis yang cukup deras akhirnya mereda saat mobil yang kami tumpangi mulai memasuki area Candi Arjuna. Kebetulan adzan dhuhur terdengar, kami sempatkan sholat di mushola dahulu sebelum berkeliling menikmati pemandangan.

Usai sholat, suami memesan empat mangkok bakso untuk sekadar mengganjal perut yang mulai keroncongan. Cuaca mendung, udara dingin menjadi katalis cepatnya isi mangkok bakso berpindah ke perut-perut yang tak tahan dengan demonstrasi cacing-cacing minta perhatian.

Saya dan suami bergegas menuju pintu masuk. Si kakak dan adik masih tertinggal di belakang. Ketika kami bertemu di pintu masuk, si adik bercerita "Ma, tukang bakso itu tadi nemu HP ketinggalan di mushola" "Terus?" tanyaku penasaran. "Lalu dia menyerahkan ke petugas penjaga di area pengumuman karena tidak ada pengunjung yang mengakui hapenya ketinggalan" sahut di adik menutup cerita.

Alhamduillah. Di zaman edan ternyata masih banyak orang yang memegang teguh kejujuran. Padahal bisa aja salah seorang dari ribuan pengunjung mendatangi abang bakso untuk mengaku sebagai pemilik ponsel atau bahkan si tukang bakso bisa menyimpannya untuk keperluannya sendiri. Tetapi ternyata tidak demikian, semoga saja ponselnya sudah kembali ke tangan si tuan.

Dua hari dua malam di Negeri di Atas Awan rasanya kurang. Meski banyak kenangan tak terlupakan. Mandi dan berwudhu dengan air berasa air es, menikmati teh hangat yang mendadak jadi es teh hanya karena didiamkan, tidur malam harus berselimut dan berjaket kapan lagi bisa kami rasakan. Jika ada kesempatan dan cukup tabungan, rasanya ingin berkunjung kembali kapan-kapan. Berpetualang di Batu Ratapan Angin, Puncak Sikunir, Swiss Van Java dan beberapa tempat lain. Semoga saat Allah kabulkan, pungli-pungli di Dieng sudah ditiadakan.

Artikel ini adalah bagian dari latihan komunitas LFI supported by BRI 
Share:

Ada Apa Dengan Remaja Sekarang?

Membaca koran, membuka media sosial belakangan makin tak nyaman, Berita kriminalitas, kekerasan, kekejian kian meraja lela, sedihnya lagi jika kejahatan-kejahatan itu dilakukan para remaja. 

Masih belum hilang dari ingatan berita-berita kriminalitas tentang anak muda yang tega membunuh orang tua kandungnya karena berbagai alasan, karena memaksa minta dibelikan ponsel baru, karena tidak bosan dinasihati, karena ingin menguasai harta warisan dan berbagai alasan yang membuat mata terbelalak.

Beruntun kemudian berita kriminalitas yang dilakukan anak-anak usia belasan yang kini tidak bisa lagi disebut anak ingusan. Bagaimana mungkin anak ingusan usia 13 tahunan bisa melakukan bullying terhadap teman sekolah hingga berujung kematian. Bagaimana bisa anak usia SMP melakukan tindakan keji memperk*sa teman sekolahnya dan membunuhnya untuk menghilangkan jejak. Sungguh mengerikan jika ada seorang anak remaja sekolah menengah tega menghabisi nyawa teman yang juga bendahara kelas hanya karena sakit hati akibat ditagih iuran.

Faktor Pemicu Kejahatan yang Dilakukan Remaja

Di era 1970 - 1980 an kenakalan remaja "hanya" berkutat dengan tawuran/perkelahian antar remaja, bolos sekolah namun di era tahun 2000-an kenakalan remaja semakin mengerikan karena sudah mengarah ke tindak kejahatan yang semakin mengkhawatirkan karena berujung pada kejahatab seksual dan pembunuhan berencana.

Apa yang memicu kejahatan yang dilakukan remaja? Beberapa faktor berikut ini ditengarai menjadi faktor pemicunya:
1. Dampak negatif globalisasi dan derasnya arus informasi
Internet telah menjadi salah satu kebutuhan pokok di zaman globalisasi. Selain dampak positifnya dalam membantu kemudahan dalam berkomunikasi dan berbagai aktivitas digital, internet juga membawa dampak negatif dengan kemudahan masyarakat mengakses situs pornografi dan situs-situs yang menginspirasi untuk berbuat kejahatan.
Internet dalam Kehidupan, Pixabay

Salah satu yang pernah menjadi korban dampak negatif adalah anak saya. Waktu masih duduk di bangku sekolah dasar dia pernah mengambil uang di dompet tanpa izin hanya karena ingin membeli perlengkapan game online agar bisa naik level. Diamond, skin dan sebagainya yang bisa dibeli dengan mudah di mart-mart dan kios pulsa. Ketika ketahuan saya pun bertindak tegas, menghapus unduhan semua game dari ponselnya serta memotong uang sakunya sebagai ganti uang yang telah diambilnya tanpa izin.
2. Kekosongan peran orang tua
Kebutuhan hidup yang kian melesat menyebabkan orang-orang dewasa yang telah berkeluarga bekerja lebih keras agar tidak jatuh melarat. Hal ini menyebabkan kekosongan peran orang tua dalam mendidik dan membimbing anak-anaknya sehingga menyebabkan kekosongan jiwa. Sebuah dilema, ketika harus memilih antara mencari nafkah dan memastikan kondisi psikologis anak-anak tidak dalam kondisi mengkhawatirkan karena dalam bimbingan dan pengawasan sesuai kebutuhan.
3. Lingkaran pergaulan 
Pergaulan bebas menjadi salah satu faktor penyebab mudahnya anak-anak muda tepengaruh untuk berbuat kejahatan. Ibarat penyakit menular, kejahatan juga bisa terjadi karena pengaruh kejahatan yang dilakukan orang lain.

Penggunaan Internet yang berlebihan dapat menyebabkan konsekuensi negatif seperti masalah psikologis sehingga kehidupan pribadi menjadi terganggu.

