catatan seorang ibu, wanita, hamba sahaya yang ingin berbagi pikiran dengan dunia

Heha Sky View Yogyakarta

Salah satu view Heha Sky View nan indah, Dokpri

 

Melanjutkan kisah travelling Yogyakarta, kali ini saya mengulsaa tentang Heha Sky View. Sesuai jargonnya: Taman Langitnya Yogyakarta, daya tarik utama tempat wisata ini adalah tempat nongkrong dengan view pemandangan langit yang menawan baik di pagi, siang, sore hingga malam hari. 

Pintu masuk Heha, Dokpri

Sesuai jam buka Heha Sky View jam 08 - 21.00 WIB pada hari Ahad/Sabtu dan jam 10 -21.00 WIB Senin-Jumat para pengunjung bisa menikmati pemandangan langit Yogya dari pagi hingga malam hari. Masuk Heha pakai scan tiket. Kalaupun kerasan di sini sejak pagi hingga malam juga sah-sah aja, asal tidak keluar dari lokasi. Pintu keluarnya diakses dari selasar yang menjajakan aneka suvenir khas Heha dan Yogyakarta. Sebab di sini tersedia berbagai kios makanan dan minuman, kamar mandi dan mushola yang bersih.

Beberapa kios/counter makanan yang terlihat adalah Kebab Turki, Bakso Legenda, Sugar Puff, Bagoja (Bakso Goreng Jogja) The Original, Cao Cao, Drink Station 

Btw, mengapa namanya Heha? usut punya usut nama ini dipilih karena mewakili nama pemiliknya yaitu Herry Zudianto dan Handoyo Mawardi.

Pemandangan mengagumkan di tempat wisata yang terletak di Platuk, Gunungkidul saat pagi-sore adalah pemandangan Merapi yang gagah jika cuaca cerah. Di malam hari pasti Heha Skyview tampil menawan dengan aneka lampu hiasnya. Memandang lampu-lampu di kota Yogya dari ketinggian juga bisa jadi pilihan mengasyikkan.

Kami mampir ke Heha Sky View pada Ahad pagi, sekalian check out dari Hotel Jogokariyan untuk kembali ke Jawa Timur. Tiket masuk 20 ribu per orang dan parkir 20 - 25 ribu/mobil. Jika ingin berfoto di sudut kaca/Sky Glass atau di balon udara/Sky Baloon bertuliskan Heha agar penampilan Merapi lebih terfokus, bayarnya 30 ribu Dari kawasan Jogokariyan, Taman Langitnya Yogyakarta ini terbilang cukup dekat, hanya butuh waktu sekitar 20 menit.

Berjalan-jalan di Heha saat bulan Ramadan ada plus minus tersendiri. Nilai plusnya suasananya sepi apalagi saat masih pagi dan loketnya baru dibuka. Memandang Merapi dari kejauhan bisa sepuas-puasnya tanpa terganggu kehadiran banyak orang. Mau selfie, wefie dimanapun bebas, nggak perlu antri. Menurut mas-mas penjaga loket memang di saat Ramadan Heha Sky View tidak seramai biasanya. Pengunjung bisa lebih menikmati suasana.

Tapi minusnya nggak bisa wisata kuliner jika datang di pagi-siang hari karena sedang berpuasa hahaha. Konsep kulineran sambil menikmati view gunung sedang trend belakangan ini. Tapi memang pemandangannya sangat berkesan, tak puas-puas menikmati keindahan Merapi dari kejauhan.

Memandang Merapi sambil ngopi asyik kali Dokpri
 

Karena niatnya memang mampir sebentar sebab harus melanjutkan perjalanan pulang, maka kami hanya sekitar satu jam saja berada di Heha. Tidak terlalu banyak spot foto yang kami pilih untuk wefie dan selfie. You knowlah, butuh extra tenaga untuk menyusuri semua sudutnya. Wiiih nggak sangguplah jika harus keliling sambil menahan dahaga, lebih aman lekas pulang saja hahah.
Merapi kapan-kapan kami datang lagi, Dokpri



Share:

Pengalaman Menginap di Hotel Jogokaryan

Hotel Jogokaryan, UMKM Binaan Masjid Jogokariyan

Melanjutkan kisah Menikmati Vibes Ramadan di Jogokariyan, kali ini saya ingin menceritakan pengalaman menginap di Hotel Jogokaryan. Hotel Jogokaryan terletak sekitar 100 meter saja dari Masjid Jogokariyan. Hotel ini merupakan salah satu UMKM binaan masjid Jogokariyan. Oiya, masjid Jogokariyan juga memiliki penginapan yang dikelola manajemen masjid berada di lantai dua masjid tetapi seringnya full booked sebab para pengunjung masjid Jogokariyan yang datang dari jauh biasanya menginap di sini.

Beruntung kami berkunjung tidak saat peak season, jadi di Hotel Jogokariyan pun masih dapat tempat, penginapan yang milik masjid sudah penuh tuh.

Fasilitas di hotel ini lumayan dan sewanya terjangkau. Kami memesan kamar untuk berempat dengan dua kasur dengan harga sewa 250 ribu permalam. Kamarnya cukup luas dan dilengkapi AC. Disediakan dua buah handuk dan mendapat welcome drink dua botol air mineral. Di kamar terdapat satu meja, kaca gantung, dua hanger untuk menggantung pakaian di dinding dan satu rak handuk.

