catatan seorang ibu, wanita, hamba sahaya yang ingin berbagi pikiran dengan dunia

Showing posts with label Give Away. Show all posts
Showing posts with label Give Away. Show all posts

Berbaik Sangka Berbuah Bahagia

Pernah dikecewakan seseorang karena tak bisa menepati janji? saya pernah. Kekecewaan itu sangat membekas di hati. Tapi bukan berarti saya memblacklist sosok yang ingkar janji dan tak mau berinteraksi dengannya lagi. Berbaik sangka, itu yang selalu diajarkan guru ngaji saya sejak kanak-kanak hingga dewasa.

Ingkar janji tapi tidak dienyahkan dari dalam hati? apa pertanda cinta sejati? Psst ini bukan masalah cinta dan kasih sayang. Sosok ingkar yang saya maksud bukan pria yang mengingkari janji untuk menikah tetapi JNE Express sebagai perusahaan jasa layanan pengantar barang yang berjanji mengantarkan paket dengan selamat sampai tujuan.

Gambar milik http://www.jne.co.id/
Kisah bermula di bulan September tahun 2012 ketika saya mendapatkan hadiah voucher belanja sebesar 500 ribu rupiah dari sebuah online shop terkemuka. Voucher itu kemudian saya gunakan berbelanja jam tangan pria, niatnya buat kado suami. Tepatnya kado ulang tahun pernikahan di bulan Desember.
Konfirmasi CS Online Shop

Menurut perjanjian barang tersebut akan saya terima antara 4-9 hari kerja. Pengalaman menerima paket hadiah kuis dan lomba sebelumnya 4 hari saya sudah menerima barang. Kali ini saya dilanda kecemasan karena di hari kesembilan barang saya tunggu tak kunjung datang. Maka melayanglah pertanyaan saya ke CS online shop tersebut.

Dalam kebimbangan


Pihak Online shop cukup kooperatif dengan berupaya menyelesaikan masalah. Sayangnya sistem informasi teknologi saat itu mungkin masih perlu berbenah sehingga penelurusan terkesan manual dan butuh waktu cukup lama untuk mendapatkan jawaban tracking barang kiriman.
Bantuan yang dinanti

Melalui chit chat dan sambungan telepon dari pihak CS Online shop akhirnya saya mendapatkan nomor resi dan nomor telepon JNE Express di area terdekat untuk tracking kemana perginya kiriman untuk saya. Jangan dibayangkan area terdekat itu satu kilometer saja jauhnya. Suami saya harus menanyakan langsung ke JNE Express Surabaya pusat di daerah Juanda, sekitar 15 kilometer dari rumah kami. Akhirnya ditemukan slip kiriman paket saya tersebut. Di copy-an slip tersebut tertulis alamat rumah No.20 dan penerimanya tertanda Nuke. Padahal jelas orderan kami untuk alamat No.26. Pihak JNE Express meminta maaf dan mengakui hal ini terjadi karena human error, kesalahan sang kurir.

Baiknya lagi setelah urusan internal JNE Express diselesaikan, si kurir kemudian menghubungi kami dan meminta maaf via sms. Dia berjanji akan mengambil barang tersebut dari pemilik rumah No.20. Situasi ini cukup rumit. Saat itu notabene kami baru pindah, kurang mengenal tetangga satu persatu. Saya pun harus bertanya kepada tetangga sebelah rumah mencari tahu siapa "Nuke" yang dimaksud sebagai penerima barang kiriman.

Kami tak menunggu si kurir datang. Berbekal informasi bahwa kiriman tersebut diserahkan pada penghuni rumah No.20 suami saya pun bertamu ke tetangga tersebut. Rumah kosong karena penghuninya sedang keluar kota. Ternyata Nuke yang dimaksud adalah tetangga depan rumah No.20. Beliau mengakui menerima paket dan menyerahkan kepada pemilik rumah No.20 sesuai permintaan kurir saat pemilik rumah tak berada di tempat.

Untung kerumitan ini berakhir happy ending. Keesokan hari suami kembali bertamu ke rumah No.20 berharap mereka telah kembali dari luar kota. Si pemilik mengakui menerima paket. Meski paket telah terbuka bungkus bagian luarnya barang berupa arloji pria tersebut kami terima dalam kondisi baik tanpa cacat.
Happy Ending Story

Tetangga saya yang sempat mengetahui peristiwa tersebut sempat berceloteh. "Ah ogah pakai JNE kalau begini, kok bisa paket salah alamat tidak sesuai dengan order yang tertera" Saya hanya tersenyum dan tetap berbaik sangka. Tak ada yang sempurna, bahkan pelayanan dari perusahaan kurir sekelas JNE Express sekalipun.

Saya jarang menggunakan layanan kirim barang seringnya menerima paket hadiah kuis dan lomba menulis. Sebagian besar paket tersebut memanfaatkan layanan JNE, apakah karena satu pengalaman buruk harus memblacklistnya sedemikian rupa? 