Penggunaan Internet berlebihan dapat menyebabkan kurang tidur di kalangan remaja, yang dapat menyebabkan insomnia dan kelemahan fisik. (Ira Nurmala, S.KM., M.PH., PhD dalam artikel Problematic Internet Use)

 

Bagaimana Mencegah Remaja Berbuat Kriminalitas

Fenomena kriminalitas remaja tidak boleh dibiarkan berlarut-larut. Remaja adalah generasi harapan bangsa dan membawa pengaruh bagaimana negeri ini kelak melaju di tengah masyarakat dunia.
Berikut adalah langkah-langkah agar kriminalitas remaja dapat dicegah dan diatasi:
1. Penegakan hukum
Salah satu hal yang menyebabkan kejahatan remaja kian menjadi adalah lemahnya hukum atas kejahatan yang dilakukan anak yang dianggap di bawah umur. Produk hukum ini harus direvisi agar menjadi rambu bagi remaja sehingga muncul rasa takut masuk penjara
2. Pembatasan situs-situs berdampak negatif
Pemerintah harus berupaya lebih keras dalam menangkal situs porno, judi dan game online yang mengarahkan remaja untuk berbuat kejahatan
Waspadai situs berbahaya, Pixabay


3. Pemberdayaan perempuan dan optimalisasi peran ayah
Perlu dipikirkan langkah agar ibu-ibu rumah tangga tetap bisa mencari nafkah tanpa meninggalkan rumah dan bisa memberikan pendidikan dan bimbingan bagi anak-anaknya. Peran ayah harus lebih besar, bukan sekadar mencari nafkah, tetapi ayah juga harus hadir dalam kehidupan anak sebagai role model dan teman berbagi cerita.
4. Pembatasan penggunaan ponsel
Idealnya anak dianggap bijak ketika menggunakan ponsel adalah ketika sudah berusia minimal 14 tahun. Namun di zaman sekarang hal ini sulit diterapkan, sebab menurut pengalaman anak-anak usia sekolah dasar sudah dituntut menggunakan ponsel terutama saat masa belajar daring di kala pandemi. Whats App grup untuk pembagian tugas di kelas juga membutuhkan akses ponsel. Jika penggunaan ponsel pada usia minimum sulit diterapkan, jalan terbaik untuk memantau kesehatan psikologis anak pengguna ponsel adalah dengan menginstall aplikasi yang menautkan akun orang tua dengan si anak. Misalnya Family Link, orang tua akan mendapat pemberitahuan jika si anak mengunduh aplikasi tertentu sehingga dapat memantau apakah aplikasi tersebut berbahaya bagi kejiwaan atau aman untuk perkembangan psikologis.

Penggunaan internet sangat dibutuhkan di zaman serba digital. Tetapi penyaringan terhadap penggunaan internet lebih penting agar masyarakat, terutama generasi muda mampu mengoptimalkan dampak positif dari pemanfaatan internet dan dapat mencegah dampak negatif agar tidak menjadi faktor pemicu terjadinya kriminalitas.

Anak-anak muda adalah aset bagi keluarga, bangsa dan negara. Ibarat tunas yang bertumbuh, jika dalam pertumbuhannya terserang hama dan gagal panen maka kesalahan tidak dapat dibebankan hanya pada bibit yang buruk, tetapi juga bagaimana perlakuan lingkungan sekitar ketika mengiringi pertumbuhannya. 

Artikel ini adalah bagian dari latihan komunitas LFI supported by BRI 
Share:

Balada Pekerja Lepas di Mata Dunia

 "Wah enaknya, saya juga ingin santai, menikmati hidup seperti sampeyan" kata seorang teman saat kujawab pekerjaanku berkutat dari mandangin laptop dan gulir-gulir ponsel.

What?! seribu rasa menggumpal di dada mendengar dia berceloteh sedemikian rupa, itenggorokan hingga lambung terasa seperti sedang menelan nasi setengah panas yang belum dikunyah sempurna.

Pekerjaan di rumah yang berkaitan dengan ponsel dan mengelus keyboard laptop ternyata dipandang bukan sebagai aktivitas menyibukkan. Santai seperti di pantai, begitu kesan yang ditangkap jika mendapatkan jawaban dari pertanyaan tentang bekerja dari rumah sebagai cara mencari nafkah.

Work at Home, Pixabay Olisa655


Saya pribadi sebagai pekerja lepas, serabutan memang kesulitan menjawab pertanyaan : pekerjaanmu apa. Maka jawaban berkutat dengan ponsel dan laptop adalah jawaban yang paling sesuai dengan kenyataan. Pekerjaan yang bisa dilakukan sambil gegoleran, tengkurap, duduk di atas kasur. Rupanya pekerjaan seperti ini dianggap sebagai pekerjaan tersantai di dunia. 

Sebenarnya apa sih pekerjaan saya? Sebagai pekerja lepas serabutan saya terkadang menerima tawaran menulis artikel untuk pengisi blog atau website tertentu. Saya juga mengerjakan survey online sebagai panelis dengan imbalan poin di setiap panel yang bisa dikonversi menjadi saldo paypal atau saldo dompet digital. Berkaitan dengan aktivitas sebagai panelis survey online, agar tidak ketinggalan dan keduluan panelis lain maka saya memang harus sering login ke berbagai panel, melebihi frekuensi anjuran minum obat resep dokter dalam sehari.

Tidak jarang saya juga terjun ke dunia pendengung dan konten kreator yang memperkenalkan produk atau jasa tertentu, melakukan promo terselubung menggunakan kata kunci atau hashtag tertentu di media sosial. Pekerjaan-pekerjaan tanpa terikat jadwal harian terkesan santai dan remeh padahal jika ditekuni dengan serius hasilnya perbulan bisa melampaui UMR Surabaya. Tentu ini bukan penghasilan saya, tetapi beberapa teman saya mengakui meraih hasil sebesar itu, bahkan ada yang meraup penghasilan hingga dua kali UMR Jakarta per bulan.

Pekerja-pekerja lepas di bidang konten kreator tidak perlu melakukan absensi sidik jari atau terikat dengan jam kerja eight to five, tetapi tidak jarang harus bersiap dengan tawaran job mendadak yang mengharuskan melek semalaman tak beda dengan petugas keamanan di pos satpam karena dikejar deadline.

Enak banget ya jadi pekerja lepas

Kalau ditanya enak nggak enaknya bekerja serabutan tentu semua pekerjaan ada hal yang menyenangkan, ada yang membuat kurang nyaman, seperti minum obat bersalut gula, ada bagian manis dan pahitnya.