Pas sudah mau pulang baru kepikir motret, padahal saat baru pertama masuk kamarnya sangatlah rapi, Dokpri

Kamar mandinya bersih, WC duduk, dilengkapi flush dan shower bawah. Untuk mandi dilengkapi shower atas dan ada kran di bawahnya serta bak penampung air. Kamar mandi ini juga dilengkapi dengan wastafel dan terdapat satu hanger dinding.

kamar mandi dilengkapi wastafel, Dokpri

Di selasar luar kamar dilengkapi dengan kursi dan meja untuk bersantai, serta televisi, tetapi kami lebih suka berdiam di kamar meski tanpa televisi.

lorong berisi kursi dan meja untuk bercengkrama di luar kamar, Dokpri

Di tempat bersantai ini juga disediakan air dalam dispenser serta teh dan gula, bebas bagi yang menginap di sini mau bikin berapa gelas hehehe. Sehingga kami pun bisa menikmati minuman teh hangat untuk berbuka dan sahur. Alhamdulillah

Dispenser hangat dan dingin gula dan teh celup disediakan gratis, Dokpri

Sesuai taglinenya sebagai hotel syariah, di lantai dua hotel ini, di area seberang kamar tempat kami menginap terdapat mushola. Sayangnya kami baru sadar kalau di sini ada mushola, jadi saat hujan deras yang membuat kami tak bisa sholat berjamaah di masjid jogokariyan kami malah sholat jamaah di kamar dengan menggeser tempat tidur agar muat untuk berempat hahaha. 
mushola di lantai dua, Dokpri


Menginap di sini tak perlu bingung soal makanan. Sebab sepanjang jalan jogokaryan ini banyak pedagang makanan dan minuman. Apalagi jika saat Ramadan dan bertepatan dengan dibukanya Kampung Ramadan Jogokariyan wuiih meriah banget para penjaja makanan dan minuman di sini. Harga makanannya pun terjangkau, jajan pasar dijual seharga rata-rata 2500 per biji.

Salah satu kios yang meramaikan Kampung Ramadan Jogokaryan berada tepat di depan hotel, Dokpri

Yogyakarta memang ngangenin, kapan-kapan jika Allah memberikan waktu dan rezeki ingin kembali lagi kesini.

Share:

Menu Sehat Ramadan Seharga Dua Puluh Ribuan

Ramadan telah menapak separuh perjalanan. Apa kabar puasanya? masih semangat kan? Ngomong masalah puasa, tiap orang punya makanan favorit masing-masing. Menyiapkan menu sehat Ramadan untuk berbuka dan santap sahur bagi sebagian orang bukan perkara mudah. Pertama, karena saat berpuasa pasti agak kesulitan mencicipi hasil masakan. Kedua, menyiapkan satu jenis menu yang disukai semua anggota keluarga tentunya nyaris mustahil dan jika harus menyiapkan semua menu favorit masing-masing anggota keluarga, si koki rumah bisa kelimpungan. Ketiga, demi menjaga kebugaran sebisa mungkin menyajikan menu sehat bergizi tapi harus berjibaku dengan harga-harga bahan pokok yang melejit selama bulan Ramadan.

Tantangan bagi koki rumahan untuk menyiapkan menu sehat Ramadan tanpa menguras anggaran memotivasi untuk kreatif, baik dalam berburu bahan pokok harga murah maupun saat menyajikan menu yang bergizi dan meriah. 

Saya mencoba menyajikan menu sehat Ramadan yang hanya membutuhkan anggaran sekitar dua puluh ribu rupiah. Dua menu ini bisa dinikmati saat berbuka maupun santap sahur. 

1. Sayur Sop dan Ayam Goreng

Bahan: 

1/4 kg ayam goreng - seharga 8 ribu rupiah

1 bungkus bahan sayur sop (terdiri dari wortel, kentang, kubis, sledri, buncis, bawang prei) - seharga 4 ribu rupiah

Pelengkap jika suka: bakso sapi dan sosis

Minyak untuk menggoreng 

Bawang goreng

Bumbu: bawang bombay, bawang putih, merica bubuk, garam

Cara membuat:

1. Ungkep ayam dengan menggunakan bumbu: bawang putih, garam (bisa ditambahkan sedikit ketumbar bubuk dan kunyit bubuk jika suka dan agar penampilan ayam lebih menarik) Masak hingga sekitar 15 menit (hingga air berbumbu nyaris habis). Tiriskan

2. Bersihkan dan potong-potong bahan sayur sop.

2. Buat bumbu sop: haluskan bawang putih dan merica bubuk, tumis bersama bawang prei dan bawang bombay

3. Didihkan air dalam panci dan masukkan sayur sop. Didihkan sekitar 10 menit (hingga sayur empuk) masukkan bumbu yang telah ditumis. Bagi yang suka bisa ditambahkann potongan sosis goreng dan bakso sapi

4. Matikan api, sajikan sop dalam wadah sayur, taburkan bawang goreng.

5. Goreng ayam ungkep hingga berwarna keemasan

6. Sayur sop dan ayam goreng siap dinikmati sebagai sajian berbuka puasa

Sebagai pelengkap sajian berbuka, saya menyajikan kurma dan emping blinjo.

Menu Sehat Ramadan Sayur Sop dan Ayam Goreng, Dokpri
2. Tumis Pare dan Fillet Ayam Crispy

Bahan: 

1/4 kg ayam bagian dada - seharga 8 ribu rupiah

1 buah pare seharga 2 ribu rupiah

Minyak untuk menggoreng

Bakso sapi dan udang (sisa stok yang ada di kulkas)

Tepung ayam crispy instan - seharga 5 ribuan

Bumbu: bawang bombay, cabe merah, cabe rawit, saos tiram, kecap, garam, gula, bawang putih.