Ketika tiba saatnya saya harus mengirimkan barang untuk Mama di luar kota, pilihan saya juga jatuh pada JNE. Counter terdekatnya hanya beberapa meter saja dari perumahan. Selama ini aman-aman saja. Paket selalu datang tepat waktu sesuai janji. Hingga pengalaman paling mengesankan terjadi beberapa waktu lalu.

Anak sulung kami sejak pertengahan tahun 2016 menuntut ilmu di pondok pesantren di Rogojampi Banyuwangi. Lokasinya sangat terpencil. Untuk mengunjunginya kami harus ngojek sejauh 11 kilometer dari stasiun Rogojampi. Santri pondok bisa digolongkan manusia yang paling butuh camilan. Maka setiap berkunjung tiga tas ransel penuh cemilan.

Camilan tiga tas besar ini pun paling banter bertahan dua minggu sebelum habis tak bersisa. Biasanya si sulung sabar menanti kunjungan bulan berikutnya. Namun kali ini dia menyempatkan menelpon khusus minta dikirim paket cemilan.

"aku laper terus nih Ma, butuh energi buat teman belajar, kan ujian akhir sebentar lagi" rengeknya disusul mendiktekan daftar makanan yang ia pesan untuk dikirimkan

"duh sabar lah Mas, tempo hari ada wali santri curhat di grup WA gara-gara kiriman untuk anaknya sudah dua minggu nggak sampai. Kabarnya kalau lewat pos harus diambil ustadz di kantor terdekat atau menunggu barengan beberapa paket dulu baru diantar ke pondok"

"temanku banyak yang barangnya cepet datang Ma, katanya pakai JNE"

Lalu Papanya nyelonong ikut ngomong, "OK OK malam ini juga Papa kirim. tunggu paling hari Kamis nyampai. Papa pakai service reguler"

Jangan dibuang sebelum paket datang

Ah saya baru ingat diskusi di grup WA walisantri. Bahwa paket kiriman untuk anak-anak mereka bisa dikirimkan hanya melalui dua pilihan: pos atau JNE. Mungkin karena lokasi terpencil atau pertimbangan-pertimbangan khusus seperti trackrecord perusahaan menjadi pertimbangan pihak pondok pesantren (untuk saat ini) membatasi hanya dua perusahaan kurir tersebut yang bisa mengantarkan kiriman hingga ke dalam lokasi pondok.

JNE memang terkenal sebagai perusahaan layanan kurir yang jangkauan pelayanannya luas dan inovatif. "Pelanggan adalah raja" bukan semboyan biasa. Salah satu bukti kepedulian dan penghargaan JNE terhadap para pelanggan setianya adalah dengan diselenggarakan Hari Bebas Ongkos Kirim pada 26 - 27 November 2016, dalam rangka ulang tahun JNE ke-26.

Sistem tracking paket saat ini sudah lebih inovatif dan canggih. Hanya berbekal nomor e-connote kita bisa menelusuri posisi paket kiriman. Hebat! per tanggal 20 November paket tersebut sudah tiba di gudang JNE di Jember. 

Saya pikir, ah tak mengapalah si Mas baru bisa ngemil hari Kamis, hari pertama ujian akhirnya. Tetapi sungguh di luar dugaan ketika Kamis siang 24 November usai ujian hari pertama dia menelepon dan mengatakan bahwa Rabu malamnya dia sudah bisa belajar sambil ngemil sebab paket sudah ia terima dalam kondisi baik. "terimakasih paketnya Ma, jadi semakin semangat belajar nih apalagi tinggal hitungan hari waktu liburan tiba dan aku bisa pulang ke rumah" katanya menutup perbincangan siang itu membuat mata berkaca-kaca.

Saya bisa membayangkan kebahagiaannya ketika menerima paket. Bagi para santri pondok yang jauh dari rumah hadirnya paket kiriman dari orang tua bagai pengobat rindu. Pertanda jika jarak yang jauh tidak memutuskan tali kasih sayang. Bisa dibayangkan jika paket yang dinanti tak kunjung tiba. Kecewa, patah hati, berharap-harap cemas mungkin menghantui mereka dan mengurangi semangat belajarnya.
Foto milik FB dmtgraphy. 
Anandaku tercinta memegang poster tulisan arab bersama santri-santri lainnya

Ternyata benar apa kata guru ngaji saya, baik sangka itu berbalik pada diri sendiri. Bahagia, ananda tercinta nun jauh di sana mendapatkan paket tanda kasih sayang tepat pada waktunya karena kami selalu berbaik sangka .

Terimakasih JNE Express. Selamat Ulang Tahun ke -26 semoga tak lelah berinovasi dan mengantarkan titipan kami dengan amanah secara pasti.