Enaknya bekerja sebagai pekerja lepas itu...jam kerjanya bebas. Apalagi jika deadline pekerjaan masih lama, pekerjaan bisa dikerjakan di waktu senggang tanpa terburu-buru. Waktu kerja yang fleksibel menjadi modal untuk menggali kreativitas di bidang lain agar kemampuan bisa lebih meningkat. Tentang penghasilan? jangan lupa, kekayaan pekerja lepas non formal di bidang konten kreator dunia digital yang sudah punya nama seperti Atta Halilintar bisa membuat Dirjen Pajak membelalakkann mata dan buru-buru mengirim surat elektronik menanyakan kewajiban bayar pajaknya.

Nggak enaknya jadi pekerja lepas yang masih terikat dengan kontrak dengan klien posisinya mirip dengan pekerja kantoran dengan atasan. Keinginan klien harus dipenuhi, bahkan jika harus revisi berpuluh-puluh kali. Lebih nggak enak lagi jika dikejar tenggat waktu padahal kondisi tubuh sedang tidak memungkinkan karena seluruh badan sedang menderita seperti usai dihajar pentungan.

Bagaimana tips mengelola keuangan bagi pekerja lepas yang tidak menerima gaji bulanan?

Para pekerja lepas yang penghasilannya juga bebas harus lebih bijak dalam mengelola keuangan. Tak ubahnya seperti pekerja informal tukang becak, abang ojek atau pedagang kaki lima, bijak mengelola keuangan adalah kunci stabilnya kondisi finansial pribadi dan rumah tangga. Jika tawaran pekerjaan sedang mengalir tiada henti dan berimbas kepada penghasilan yang turun bagai hujan deras maka sebaiknya air ditampung di berbagai bejana, bukan dihabiskan untuk berfoya-foya. Simpan sebagian uang dalam bentuk investasi yang sebagian bisa dicairkan sewaktu-waktu seperti perhiasan, rekening tabungan dan simpan sebagian lagi untuk investasi jangka panjang untuk persiapan masa depan seperti reksadana, properti kecil-kecilan atau logam mulia. Tentunya uang yang disimpan adalah uang bebas, artinya uang sisa setelah semua kebutuhan pokok keluarga terpenuhi seperti aliran air irigasi pertanian yang sebagian ditampung di dalam bendungan.

Jadi lebih enak mana sebagai pekerja kantoran eight to five bergaji bulanan atau pekerja lepas yang jam kerjanya fleksibel dengan fluktuasi pendapatan? 

Artikel ini adalah bagian dari latihan komunitas LFI supported by BRI 

Share:

Momen Tak Terlupakan di Resto Alas PPLH Seloliman

Akhir pekan, liburan pengennya jalan-jalan, cuci mata menikmati waktu berkumpul dan bercengkrama bersama keluarga. Kata orang, tamasya itu penting demi menjaga kewarasan jiwa. Tetapi jika terbentur anggaran, bisa-bisa sepulang memaksakan healing malah "sakit jiwa' atau minimal pusing tujuh keliling.

Maka, buat kaum mendang-mending seperti saya dan keluarga, menentukan tujuan gathering adalah hal penting. Bagaimana caranya bisa kumpul, makan enak bareng-bareng sambil menikmati bentang alam yang elok menawan tanpa porah anggaran.

Sesekali boleh dong kaum medium menikmati makan di luar rumah type 36 yang kadang terasa sempit bagi kami berempat yang bermassa badan jauh di atas 36 kilogram. Oh ya, langsung teringat ketika tempo hari saat kami berempat berdarmawisata naik motor ke Petilasan Jolotundo di Mojokerto melewati PPLH Seloliman yang konon merupakan tempat eduwisata sekaligus menawarkan restoran dan penginapan. 

Sajian di Resto Alas PPLH Seloliman, Dokpri

Sip! Inilah pilihan tepat, sebab selain lokasinya bisa dijangkau dengan naik dua motor berempat. udaranya tentu lebih sejuk dan lansekapnya pasti menawan karena berada di jalur menuju arah Gunung Penanggungan. 

Tapi, karena waktu liburnya pas tanggal 17 Agustus, harus memastikan terlebih dulu apakah PPLH dan restonya buka atau libur? Setelah mendapat kepastian melalui nomor telepon CP yang tertera di akun instagramnya bahwa PPLH Seloliman tetap menerima pengunjung di tanggal merah 17 Agustus barulah kami berangkat pagi-pagi di saat upacara bendera di lapangan dekat rumah belum dimulai.

Sekitar satu jam perjalanan, sampailah kami di PPLH Seloliman di Dusun Biting RT 05/RW03 Seloliman, Trawas. Udara sejuk menerpa wajah, rimbun pepohonan memanjakan mata sejauh mana memandang. Di dekat  lahan parkir terdapat denah sehingga kami bisa langsung menuju restoran. Resto Alas, demikian nama tempat makan di PPLH Seloliman. 

Naik tangga ke ruang makan utama Resto Alas, Dokpri

Wah ternyata kami tiba saat upacara bendera masih berlangsung. Salut! meski jumlah karyawannya tidak kolosal tetapi upacara memperingati Hari Kemerdekaan tetap diadakan dengan khidmat. Jadilah kami duduk menikmati suasana tanpa ada yang menyambut dan belum ada pengunjung yang datang. Tapi justru dalam kesunyian  seperti ini kami bisa puas memandang, mengabadikan panorama alam yang sangat menawan. Sungai kecil yang mengalir riang, pohon-pohon besar, rindang yang menyejukkan, samar kabut menyelimuti Gunung Penanggungan dan ciak burung bersahutan berkicau riang membuat kami membunuh waktu tanpa merasa jemu.

Pemandangan dari Ruang makan utama Resto Alas PPLH Seloliman. Dokpri

Setelah sekitar 15 menit puas menikmati pemandangan, upacara bendera usai dan salah seorang karyawan menyambut kami sembari mengangsurkan daftar menu "Selamat datang di Resto Alas, maaf menunggu lama usai upacara, monggo pilih menu yang mana" sapa beliau dengan ramah, sopan disertai seulas senyuman.

Pilihan suami jatuh Paket B seharga 174 ribu rupiah dengan menu : gurami bakar, tempe goreng, urap-urap, buah, nasi sebakul untuk 4 orang dan es teh 4 porsi. Buat saya menu ini sudah lebih dari cukup, apalagi nasi sebakul yang katanya untuk berempat itu porsinya jumbo, untuk empat raksasa karena tetap masih bersisa meski anak-anak sudah nambah. Buat lauk ekstra mereka masih nambah telur dadar Alas. Tak lupa es jeruk serta tempe mendoan dan pisang goreng keju sebagai camilan. Waah sungguh mengugah selera, mari makan tapi jangan lupa berdoa.