Cara Membuat:

1. Bersihkan kulit dan bagian tengah buah pare, iris tipis. Rendam dalam air garam sambil diremas-remas, tiriskan

2. Iris tipis-tipis ayam agar diperoleh daging tanpa tulang (fillet) Rendam dalam bumbu bawang putih dan garam. Diamkan dalam kulkas minimal 15 menit

3. Tumis bawang bombay, dua ekor udang, garam gula, cabe merah dan cabe rawit yang diiris serong. Jika sudah harum masukkan irisan bakso sapi dan buah pare. Tambahkan sedikit air. Tambahkan kecap dan saos tiram. Masak hingga air menyusut. Tumis pare siap disajikan

4. Keluarkan fillet ayam yang sudah dimarinasi, gulirkan dalam tepung sambil dicubit-cubit.

5. Goreng fillet ayam hingga berwarna keemasan

7. Fillet ayam crispy dan tumis pare siap disajikan

Menu Sehat Ramadan, Tumis Pare dan Fillet Ayam Crispy, Dokpri

Tumis pare ini segar disantap saat berbuka puasa, tetapi juga cocok dinikmati untuk santap sahur.
Oiya, perkiraan harga dua puluh ribuan ini mengacu pada harga bahan di kota Sidoarjo tempat saya tinggal. Untuk bumbu-bumbu, LPG, pelengkap seperti kecap, saos tiram, bakso sapi dan udang menggunakan sisa stok di kulkas, sebab bahan-bahan ini sekali beli bisa digunakan untuk beberapa kali kegiatan masak memasak.








Share:

Menikmati Vibes Ramadan di Jogokariyan

Jogokariyan dalam kenangan, Dokpri

"Selamat datang di kampung kami, semoga kampung yang dirahmati Illahi" nasyid itu menggema beberapa saat setelah sholat jamaah sholat ashar ditunaikan di masjid Jogokariyan Yogyakarta, Sabtu 1 April 2023. Nasyid yang menyemarakkan suasana usai hujan deras, seolah menyemangati para pedagang makanan dan minuman menyiapkan lapak di Kampung Ramadan Jogokariyan.
Hotel tempat kami menginap dan salah satu kios yang memeriahkan Kampung Ramadan Jogokariyan, Dokpri

Hadir di Masjid Jogokariyan adalah mimpi yang menjadi kenyataan. Sudah lama sekali saya ingin menyaksikan langsung geliat masjid peradaban yang terkenal dengan manajemen keuangan masjid NOL persen karena pemasukan langsung didistribusikan ke pihak yang berhak.
Allah memberikan kesempatan kepada kami untuk berkunjung ke Jogokariyan melalui jalan tak terduga. Ketika si sulung menuntaskan pengabdian di Gontor Magelang, tiba-tiba terbesit rencana mampir ke Jogokariyan untuk menjemputnya sekalian mengangkut barang-barangnya. 
Rencana menjemput juga terancam gagal karena kami bergantian sakit. Namun, bismillah menjelang hari H sudah merasa baikan, meski perjalanan dalam kondisi berpuasa terasa lebih berat.

Berangkat dari Sidoarjo bada subuh, sampai pondok Darul Qiyam (Gontor 6) Magelang sekitar jam 11. Kami langsung melanjutkan perjalanan menuju Jogokariyan kurang lebih jam 12 siang. Istirahat siang di penginapan cukup untuk meredakan lelah dan terbangun menjelang Ashar, Saya segera bergegas bersiap untuk jamaah Ashar di Masjid Jogokariyan yang berada sekitar 100 meter saja dari tempat kami menginap.

Sampai di masjid saya bingung, muslimah lewat sebelah mana nih? Karena buru-buru sebab sudah menjelang iqomat jadilah saya salah masuk melalui pintu untuk jamaah laki-laki. Harusnya jamaah perempuan masuk dari arah timur, berjalan di depan kios suvenir milik masjid.

Barisan shaf perempuan di Masjid Jogokariyan mengikuti hadits Rasulullah, yaitu berawal dari bagian belakang. Sebab menurut hadits, sebaik-baik barisan shaf bagi wanita adalah bagian belakang. Karena saya datang belakangan jadilah saya di shaf paling depan hehehe.

Usai sholat hujan deras mengguyur, jadilah saya nggak bisa langsung balik ke penginapan. Tapi momen berdiam sebentar di masjid ini malah jadi pengalaman unik karena saya bisa menyaksikan langsung bagaimana Masjid Jogokariyan menyiapkan ribuan piring untuk jamuan berbuka puasa Kurma dan air minum juga berlimpah. Menurut keterangan takmir masjid melalui speaker tiap hari masjid menyediakan 3000-3500 piring untuk berbuka puasa. Oiya, menurut keterangan salah seorang penjaja makanan di luar masjid, takmir juga menyediakan 1000 porsi untuk santap sahur.
3000 porsi berbuka setiap harinya, Dokpri


Karena hujan sudah mulai reda dan tinggal gerimis, saya memutuskan untuk kembali ke penginapan. Dan sepanjang jalan itu saya dibuat takjub oleh meriahnya Kampung Ramadan Jogokariyan. Di sepanjang jalan, kiri dan kanan berjajar outlet dan kios makanan dan minuman yang menjajakan aneka hidangan takjil. Beberapa kios permanen adalah unit usaha masjid, seperti Brownies Cinta. Harga makanan dan minumannya juga sangat terjangkau. Jajan pasar dijual mulai harga 2500. Minuman kekinian dijual mulai 5000 rupiah per cup, Kenyang dan menyegarkan saat berbuka puasa.
Browniesnya enak banget, Dokpri
Vibes Ramadan di Jogokariyan memang beda. Jam 3 dini hari terdengan suara adzan dari Masjid Jogokariyan. Mungkin ini Adzan untuk membangunkan umat, mengajak tahajud dan mengingatkan santap sahur di bulan Ramadan.