Daya tarik Resto Alas PPLH Seloliman bukan hanya suasana yang menonjolkan bentang alamnya. Menu yang disajikan juga istimewa sebab semua bahan mentahnya baik sayuran maupun lauk merupakan hasil budidaya PPLH Seloliman, dan dimasak serta disajikan menggunakan bumbu dasar alami tanpa penyedap rasa. 

Cita rasanya gimana dong memasak hanya dengan bumbu dasar? Enak dan asyik aja kok. Gurami bakar kecapnya sedap, bumbunya meresap sampai ke daging ikan. Memasak ikan bakar bukan hal mudah, kalau nggak piawai bisa-bisa bagian luarnya gosong tapi di dalam masih mentah. Nah gurami bakar di Resto Alas ini baik bumbu maupun tingkat kematangannya pas, cocok dinikmati dengan urap-urap yang bumbu dan parutan kelapanya meruap.

Paket Hemat di Resto Alas yang ramah di kantong, Dokpri

Sampai kami selesai makan hanya ada dua pengunjung yang datang dan memilih tempat agak jauh dari meja kami. Petugas yang ramah tadi datang lagi sambil menanyakan apakah kami butuh sesuatu, sambil mempersilahkan untuk menikmati pemandangan di bagian atap resto yang digunakan sebagai tempat makan lesehan. Sebab suasanya lengang, tawaran tidak kami sia-siakan. Wow, panoramanya makin cantik di tempat lesehan. Begitu lengangnya suasana, nggak cuma lesehan tapi kami bisa leyehan alias tidur-tiduran di saung beralas kayu dan berhiaskan jerami di atap yang disediakan untuk tempat bersantap.  

Santai yuuk, Dokpri

Dari tempat makan lesehan lansekap Gunung Penanggungan terlihat lebih jelas. Beberapa bangunan mungil yang disewakan sebagai tempat penginapan tampak terawat dengan baik, dikelilingi taman yang cantik. Meski berjam-jam duduk di sini tanpa memesan menu lagi kami tidak diusir atau diganggu sedikitpun.

Pemadangan di tempat lesehan, Dokpri


Meski kerasan karena merasa nyaman, toh kami juga harus pulang sebab selain pagar rumah tidak digembok, kalau harus menyewa rumah penginapan di PPLH Seloliman otomatis dananya harus nombok.

Bercengkrama bersama keluarga di hari libur merupakan momen istimewa. Apalagi jika diselingi dengan menikmati sajian menu organik dan dimanjakan oleh panorama nan cantik. Begitu cantiknya sampai waktu terlalu berharga detik demi detik, jadilah bahan konten yang ciamik.


Pengen makan enak sekaligus menikmati suasana yang nyaman tapi anggaran pas-pasan. Jangan sedih kawan, bisa cari tempat makan di pedesaaan yang bisa dijangkau tanpa kesulitan. Jadi kapan nih kalian mampir ke Resto Alas PPLH Seloliman? 


Berkibarlah benderaku, Dokpri


Artikel ini adalah bagian dari latihan komunitas LFI supported by BRI
Share:

Yang Lebih Keramat dari Surat Wasiat

Suatu pagi, saya sibuk buka tutup laci, mencari-cari, berharap ada terselip beberapa lembar kertas coklat bergambar Tuanku Imam Bonjol untuk mengisi kotak infaq masjid terdekat. Lalu tiba-tiba menemukan selembar surat yang membuat hatiku menghangat. Surat tulisan almarhumah mamaku yang telah wafat. Surat yang berkesan meski bukan surat wasiat. 

Surat singkat lebih keramat dari surat wasiat, Dokpri


Ingatanku melayang pada sosok ibu yang tegas pendirian dan tidak larut dengan perkembangan zaman. Bayangkan, di zaman serba digital, komunikasi bisa melalui WhatsApp call menggunakan ponsel Android, mamaku kukuh tidak mau beralih dari ponsel biasa yang hanya bisa digunakan untuk menelepon dan mengirim SMS.

"Opomaneh hape android iku? ndadak ndudul ndudul, drijiku gede-gede kii, eealah njur tuku pulsa gawe internet? gak cukup sepuluh ewu, wegah aku" (= Apalagi hape Android itu? harus pencet-pecet, jemariku besar-besar nih, Ealah terus harus beli pulsa buat internet? Gak cukup sepuluh ribu, Aku ogah"

Mama tinggal sendiri di sebuah kota kecil, kira-kira 2,5 jam perjalanan dari rumahku. Beliau tidak berkenan tinggal di rumah anak-anaknya karena merasa tidak bisa meninggalkan rumah kenangan bersama almarhum papa dan almarhumah adik bungsuku. Jadilah komunikasi dengan mama melalui telepon, SMS dan saya yang mengunjungi beliau satu atau dua bulan sekali karena kakak tinggal di kota yang lebih jauh dan adik lelakiku tinggal di luar pulau sehingga mereka tidak bisa sering-sering pulang ke kampung halaman.

Ada cerita khusus di balik surat mama. Surat ini dikirim bersama paket berisi tas kecil lengkap dengan sabun cair, pasta gigi dan sikat gigi saya dan anak bungsu yang tertinggal di kamar mandi karena buru-buru khawatir tertinggal bus patas terakhir menuju kota tempat kami tinggal.

Elhadalah, padahal kan bulan depannya saya pasti datang lagi. Di rumah juga ada sabun, sikat gigi dan pasta gigi, karena yang di tas kecil itu khusus perlengkapan bepergian. Daan, untuk mengirimkan paket ini mama harus mengeluarkan uang ekstra, ongkos minta tolong tetangga plus biaya kurir yang kalau ditotal jauh lebih mahal daripada isi paketnya. Tapi ya itulah seorang ibu. Sosok yang selalu mengkhawatirkan anak-anaknya, hingga tak memperhitungkan biaya-biaya.

DI hari-hari ulang tahun anak-anakku, mama juga selalu mengirim paket berisi makanan ringan sebagai hadiah, disertai surat pendek ucapan selamat dan sekadar berkabar "tanganku sudah tidak kuat menulis panjang, tulisanku juga makin jelek seperti cakar ayam" ujar beliau suatu ketika.

Membaca kembali surat mama membuat saya tersenyum sekaligus terharu. "mama kirimkan kabin Hatari karena gigi mama sudah tidak kuat" Terkadang beliau dikirimi kakak berbagai kue, termasuk kue kabin. Berhubung gigi beliau sudah tidak kuat mengunyah makanan keras maka dikirimkanlah kue itu ke rumahku. Bayangkan si kue berkeliling dari kota ke kota.  Suatu pelajaran yang kudapatkan, bahwa Mama berusaha untuk selalu menghargai pemberian dan memastikan tidak mubadzir apabila beliau tidak bisa memanfaatkan pemberian karena keadaan.

Mama juga menuliskan permohonan maaf apabila ada salah disertai doa semoga puasa kami diterima. Karena kebetulan saat itu menjelang bulan puasa dan saya pulang dalam rangka 'nyadran' yaitu tradisi berziarah ke makam papa dan adik bungsu menjelang Ramadan. Hati siapa yang tidak tersentuh, jarang ada orang yang lebih tua berkenan memohon maaf duluan, biasanya yang muda yang sowan dan memohon maaf jika ada kesalahan. Tapi Mama tidak demikian. atau mungkinkah beliau sudah memiliki firasat akan segera dijemput kematian, sehingga tidak lupa untuk meminta maaf agar tidak menyesal di alam keabadian? Sebuah pelajaran lagi kudapatkan, agar selalu berhati-hati dalam berkata-kata dan bertindak, berupaya tidak menyakiti orang lain dan tak ragu untuk meminta maaf sebab kematian adalah hal yang pasti meski datangnya tidak bisa diprediksi.

Surat singkat yang membuat hati dan mataku menghangat ini terasa lebih berharga daripada surat wasiat. Sebab saya baru sadar, ini surat terakhir yang beliau tulis sebelum meninggal. Ini paket terakhir karena setelahnya saya tidak lagi menerima kiriman apapun dari beliau. 

Kenangan Foto Terakhir, sebelum berpamitan. Dokpri


Beberapa bulan kemudian terjadi pandemi corona sehingga membuat saya tidak bisa leluasa berkunjung karena blokade dan pembatasan di berbagai wilayah. Sekalinya berkunjung dengan pinjam mobil tetangga, eh baru saja duduk sudah didatangi pak RT, diinterogasi macam-macam. Sehingga kami sekeluarga pun akhirnya pulang kembali ke rumah karena merasa tak nyaman dicurigai.

Pertemuan singkat itupun menjadi pertemuan tatap muka terakhir dengan Mama. Sekitar enam bulan kemudian, ba'da subuh saya menerima telepon dari tetangga yang bertugas merawat beliau di rumah, mengabarkan bahwa Mama ditemukan pingsan dan sudah dibawa ke rumah sakit. Tepat setelah tujuh hari saya menemani beliau di rumah sakit dalam kondisi tidak sadarkan diri, beliau pergi tanpa sempat berpamitan, hanya talqin di telinga beliau tiada henti kulantunkan hingga tarikan nafas terakhir yang dengan lembut beliau lepaskan. Momen yang meninggalkan ceruk menganga di relung hati dan kenangan yang akan selalu membekas hingga nanti.

Artikel ini adalah bagian dari latihan komunitas LFI supported by BRI


Share:

Lomba-Lomba Agustusan yang Meresahkan

Bulan Agustus segera berhenti bergulir. Kemeriahan perayaan Agustusan pun berangsur berakhir. Beragam cara merayakan kemerdekaan Indonesia, dengan carnaval, pentas seni, malam tasyakuran dan berbagai lomba. Sah-sah aja memeriahkan kemerdekaan, meski tidak turut memperjuangkan. Bukankah merayakan, memperingati sesuatu adalah bentuk rasa syukur atas karunia yang telah diterima? Namun tidak bisa dipungkiri jika di beberapa tempat masih ditemui lomba-lomba meresahkan meski tujuannya memperingati hari kemerdekaan.

Video lomba-lomba konyol yang diklaim sebagai "lomba Agustusan" berseliweran di media sosial. Perlombaan yang tak memiliki esensi peringatan kemerdekaan bahkan tak jarang menyerempet hal-hal yang tak pantas ditinjau dari norma kesusilaan. Sebut saja lomba estafet terong dengan cara mengempit di antara sela paha, lomba mengulum terong berlapis coklat bahkan lomba konyol seperti sepakbola bapak berdaster itupun rasanya tak layak dikatakan sebagai bentuk perayaan kemerdekaan. Dimana esensi menghormati jasa para pahlawan yang telah memperjuangkan kemerdekaan dengan mengorbankan segala yang mereka punya? berkorban harta, keluarga bahkan juga nyawa.

"Aah kan ini lomba buat seru-seruan agar meriah" mengapa tidak mengadakan lomba seru dan meriah sekaligus juga mengedukasi seperti misalnya lomba estafet lagu-lagu nasional/lagu perjuangan. lomba tebak nama pahlawan atau lomba cerdas cermat bermateri sejarah perjuangan yang bisa diadakan di sekolah-sekolah. Daripada lomba estafet terong dengan mengempit yang diadakan di sekolah siswa menengah.

Lomba-lomba yang edukatif tak kalah seru dibandingkan lomba yang sekadar lucu. Manfaatnya pun lebih nyata. Anak-anak muda lebih mengenal para pahlawannya, jiwa nasionalisme yang mulai terkikis oleh pengaruh kebudayaan mancanegara bisa muncul kembali karena mendengar dan menghafal lagu-lagu perjuangan. Sedih nggak sih jika anak muda zaman sekarang lebih hafal lirik lagu We Can't be Friends, Cruel Summer atau Foolish dibandingkan Garuda Pancasila? Salah satu cara agar lagu-lagu perjuangan itu tidak lenyap ditelan masa adalah dengan mengadakan lomba. Bisa berupa lomba karaoke atau estafet lirik lagu atau tebak lirik/ sambung syair lagu sehingga bisa diikuti perseorangan atau kelompok.

Yakin deh, lomba yang memperdengarkan lagu perjuangan akan menimbulkan suasana haru sekaligus membuat suasana kian meriah. Hati siapa yang tidak tergetar ketika mendengar dan menyanyikan lirik lagu Indonesia Pusaka karya Ismail Marzuki:

Indonesia tanah air beta

Indonesia sejak dulu kala

Tetap dipuja-puja bangsa

Di sana tempat lahir beta

Dibuai dibesarkan bunda

Tempat berlindung di hari tua

Tempat akhir menutup mata

Di sisi lain, jika dalih mengadakan lomba model estafet untuk membentuk tim yang solid, timwork agar tumbuh rasa solidaritas dan kekompakan mengapa tidak memilih lomba yang melatih fisik sekaligus konsentrasi seperti lomba estafet memasukkan bendera merah putih ke dalam botol?