Penuhnya jamaah subuh, Dokpri
Jamaah subuhnya luar biasa. masjid penuuh baik shaf pria maupun perempuan. Usai jamaah subuh setiap Ramadan ada kajian. Kami sempat mengikuti jamaah subuh dan kajia dari Ustadz Gita Welly.
Daftar kajian para ustadz selama Ramadan di Jogokariyan, Dokpri


Setelah kajian, beberapa jamaah tak langsung pulang. Sebagian membentuk lingkaran untuk tadarrus Al Qur'an dan sebagian lainnya tilawah sendiri. Seperti yang saya perkirakan mereka menunggu waktu syuruq untuk mendirikan sholat Isyra', sholat sunnah sekitar 15 menit usai matahari terbit yang pahalanya setara dengan umroh dan haji.
Suasana bada subuh, Dokpri

Semalam saja di Jogokariyan saat Ramadan rasanya kurang. Namun saya sangat bersyukur, impian untuk berkunjung ke masjid fenomenal dengan program pemberdayaan umat ini akhirnya terwujud.
Sebagai pengingat bahwa sebagai insan dan makhluk Tuhan kita memang tak boleh lelah berdoa dan berharap serta berupaya mewujudkan impian. Sebab kita tak pernah tahu kapan waktu yang tepat agar doa tersebut dikabulkan
Hidup memang butuh petunjuk arah agar tak tersesat. Dokpri

Share:

Ketika si Kecil Beranjak Remaja

 

“Nak, jangan cepat besar yaah, Bunda masih ingin mencium aroma minyak telon dan bedak bayimu. Masih ingin menggendongmu dalam buaian” Begitu sering terdengar ungkapan para ibu yang seolah tak ingin kehilangan masa-masa menggemaskan buah hatinya. Maklum, seiring bertambahnya usia si anak, biasanya tak bisa diperlakukan sama seperti ketika ia masih bocah. Konon, jadi orang tua ABG itu gampang-gampang susah.

Ketika buah hati masih kecil, mengajarkan sesuatu hal dan mendidik terasa lebih mudah. Mayoritas anak-anak patuh dan taat kepada orang tuanya ketika dilarang melakukan sesuatu atau menurut ketika diajak beraktivitas yang menarik hatinya. Namun ketika si anak beranjak remaja, memasuki masa pubertas, si ABG tak lagi bertingkah laku layaknya anak kecil.

Dia yang dulu lengket seperti perangko dengan ayah bundanya, kini memilih menghabiskan waktu bersama teman-teman.

Dia yang dulu patuh, kini sering membantah dan beradu argument jika tak sepakat tentang suatu hal.

Dia yang dulu tak pelit bercerita tentang keseruan hari-harinya, kini sering bungkam seribu bahasa.

Saya pun merasa demikian dengan si anak kedua. Dahulu dia sangat dekat dengan saya, bahkan tidur jika tidak ditemanin nggak bakalan bisa tidur. Pernah suatu malam saat dia yang waktu itu masih usia empat tahunan belajar tidur dengan si ayah, eh tengah malam membangunkan saya di kamar sebelah minta diantar ke kamar mandi. Sepulang sekolah ceritanya nyaris tiada henti. Kini boro-boro cerita pengalamannya di sekolah, ada tugas yang harus dikumpulkan keesokan hari aja dia baru ngomong malam harinya. Duh ya, ada apa dengan si ABG kami?

Suatu hari di Pantai Muaro Lasak, Dokpri


Saya merenung, bagaimana caranya agar komunikasi orang tua dengan si remaja tidak terputus begitu saja? Seiring berjalannya waktu, saya coba uraikan masalahnya dan berupaya menemukan solusinya. Begini cara kami menjalin komunikasi dengan si ABG:

1.       Daddy’s role

Mungkin, saat anak lelaki beranjak remaja peran ayah akan lebih besar. Sedekat apapun dengan sang ibu, anak lelaki butuh ayah sebagai role model. Akhir-akhir ini pak suami lebih sering ngobrol dengan anak kedua kami. It’s work!

2.       Cari penyebab kurang fokus

Kenapa sih kok sampai dia lupa ada tugas sekolah. Kemungkinan besar adalah karen keasyikan ngegame. Apalagi kalau udah ngegame Hp si kakak ikutan jadi sasaran. Baiklah, mau tak mau kami memutuskan untuk melarangnya ngegame sampai kecanduan. Eh udah nggak ngegame malah sibuk scroll medsos buat nonton konten satu ke konten lainnya. OK, resikonya meski kuota data dia habis, tak ada kuota tambahan. Jika ia tidak bijak mengelola kuota data maka harus bersiap numpang wifi di sekolah atau masjid perumahan. Saya katakan padanya bahwa mengelola kuota internet di handphone, mengelola uang jajan adalah pembelajaran bagi pengelolaan finansial ketika ia kelak telah mampu mencari nafkah sendiri. Apakah berhasil? Belum sepenuhnya, setidaknya dia sudah mulai merasakan resiko harus numpang wifi kesana kemari, semoga semakin bijak suatu hari nanti.

3.       Memperlakukannya sebagai teman

Ketika anak telah beranjak menjadi ABG sudah waktunya memperlakukannya sebagai teman. Kadang saya mentraktir minuman es cao kesukaannya dan bahkan pernah nonton film di bioskop bertiga bareng si ayah juga.

Foto bareng ABG, Dokpri

Semakin hari saya semakin menyadari bahwa berperan sebagai orang tua si ABG layaknya bermain layangan. Tarik ulur dan harus pandai mengukur arah angin, tidak bisa terlalu kencang atau terlalu lunak. Jika terlalu lunak dia tak akan bisa terbang. Jika terlalu kencang bisa jadi saat terbang tinggi, diadu dalam kompetisi dia malah menghilang.