Masih banyak cara memperingati kemerdekaan yang layak digaungkan seperti misalnya mengadakan bazaar UMKM saat acara gerak jalan sehat dalam rangka memperingati kemerdekaan. Acara seperti ini membantu menggiatkan perekonomian menengah ke bawah yang belakangan kian terengah-engah.

Bazaar saat gerak jalan sehat di perumahan, Dokpri

Andai para pejuang yang telah gugur menyaksikan Indonesia dari alam sana, bisa jadi mereka merasa lega melihat sepak terjang pejuang ekonomi dalam menghidupi keluarga, dibandingkan menyaksikan lomba-lomba konyol, "saru" yang bertujuan memancing tertawa tetapi tidak pada tempatnya.

Jika ingin memperingati kemerdekan dengan meriah melalui parade dan karnaval, mari merayakannya dalam kewajaran. Karnaval dengan kostum unik dan heroik masih dalam batas kelayakan untuk memeriahkan kemerdekaan, tapi tolong tinggalkan karnaval mengenakan kostum aneh-aneh seperti kostum setan dan transgender buat lucu-lucuan serta rasanya tak perlu disertai sound system yang memekakkan.

Lomba Kostum unik di perumahan, Dokpri

Mari merenung sejenak, mengendapkan kembali makna merayakan hari kemerdekaan. Sebagai perbandingan, Malaysia merayakan hari kemerdekaan dalam batas kewajaran seperti parade musik dan pertemuan akbar antar golongan. Rakyat Vietnam merayakan hari kemerdekaannya dengan berbagai lomba kesenian bertema hari kebangsaan. Filipina merayakan kemerdekaan dengan pemutaran film bertema perjuangan secara gratis, lomba lari halang rintang, lomba memasak dan parade menampilkan kostum para pejuang. Tentunya Indonesia yang kaya budaya dan sumber daya harus lebih inspiratif dalam merayakan kemerdekaan yang telah ditebus dengan jutaan nyawa para pejuang dan penduduk sipil dalam berbagai perang melawan penjajah selama tiga setengah abad dan tiga setengah tahun lamanya. Ingat, perjuangan mereka ditebus dengan darah dan air mata, bukan dengan tertawa-tawa karena berhasil menjadi juara estafet terong dikempit paha.

Artikel ini adalah bagian dari latihan komunitas LFI supported by BRI


Share:

Pilihan Investasi Saat Dolar Melemah

Pagi ini, 26 Agustus 2024 pukul 09.43 nilai tukar dolar terhadap rupiah kian melemah. 1 USD setara dengan Rp. 15.353,-Dibandingkan dengan nilai tukar dolar terhadap rupiah sebulan lalu, yaitu 26 Juli 2024 terjadi penurunan hingga seribu rupiah per 1 USD. Pada tanggal 22 Juni 2024 bahkan nilai tukar dolar mencapai Rp. 16.450,- Meski bukan pialang saham atau bursa efek dan makelar uang asing, saya terbiasa memantau nilai tukar dolar amerika terhadap rupiah karena terkait dengan fee hasil pekerjaan saya dari berbagai panel survey online dalam bentuk saldo dolar di akun Paypal.

Sekadar info, saya bekerja di rumah sebagai freelancer. Pekerjaan sambilan apa saja dikerjakan. Terkadang menulis artikel pesanan untuk website, troopers atau buzzer untuk mengangkat image produk atau jasa agar dikenal masyarakat hingga mengerjakan survey online dengan imbalan poin yang bisa ditukar ke berbagai pilihan, salah satunya saldo paypal yang biasa dikonversikan dalam bentuk USD untuk kemudian saya konversikan ke rupiah agar bisa ditarik di rekening bank dalam bentuk rupiah. 

Investasi Saat Dolar Melemah, Pixabay


Beberapa panel survey yang menjadi sumber pundi dolar saya antara lain :

Primeopinion dan Surveyon

Prime bisa ditarik dengan minimal penarikan 5 USD (setara dengan 500 poin0, tapi pastikan sebelumnya untuk memilih hadiah selamat datang paling rendah yaitu 500 poin bagi pengguna pertama (setelah mencapai minimal 1000 poin). Sebab jika memilih hadiah pengguna berupa 2000 poin maka dipastikan akan lebih butuh waktu untuk mencairkan dolar sebab minimal penarikan WDnya mengikuti pilihan hadiah selamat datang

Surveyon, cukup mengumpulkan poin 10.000 untuk ditukar dengan 1 USD yang masuk ke rekening paypal dalam waktu kurang dari 24 jam.

Sebagai freelancer tentu harus cermat mengelola keuangan. Tidak semua hasil pekerjaan dibelanjakan, namun sebagian saya pilih menginvestasikan.

Saat dolar melemah seperti dua pekan belakangan, pemilik uang kecil-kecilan sebaiknya lebih berhati-hati memilih investasi. Bagi yang bermodal besar mungkin investasi membeli dolar dalam jumlah besar untuk disimpan dalam rekening adalah tindakan spekulatif yang bisa dipertimbangkan.

Bagi saya langkah awal menyikapi melemahnya USD adalah dengan menahan diri agar tidak mencairkan saldo paypal ke dalam rekening rupiah. Bayangkan saja, sebulan lalu saat nilai pasaran tukar dolar menguat yaitu 1 USD setara dengan Rp. 16.300, di Paypal masih dipotong 500 perak, yaitu 1 USD sekitar Rp.15.700 -Rp 15.800. Jadi bukan karena saya tidak punya jiwa nasionalis jika mencairkan saldo Paypal menanti saat yang tepat, yaitu ketika nilai tukarnya lebih menguntungkan.

Jadi, investasi apa yang paling sesuai saat dolar melemah? Beberapa pilihan ini mungkin bisa menjadi bahan pertimbangan:

1. Obligasi (SUKUK)

Salah satu instrumen investasi yang cenderung aman dan tidak terpengaruh fluktuasi nilai tukar uang adalah obligasi atau SUN alias Surat Utang Negara atau SUKUK Ritel (surat utang negara berbasik syariah) Menurut website investor.id, diprediksi mencapai 7% per tahun untuk tenor 10 tahun.

Di zaman serba digital untuk berinvestasi tidak terlalu sulit karena bisa dilakukan melalui telepon seluler. Misalnya memanfaatkan BRImo untuk pembelian investasi SBN

2. Reksadana

Saya berinvestasi reksadana sejak lima tahun lalu. Instrumen investasi ini bisa diterapkan sesuai kemampuan menganalisa pasar karena pilihan investasinya yang beragam. Bagi yang sangat memahami seluk beluk perdagangan saham bisa memilih reksadana saham atau campuran. Untuk yang lebih memilih aman dengan resiko menengah biasanya memilih reksadana pendapatan tetap. Dan bagi investor konservatif dengan resiko paling rendah, maka reksadana pasar uang adalah pilihan paling tepat. Saat ini saya memilih menginvestasikan sebagian tabungan di reksadana pasar uang. Rata-rata keuntungan yang diperoleh per bulan tidak terlalu besar, yaitu sekitar 0.37% - 0.40% setiap bulan dari total uang tersimpan. 

Sedikit Simpanan di Reksadana, Dokpri


3. Membeli saham domestik yang memiliki daerah operasional besar/internasional

Bagi yang sudah jago mengamati pergerakan saham, saat dolar melemah mungkin bisa membeli saham perusahaan mana saja yang bisa diharapkan memberikan keuntungan pada beberapa bulan yang akan datang. 

4. Membeli/menyimpan mata uang asing selain USD

Investor yang biasa bermain di valuta asing mungkin akan memilih menyimpan mata uang asing selain USD yang dianggap bisa menjadi alternatif simpanan untuk masa depan. Misalnya Euro yang dianggap cukup stabil dan nilai tukarnya menguntungkan.

5. Berinvestasi di perusahaan ekspor

Saat dolar melemah, perusahaan ekspor biasanya akan mendapat keuntungan lebih besar dan produknya akan lebih murah di pasaran luar negeri seiring dengan melemahnya USD.

Kira-kira investasi mana yang akan menjadi pilihan anda saat dolar melemah?

Artikel ini adalah bagian dari latihan komunitas LFI supported by BRI



Share:

Berwisata Ke Sumber Gempong

Bulan Juni 2024 lalu, jamaah pengajian MT Maratus shalihah berkesempatan rihlah alias jalan-jalan ke Sumber Gempong, Trawas. Acara rihlah yang menjadi salah satu agenda rutin MT. Maratus Shalihah ini diadakan dengan tujuan untuk mempererat tali silaturahim antar anggota.

Apa istimewanya Sumber Gempong dipilih panitia sebagai tujuan rihlah? Pertama, mungkin karena tiket masuknya yang murah yaitu hanya 5 ribu rupiah. Kedua, tersedia wahana bermain yang cukup beragam dengan tiket mulai 10 ribu hingga 30 ribu rupiah. Ketiga, suasananya yang cukup mendukung untuk menyegarkan mata dan jalan-jalan bersama keluarga/rombongan.


Acara rihlah diawali dengan doa bersama dari titik keberangkatan di Masjid Al Ukhuwwah Sukodono. Sesampai di tujuan dan sarapan nasi bungkus murah meriah yang dibagikan panitia, acara dibuka dengan sambutan Ustadzah Lina dan dilanjutkan dengan tausiyah Ustadz Ahmad Habibul Muiz.

Rihlah kemudian dimeriahkan dengan game ibu-ibu majelis. Ditutup dengan acara berfoto bersama . Kemudian dilanjutkan sholat dhuhur berjamaah, makan bersama dan diakhiri dengan acara bebas, menjelajah wahana bermaian yang ada.



 


Share:

Syarat Sahnya Ijab Qabul Pernikahan

 Kajian Fiqih Sumnah

Syarat sahnya ijab qabul

1. Diakadkan oleh pihak yang sudah baligh 

2. ijab Qabul itu pada satu waktu yang tidak dipisahkan oleh suatu aktivitas 

3. tidak boleh Qabul menjawab ijab kecuali dengan yang semisal atau lebih.

misal : saya nikahkan si A dengan 200 juta, dijawab saya terima nikahnya dengan mahar 1 juta maka ini tidak sah karena bedanya jauh sekali 



4. harus dipahami ucapan itu oleh kedua pihak sehingga tidak ada tafsir lain 

maksudnya memakai bahasa yang sama-2 dipahami. Sunnahnya pakai pakai Bahaaa Arab. jika bisu atau suara habis maka boleh pakai bahasa tertulis. Bagi tuna rungu juga boleh pakai bahasa isyarat yang dipahami oleh kedua belah pihak.

Tidak boleh mengandung kalimat multitafsir. Yang penting adalah akad "saya terima nikahnya.." tidak diganti dengan kalimat multitafsir seperti misal saya terima hadiah. Atau saat wali pihak perempuan menyerahkan mempelai  wanita mengucapkan akadnya bukan "saya nikahkan. " tapi menghibahkan 

5. jika mempelai pria tidak bisa hadir di waktu akad yang sudah ditetapkan (karena sakit, tugas dll ) maka boleh mengutus wakil atas nama calon mempelai pria.

menggunakan video call saat akad diperbolehkan dengan catatan darurat bukan untuk 'mengambil gampangnya" tetapi harus dipastikan bukan penipuan.

Share:

Pendidikan Kehidupan

 Tahun  ajaran telah dimulai. Kesibukan hari-hari sekolah bergulir kembali.

Buat apa sih kita sekolah? buat menuntut ilmu, mendapatkan pengetahuan atau mempersiapkan diri menempuh kehidupan? Bagi saya semua jawaban itu benar. Meski menuntut ilmu tidak selalu harus di bangku sekolah formal. Meski pengetahuan bisa diperoleh dari buku, podcast, video, konten dan berbagai macam sumber. Muaranya adalah mempersiapkan setiap pribadi menempuh kehidupan yang keras dan tak peduli.

Begitu juga saat memilih sekolah yang tepat bagi anak-anak. Pasti setiap orang tua punya pertimbangan tersendiri.



Sekitar 7 tahun lalu , si sulung kami atau tepatnya saya yang ngotot agar dia mondhok di sebuah pondok yang terkenal dengan kedisplinan tinggi.