Saya juga menyadari sepenuhnya bahwa sebagai orang tua,, kami berdua jauh dari kata sempurna. Namun hidup layaknya bangku sekolah, belajar tiada pernah berakhir hingga menutup mata, meski saatnya anak-anak kita kelak menjadi orang tua.

Bagaimana kisah kalian dengan ABG  di rumah?

 

Share:

Tips Mengelola Keuangan Bagi Pekerja Lepas

Sejak memutuskan untuk mengundurkan diri dari kerja kantoran, saya memutar otak, mengatur strategi bagaimana caranya bisa mendapatkan penghasilan. Sebenarnya bukannya saya tidak bersiap sebelum resign, namun gerai waralaba teh yang diharapkan bisa menjadi pengganti gaji bulanan ternyata harus gulung tikar.

Maka satu-satunya jalan adalah mengoptimalkan kemampuan dan keahlian untuk mendapat penghasilan, sebab dari kedua hal tersebut tidak terlalu membutuhkan modal. Selama masih menjadi pekerja kantoran saya sering mengikuti quiz dan lomba menulis dan Alhamdulillah beberapa kali sempat menang atau meraih gelar juara. Jadilah kedua bidang ini semakin saya tekuni dan berharap menjadi pintu rezeki.

Sebagai pekerja lepas yang menekuni dunia konten kreator, saya berupaya mendapatkan penghasilan dari blog pribadi dengan menerima penawaran review produk atau sponsored post serta sesekali mengikuti lomba blog. Saya juga menjadi penulis konten artikel yang menerima upah sekian rupiah untuk setiap artikel pesanan klien. Terkadang juga menyelesaikan pekerjaan sebagai influencer untuk even atau produk tertentu di platform twitter, Instagram, facebook dan tiktok

Pos-pos pemasukan dan pengeluaran si pekerja lepas, Dokpri

Jika ditanya berapa penghasilan saya sebulan, tidak ada jawaban pasti. Pernah mencapai hingga dua juta rupiah tetapi pernah pula nyaris tak ada penghasilan sama sekali.

Jadi, apakah sebagai pekerja lepas berpengaruh pada finansial bebas? Alih-alih mencapai financial freedom (kebebasan finansial) malah penghasilan terjun bebas? Sebenarnya tidak semengerikan itu. Toh sebagai pekerja lepas saya juga mendapat banyak keuntungan. Waktu bersama anak lebih banyak, lebih punya banyak waktu senggang untuk menekuni agama (sebab sebelum berhenti bekerja saya tidak mampu membaca Al Quran dengan baik dan benar plus tidak pernah ikut pengajian) Kondisi kesehatan saya juga lebih baik, karena keluhan sakit kepala yang sering saya alami selama masih kerja kantoran kian berkurang.

Namun saya akui mengelola keuangan sebagai pekerja lepas harus lebih teliti dan bijak, dibandingkan saat masih menerima gaji tetap. Maka saya perlu menerapkan tips khusus agar keuangan pribadi saya tetap aman dan kebutuhan utama terpenuhi.


Tips mengelola keuangan ala saya sebagai pekerja lepas antara lain:

    1.  Diversifikasi pekerjaan

Sebagai pekerja lepas saya tidak membatasi diri dengan pekerjaan tertentu. Meski kegiatan utama saya adalah menulis, baik sebagai blogger maupun content writer, saya juga mendapat penghasilan dari jualan bawang goreng buatan sendiri. Pernah juga jualan baju dan mukena, lumayan laris manis tahun lalu.

Diversifikasi pekerjaan bagi saya adalah hal yang penting, sebab sebagai pekerja lepas tak bisa mengandalkan dari satu pintu pemasukan saja. Menurut pengalaman jika proyek menulis sepi, alhamdulillah hasil penjualan bawang goreng lumayan ramai.

Jualan Bawang Goreng Dokpri

Saya juga rajin menjadi panelis survey online di beberapa panel survey. Saya adalah anggota panel survey Toluna, Opinion World, Lifepoints, Nusaresearch, Rakuten, dan Surveyon. Dari kegiatan sebagai panelis survey ini saya bisa menerima sejumlah poin yang bisa ditukar menjadi saldo Paypal atau E-Wallet.

2. Menyusun skala prioritas

Saya terbiasa menyusun skala prioritas untuk pos pengeluaran. Sehingga ketika mendapat pemasukan, langsung disisihkan untuk keperluan bulanan sesuai kebutuhan. Misalnya kebutuhan utama yang mendesak dan harus diutamakan adalah: dana infaq sebagai donatur tetap untuk anak-anak yatim, sedekah subuh harian untuk masjid dan biaya komunikasi/kuota internet. Tiga hal itu saya upayakan dari pemasukan pribadi, biaya hidup lain-lain sehari-hari tentu ikut suami. Dan jika ada pemasukan berlebih barulah saya menabung atau memperhitungkan pos sandang, apakah ada pakaian yang waktunya beli baru karena stok di lemari sudah usang atau rusak dimakan usia.

Bagi pekerja lepas lainnya tentu pos prioritasnya berbeda, sesuaikan pemasukan dengan susunan prioritas secara berkala.

Skala prioritas,, Dokpri

3.    Pekerja lepas bisa menabung dan berinvestasi

Meski tidak menerima gaji bulanan lagi, saya tetap bisa berinvestasi. Unit reksadana yang saya miliki saat ini adalah laba hasil penjualan bawang goreng. Sesekali jika penghasilan sebagai pekerja lepas berlebih karena rezeki nomplok, seperti menang quiz atau lomba blog berhadiah uang tunai, maka tabungan saya pun bertambah dari hasil hadiah.

Dua keping logam mulia hasil menang lomba blog beberapa tahun lalu juga tetap saya simpan sebagai bagian instrumen investasi. Kapan dijual? Nantilah jika waktunya tiba.



Pekerja lepas bisa berinvetasi, Dokpri


4. Menyisihkan penghasilan untuk “dana darurat”

Selain investasi, saya juga berupaya memiliki dana darurat. Darurat di sini maknanya jika dari kegiatan menulis dan jualan bawang goreng tidak ada pemasukan sama sekali. Dana darurat ala saya adalah saldo Paypal hasil tukar poin survey online. Jangan dibayangkan saldo Paypal saya sangat besar, poin hasil survey butuh waktu beberapa bulan agar bisa dicairkan tanpa biaya tambahan. Tapi lumayan jika ditabung sebagai dana simpanan, dan baru dicairkan jika sepi orderan.

Tips mengelola keuangan pekerja lepas ala saya mungkin sederhana. Tetapi alhamdulillah tips tersebut sudah terbukti dapat diandalkan selama kurang lebih 10 tahun mempertahankan kestabilan keuangan pribadi saya sebagai pekerja lepas non kantoran.


Share:

Ramadan Vs Pengeluaran, Simak Tips Cermat Mengelola Anggaran


Puasa Ramadan wajib hukumnya bagi umat Islam. Lazimnya saat berpuasa frekuensi makan berkurang, namun anehnya rata-rata orang atau keluarga mengeluhkan bahwa saat Ramadan adalah saat bersiap tekor di anggaran. Banyaknya pengeluaran di bulan Ramadan pada dasarnya disebabkan dua hal. Pertama karena meroketnya harga bahan pokok. Kedua, karena saat berpuasa kecenderungan sikap konsumtif semakin meningkat, lebih sering belanja aneka makanan dengan alasan untuk menyenangkan diri usai berpuasa. 

Tips cermat mengelola anggaran di bulan Ramadan. Dokpri

Harus waspada nih, jika tidak cermat mengelola anggaran bisa-bisa besar pasak daripada tiang saat bulan Ramadan, atau karena anggaran belanja kurang akhirnya menggerus tabungan.

Bagaimana mengelola anggaran belanja agar Ramadan tak terkesan sebagai bulan untuk berhura-hura? Berikut adalah beberapa tips cermat mengelola anggaran keluarga:

1.       Berbelanja stok makanan dalam jumlah besar

Harga bahan pokok menjelang dan selama Ramadan hingga Idulfitri biasanya melonjak tajam. Menahan untuk tidak berbelanja tentu mustahil sebab kebutuhan pokok wajib hadir dalam list belanja. Salah satu cara menghemat anggaran di kala harga menjelang tajam adalah dengan berbelanja stok makanan dalam jumlah besar. Misalnya, harga beras kemasan 25 kilogram pasti lebih murah jika dibandingkan beras kemasan 5 x 5 kilogram. Tak perlu memaksakan menghabiskan anggaran belanja untuk menyimpan stok, bisa kok patungan berbelanja dengan teman atau tetangga demi mendapatkan bahan pokok dengan harga lebih murah. Atau untuk antisipasi kenaikan harga bahan pokok, pastikan berbelanja sebelum terjadi lonjakan harga misalnya daging ayam atau daging sapi untuk kemudian dibekukan dalam beberapa wadah agar bisa diolah secara bertahap.

2.       Lihai membandingkan harga dan cermat menyikapi diskon

Manfaatkan media sosial untuk membandingkan harga dari berbagai minimart, supermarket yang mengiklankan diskon untuk barang-barang kebutuhan pokok. Namun biasanya harga barang di swalayan lebih mahal daripada harga barang di pasar tradisional. Cermat memantau pergerakan harga membantu menghemat anggaran keluarga.

3.       Lebih banyak memasak daripada membeli masakan

Meski kadang hasil memasak saat berpuasa dikhawatirkan kurang sedap, tetaplah mengutamakan memasak daripada membeli masakan siap santap. Apalagi jika keluarga besar, menyiapkan masakan tentu lebih hemat daripada membeli masakan di luar. Untuk mengantisipasi rasa masakan yang kurang, sang koki bisa test rasa sebelum menyajikannya di meja makan, tinggal tambahkan gula atau garam atau penyedap rasa bagi yang suka.

4.       Boleh jajan, tetapi niatkan membantu penjual memperoleh penghasilan

Sesekali boleh dong jajan. Apalagi di bulan Ramadan, penjual makanan lebih banyak dibandingkan hari biasa. Tapi ada baiknya niatkan untuk membantu para penjaja makanan untuk mendapatkan penghasilan, apalagi jika menjelang berbuka puasa dagangan mereka masih berlimpah. Terutama jika penjualnya tetangga dan kaum dhuafa, insyaallah niat menolong mereka dengan membeli dagangannya berbalik menjadi catatan kebaikan bagi kita.

 

Ramadan, berlimpah berkah bagi penjual makanan. Dokpri

5.       Batasi menu takjil dan berbuka

Bulan Ramadan laksana surga bagi pecinta wisata kuliner. Berbagai jajanan dan aneka masakan dijajakan menjelang waktu berbuka. Eits, hati-hati jangan lapar mata lalu memborong semuanya. Ingat, puasa bukan menggeser jam makan, tetapi menahan agar tidak berlebihan. Boleh saja ingin mencicipi aneka menu untuk takjil atau makanan menu berbuka, tetapi alangkah baiknya jika tidak perlu berlebihan dalam menyediakannya. Buatlah variasi menu yang berbeda setiap hari, bukan menyediakan berbagai variasi dan pilihan menu dalam satu hari.