Bukan tanpa maksud saya ngotot si anak ini harus mondhok. Masa kecilnya jahil dan bengal, saya bosan di"labrak" tetangga kanan kiri muka belakang 😁😁😁 sampai lagi sholat dhuhur pernah ada tetangga ketuk pintu buat nglabrak tapi saya cuekin. Pulang jamaah dari masjid juga pernah dihadang tetanggan komplain tentang "kekurangajarannya" . Sampai pernah saat suami saya mengalami kecelakaan jatuh dari atap, tetangga Maghrib datang bukan untuk menjenguk tapi nglabrak karena anaknya dijahilin si sulung kami ini 😴😴


Harapan saya pendidikan pondok membuatnya jadi jauh lebih baik, Lo Ulis jadi pemuka agama, ngajinya pinter, bisa jadi imam masjid dan mengajarkan ilmu agama kepada umat.


Setelah lulus pengabdian dan menunggu waktu kuliah ternyata beberapa kali di"ujicoba" jadi imam bacaan suratnya masih salah dan blank di tengah jalan. Kalau saya dengarkan tajwidnya belum tepat karena beberapa makhrojul hurufnya belum pada tempatnya.

Apalagi pas sudah kuliah dan sertifikasi Ng ngerjakan tugas sampai tengah malam, jamaah subuh juga sering telat karena susah banget membangunkannya 😄😄 Kadang selain waktu subuh juga sering masbuk karena tidak segera bergegas berangkat ke masjid saat mendengar adzan.


Lalu ngomel lah saya : trus buat apa dulu mondhok sampai enam tahun plus setahun pengabdian, kalau jadinya sama saja dengan awam yang tak punya pengetahuan lebih tentang agama (misal seperti kami orang tuanya)


Dia menjawab: ya Ma, maaf memang aku lagi merasa imanku turun kalau masalah ibadah tapi kan aku tetap sholat lima waktu, tetap tadarus di rumah. Tapi memang ada pendidikan pondok yang terus melekat di benakku yaitu tanggung jawab dan kerja keras.


Tanggung jawab sebagai ketua panitia seminar nasional pernah diemban sampai dia rela ke sana kemari untuk promosi dan keluar uang buat bayarin tiket masuk beberapa temannya.

Tanggung Jawab sebagai salah satu pengurus Himpunan Mahasiswa divisi kemahasiswaan yang bertugas mendampingi, memberikan advokasi pada mahasiswa yang mengalami kesulitan akademis. Saat liburan semester ganjil yang lalu dia harus ke kampus mendampingi mahasiswa dari Thailand yang salah menyusun KRS. 


Kerja keras, selama liburan dia selalu berusaha mencari pekerjaan berbayar buat tambah uang sakunya sendiri, agar biaya-biaya yang kecil-kecil, termasuk jajan dan nggak minta ke kami. Maklum uang bensinnya dijatah dan dalam sepekan mungkin hanya tersisa 20 ribu rupiah.


Liburan semester ganjil lalu dia kerja sebulan lebih sebagai pencuci mobil dengan gaji 60rb/hari (Alhamdulillah yang punya Carwash kok ya berkenan menerima mahasiswa yang hanya bisa bekerja saat liburan saat itu)

Liburan semester genap kali ini dia kerja serabutan sebab Carwash yang pernah menampungnya kerja sambilan sedang nggak butuh karyawan. 

Pernah jadi penyapu jalan Tunjungan saat ada even JCC tempo hari dibayar 150 ribu/semalam. Sekarang lagi jadi kuli gudang digaji 100rb/hari selama dibutuhkan perusahaan.

"Sholatmu gimana Lo kalau kerja serabutan kayak gitu?"

Tetap sholat Lo Ma, kebetulan tempat kerjaku nggak terlalu jauh dari masjid . Alhamdulillah 

Ah ya, pikir saya sekarang biarlah meski lulus pondok nggak /belum tentu jadi ulama setidaknya paham ilmu agama dan taat kepada Allah dan RasulNya.

Dan mentalnya terasah agar tidak mudah putus asa dan tahu bagaimana mencari nafkah karena kelak punya tanggung jawab besar sebagai kepala rumah tangga.

Oh ya, kebetulan saya menemukan konten yang bagus dan patut dijadikan bahan renungan tentang bagaimana mempersiapkan bahan pendidikan kehidupan:

"According to Psychologists, there are four types of Intelligence: 


1) Intelligence Quotient (IQ)

2) Emotional Quotient (EQ)

3) Social Quotient (SQ)

4) Adversity Quotient (AQ)


1. Intelligence Quotient (IQ): this is the measure of your level of comprehension. You need IQ to solve maths, memorize things, and recall lessons.


2. Emotional Quotient (EQ): this is the measure of your ability to maintain peace with others, keep to time, be responsible, be honest, respect boundaries, be humble, genuine and considerate.


3. Social Quotient (SQ): this is the measure of your ability to build a network of friends and maintain it over a long period of time.


People that have higher EQ and SQ tend to go further in life than those with a high IQ but low EQ and SQ. Most schools capitalize on improving IQ levels while EQ and SQ are played down.


A man of high IQ can end up being employed by a man of high EQ and SQ even though he has an average IQ.


Your EQ represents your Character, while your SQ represents your Charisma. Give in to habits that will improve these three Qs, especially your EQ and SQ.


Now there is a 4th one, a new paradigm:


4. The Adversity Quotient (AQ): The measure of your ability to go through a rough patch in life, and come out of it without losing your mind.


When faced with troubles, AQ determines who will give up, who will abandon their family, and who will consider suicide.



Parents please expose your children to other areas of life than just Academics. They should adore manual labour (never use work as a form of punishment), Sports and Arts.


Develop their IQ, as well as their EQ, SQ and AQ. They should become multifaceted human beings able to do things independently of their parents.


Finally, do not prepare the road for your children. Prepare your children for the road."


(Copied status) but one that resonates with me.

Share:

Work at Home

Kumpulan Emak-emak Blogger

Blogger Perempuan

Blogger Perempuan

Ning Blogger Surabaya

Ning Blogger Surabaya

BloggerHub

Warung Blogger

KSB

komunitas sahabat blogger
Powered by Blogger.

About Me

My photo
Ibu dua putra. Penulis lepas/ freelance writer (job review dan artikel/ konten website). Menerima tawaran job review produk/jasa dan menulis konten. Bisa dihubungi di dwi.aprily@gmail.com atau dwi.aprily@yahoo.co.id Twitter @dwiaprily FB : Dwi Aprilytanti Handayani IG: @dwi.aprily

Total Pageviews

Antologi Ramadhan 2015

Best Reviewer "Mommylicious_ID"

Blog Archive

Labels

Translate

Popular Posts

Labels

Labels

Blog Archive

Recent Posts

Pages

Theme Support

Need our help to upload or customize this blogger template? Contact me with details about the theme customization you need.