 

Anek menu takjil, Tetap cermat mengelola anggaran di bukan Ramadan Dokpri

6.       Mencari penghasilan tambahan

Bisnis khas Ramadan: mukena, takjil, kue kering, parcel, kurma bermunculan, mengapa tak ikut mencari penghasilan tambahan untuk turut berdagang? Meski mungkin belum bisa mencapai laba hingga puluhan juta rupiah, tetapi keuntungan hingga ratusan ribu atau jutaan rupiah yang diperoleh dari bisnis khas Ramadan cukup membantu menambah anggaran keluarga.

7. Safari Ramadan = buka bersama di masjid

Bagi yang senang safari Ramadan, menikmati suasana berbuka puasa dan tarawih dengan berpindah masjid bisa menjadi salah satu cara menekan anggaran untuk makanan berbuka, sebab selain bisa menikmati sajian yang disajikan pihak masjid, pasar kaget di sekitar masjid biasanya menawarkan harga kuliner yang terjangkau kantong tanpa merogoh kocek terlalu dalam. Tapi jangan lupa andai kebagian makan gratis dari masjid yang menyediakan sajian berbuka, kotak infaq masjid juga perlu mendapatkan suntikan dana dari kita.

 

Nah itu beberapa tips cermat mengelola anggaran keluarga. Bisa dipraktekkan membantu meredam pengeluaran agar tidak boros saat bulan Ramadan.






Share:

Marhaban ya Ramadan 1444 H

 Alhamdulillah saat saya menulis artikel ini, masih dipertemukan dengan Ramadan 1444 Hijriyah. Seringkali kita lupa bersyukur atas nikmat "kecil yang tak terlihat" Seperti iman dan sehat. Bukankah terbangun dan masih memiliki keimanan serta tubuh yang sehat adalah nikmat luar biasa? Apalagi dikaruniai iman dan kesehatan agar bisa berpuasa di bulan mulia.

Seperti pesan Rasulullah, bulan Ramadan hendaknya disambut dengan penuh suka cita. Lebih baik lagi jika persiapan menyambut Ramadan dilakukan jauh hari sebelumnya. Saya pernah mendengar ceramah ustadz, bahwa jika kita menyiapkan menyambut Ramadan jauh hari kemudian usia kita tak sampai pada bulan Ramadan, setidaknya niat baik kita untuk berbuat kebaikan telah tercatat. (Duh ngomong tentang kematian sering membuat baper, semoga kita kelak meninggal dalam sebaik-baik keadaan)

Hidup adalah perjalanan, bersiaplah bekal agar selamat hingga akhir tujuan, Dokpri

Karena pesan Rasulullah dan teringat bahwa kematian bisa datang tiba-tiba itulah maka saya terpacu untuk senantiasa mempersiapkan diri sebaik-baiknya dalam menyambut Ramadan. Persiapan saya meliputi:

1. Persiapan psikologis spiritual

Berpuasa Ramadan itu wajib hukumnya. Dan jika ibadah puasa dilakukan tanpa latihan pasti terasa berat. Oleh karena itu saya membiasakan diri berpuasa sunnah di luar bulan Ramadan. Puasa Senin-Kamis, puasa Arofah dan Asyura. Ingin bisa berpuasa rutin Ayamul Bidh tiap bulan tapi masih belum mampu (atau belum niat?hehehe) Tapi beneran, karena sudah terbiasa berpuasa sunnah maka secara psikologis menyambut Ramadan lebih tenang, nggak khawatir jika badan nggak kuat atau tiba-tiba sakit karena kondisi tubuh drop akibat berpuasa.

2. Persiapan ibadah khusus

Setiap Ramadan biasanya kita punya target ibadah khusus. Tilawah Al Qur'an khatam 30 juz minimal 1 x selama Ramadan misalnya. Atau infaq sedekah diperbesar. Dan yang tak ketinggalan adalah sholat malam, sebab setiap ibadah di bulan Ramadan dijanjikan Allah diganjar pahala berlipat ganda. Maka jauh hari sebelum bulan Ramadan saya membiasakan mencapai target tersebut. Setiap hari saya usahakan mencapai target tilawah 1 juz. Jika sekali duduk khatam 1 juz terasa berat, saya biasa tilawah dengan cara biar lambat asal selamat, alon-alon waton kelakon hehe. Setiap usai sholat sunnah dan sholat lima waktu membaca Al Qur'an minimal dua lembar bolak balik, sehari bisa tercapai 1-2 juz. 

Al Qur'an bukan pajangan, yuk semangat menelaahnya jangan biarkan ia berdebu di pojokan. Dokpri


3. Persiapan fisik

Saya bukan tipe orang yang rutin berolah raga. Tetapi saya membiasakan jalan kaki di sekitar perumahan setiap akhir pekan sambil menikmati view sunrise atau minimal jalan kaki dari masjid menuju rumah melalui jalan memutar, lumayan lah gerak tipis-tipis. Dengan cara begini membantu memperkuat kaki dan memperpanjang nafas agar tidak mudah ngos-ngosan. Kan pas Ramadan ada sholat tarawih yang butuh stamina sebab jumlah rokaatnya minimal 11 dengan witir.

4. Persiapan harta

Bagi freelancer seperti saya, penghasilan tak tentu setiap bulan, maka harus pandai mengelola. Setiap Ramadan saya punya keinginan untuk bisa berinfaq sedekah sekian rupiah (apalagi banyak proyek: menyumbang untuk takjil masjid, bakti sosial majelis taklim, bingkisan untuk ustadz, infaq harian dll) Maka jauh hari saya sisihkan penghasilan tak tentu itu diniatkan untuk infaq selama Ramadan.

5. Persiapan domestik rumah tangga

Saya nggak pernah mempersiapkan dekorasi khusus menyambut Ramadan. Tapi biasanya bersih-bersih lebih rajin, agar tak terlalu mengeluarkan tenaga extra saat berpuasa hehehe. Saya juga nggak menyiapkan menu khusus untuk berbuka dan sahur. Tetapi frozen food untuk persiapan sahur, telur biasanya sudah harus tersedia di freezer sekalian nglarisin dagangan tetangga.

Lima persiapan dasar itu membuat saya bersemangat setiap menyambut Ramadan. Ada harapan di bulan mulia bisa membasuh dosa-dosa yang mungkin jika ditumpuk melebihi gunung Himalaya. Teriring doa semoga Allah memudahkan niat untuk menjadi hambaNya yang lebih baik hingga berpulang husnul khotimah.


Share:

Semangat Isra Mi'raj, Semangat Memakmurkan Masjid

Ahad 5 Maret 2023, Masjid Al Ukhuwwah menyelenggarakan peringatan Isra Miraj 1444 H bada sholat Maghrib berjamaah. Hadir sebegai penceramah adalah Ustadz Hadi Sucipto S.Ag dari Sidoarjo.

Ustadz Hadi memaparkan tentang sejarah momentum Isra Mi'raj. Kita mengenalnya sebagai momentum turunnya perintah menunaikan sholat lima waktu. Di balik itu, Isra Mi'raj adalah cara Allah untuk menghibur Rasulullah usai kesedihan beruntun setelah ditinggal wafat oleh Khodijah istri tercinta dan Abu Thalib sang paman yang sangat menyayanginya.

Ustadz Hadi dalam kesempatan ini mengaitkan perintah sholat dalam momentum Isra Mi'raj dengan semangat memakmurkan masjid. Masjid adalah tempat menunaikan sholat berjamaah bagi umat muslim. Kita sering mendengar himbauan "mari memakmurkan masjid" dengan cara berbondong-bondong mendirikan sholat berjamaah. Namun saya pernah mendengar ceramah Ustadz Adi Hidayat bahwa arti kata "memakmurkan masjid" sebenarnya bukan hanya ditinjau dari banyaknya jumlah jamaahnya melainkan pada seberapa besar manfaat kegiatan masjid bagi umat.

Namun sesuai momentum turunnya perintah sholat, Ustadz Adi menekankan pada makmurnya masjid dengan manfaatnya sebagai tempat sholat berjamaah.
Seperti kita ketahui bahwa sejarah perintah sholat lima waktu ini cukup berliku. Nabi Muhammad harus turun naik langit ketujuh demi memastikan perintah sholat bisa ditunaikan umatnya dengan baik, tidak merasaa berat dan tepat waktu. Dari semula perintah 50 rokaat sehari hingga menjadi lima waktu atas usulan Nabi Yahya, Nabi Isa, Nabi Musa di setiap tingkatan langit.

Sholat wajib ditunaikan setiap muslim yang telah baligh, berakal dan tidak punya udzur (gila, hilang ingatan, pingsan. ditambah haid bagi wanita) Bagi pria, sholat yang diutamakan adalah berjamaah di masjid.
Keutamaan sholat berjamaah (di masjid) adalah:
1. Sholat berjamaah 27 derajat lebih utama dibandingkan sholat sendirian
2. Pergi ke masjid untuk mendirikan sholat berjamaah mendapatkan pahala yang besar
3. Siapa yang berangkat ke masjid untuk menunaikan sholat berjamaah dijanjikan surga. 
4. Langkah kaki orang yang menuju masjid dalam keadaan suci untuk mendirikan sholat berjamaah memiliki keutamaan, langkah kaki kanannya mengangkat derajatnya, langkah kaki kirinya menghapuskan dosa
5. Mendapatkan cahaya, petunjuk dan keselamatan



Semoga kita dimampukan menjaga kualitas sholat lima waktu dengan baik. Memakmurkan masjid dengan kebaikan. Tak hanya di bulan Ramadan yang masjid pasti penuh sesak dan keramaian, namun juga di bulan-bulan selain Ramadan agar masjid tak sepi bagai kuburan.



Oh ya terkait "kuburan" saya teringat fungsi rumah agar juga tidak sepi bagai kuburan. Selain selalu digunakan untuk tilawah ayat-ayat Al Qur'an, Ustadz Ahmad Habibul Muiz juga pernah memaparkan di Kajian Fiqih bahwa sebaiknya sholat sunnah banyak dikerjakan di rumah. Masjid adalah tempat mendirikan sholat wajib berjamaah namun sholat sunnah hendaknya dikerjakan di rumah, jangan sampai rumah tempat kita tinggal malah tidak pernah digunakan sebagai tempat sholat.


Share:

Work at Home

Kumpulan Emak-emak Blogger

Blogger Perempuan

Blogger Perempuan

Ning Blogger Surabaya

Ning Blogger Surabaya

BloggerHub

Warung Blogger

KSB

komunitas sahabat blogger
Powered by Blogger.

About Me

My photo
Ibu dua putra. Penulis lepas/ freelance writer (job review dan artikel/ konten website). Menerima tawaran job review produk/jasa dan menulis konten. Bisa dihubungi di dwi.aprily@gmail.com atau dwi.aprily@yahoo.co.id Twitter @dwiaprily FB : Dwi Aprilytanti Handayani IG: @dwi.aprily

Total Pageviews

Antologi Ramadhan 2015

Best Reviewer "Mommylicious_ID"

Blog Archive

Labels

Translate

Popular Posts

Labels

Labels

Blog Archive

Recent Posts

Pages

Theme Support

Need our help to upload or customize this blogger template? Contact me with details about the theme customization you need.