Share:

Ketika Dilema Melanda


Apa yang terpampang pertama kali dalam benak ketika mendengar kata DILEMA? Apakah si Centini yang sedang melenggak-lenggok sambil menyanyikan lagu Dilema, atau kegalauan hati ketika harus memilih di antara dua, tiga dan seterusnya? Jawabannya terserah anda. Seperti terserah anda juga bagaimana mengatasinya.
Dilema, mungkin hampir setiap orang mengalaminya. Pas baru lulus sekolah interview sana sini lalu diterima di dua perusahaan bonafid sekaligus tentu harus pilih yang mana, saat dua lelaki datang melamar untuk dijadikan istri mantapnya sama siapa? lalu sudah jadi emak-emak online maniacs masih saja mengalami dilema menentukan saat belanja baju terbaru nunggu obral Harbolnas (Hari Belanja Online Nasional) atau Pesta Cashback #eh. Stop...itu bukan kisah nyata saya. Hanya sekedar menggambarkan ribetnya dilema. Kalau tinggal pilih model sepatu atau warna baju sih bukan dilema yang membutuhkan pemikiran lama.
Saya pernah dihinggapi dilema yang cukup menyiksa meski tak sampai membuat saya ogah makan dan sulit tidur. Toh meski berbulan-bulan memikirkan pilihan terbaik nyatanya berat badan masih bertahan. Dilema terbesar saya alami tahun 2012. Ketika harus memilih: terus bekerja kantoran atau keluar dari “zona nyaman” dan menghabiskan lebih banyak waktu di rumah. Zona nyaman sengaja saya tulis dalam tanda petik sebab nyaman yang saya maksudkan adalah perasaan aman atas penghasilan pasti setiap bulan.
Dilema di antara dua


Jujur saja, saya bukan wanita pengejar karir, tetapi emak pengejar penghasilan. Karena itu saya tak peduli dengan jabatan asal ada kenaikan gaji setiap tahun hehe. Disebut nyaman dengan bold dan garis bawah kenyataannya pekerjaan saya tidak menjanjikan rasa nyaman. Gaji tidak istimewa tetapi resiko kerjanya cukup tinggi mengingat saya pernah mengganti uang perusahaan jutaan rupiah karena tanggung jawab sebagai supervisor administrasi sekaligus kasir divisi operasional. Nggak pernah pinjam uang perusahaan tetapi uangnya raib dan tak sesuai hitungan. Mau tak mau tentu saya harus mengganti “uang hilang” Dibilang nggak krasan lha wong saya bisa bertahan hingga hampir enam tahun padahal jarak tempat kerja ke rumah jauhnya sekitar 30 kilometer dan ditempuh dengan bus kota.
Dilema terjadi ketika anak bontot saya, Raditya harus beberapa kali ganti pengasuh. Sejak kami pindah rumah asisten rumah tangga kami hanya bertahan bekerja selama setahun karena dia tak bisa pulang setiap hari. Saya memutuskan Raditya masuk Daycare daripada mencari asisten rumah tangga yang baru. Pertimbangan saat itu adalah di daycare Raditya bisa belajar bersosialisasi dan mendapatkan dasar-dasar pengetahuan bagi anak-anak pra sekolah. Urusan masak, mencuci, menyeterika dan beberes rumah menjadi tanggung jawab saya kadang dibantu suami.
Semula semua mengalir begitu saja. Kondisi rumah dan anak-anak baik-baik saja. Raditya juga menunjukkan banyak kemajuan. Ia lebih mudah menghafalkan huruf hijaiyah, suka mewarnai dan mulai bisa menulis huruf. Pelajaran-pelajaran dasar yang seringkali tidak optimal saya ajarkan karena harus berbagi waktu dengan urusan pekerjaan rumah sepulang kerja. Sementara sang kakak Rafif yang baru duduk di kelas dua hampir tak ada masalah dengan urusan sekolah dan pergaulan di rumah. 
Masalah mulai timbul ketika di daycare Raditya timbul pergolakan. Para pengasuhnya satu persatu mengundurkan diri. Salah satu pengasuh kebetulan tinggal di dekat rumah. Sehingga ia berinisiatif membawa Raditya di rumahnya. Akhirnya kami pun tidak lagi menggunakan jasa daycare tetapi langsung membayar pada si pengasuh. Sayangnya anak bungsu si pengasuh yang tengah berusia remaja berperilaku tidak sopan. Saya pernah melihatnya mengeluarkan kata-kata kotor kepada sang ibu. Raditya pernah bercerita kalau anak itu marah-marah bisa menjambak rambut segala. Saya khawatir dengan perkembangan psikologis Raditya. Ditambah dengan vonis dokter pada si kakak untuk segera dikhitan karena ada gangguan kesehatan pada organ prianya.
Jika Rafif dikhitan maka saya harus mendampinginya hingga sembuh. Tak mungkin rasanya melepasnya sendirian di rumah setelah cuti saya yang maksimal dua hari kerja. Kalau saya terus bekerja dan menitipkan Raditya di pengasuh yang sama kekhawatiran melanda. Tingkah laku anak pengasuh bisa menyebabkan dampak buruk bagi kepribadiannya. Tapi kalau saya berhenti bekerja bagaimana membayar angsuran KPR rumah, uang bulanan untuk Mama dan infaq bulanan sebagai donatur tetap yayasan sosial yang selama ini diambil dari gaji saya sebab gaji suami cukup untuk makan dan membayar tagihan lain non KPR (maaf ini bukan membuka aib atau pamer manfaat gaji tetapi sekedar menggambarkan beratnya dilema)
Pak ustadz kalau dicurhatin masalah begini pasti menyuruh sholat istikharah. Masalahnya hubungan saya dengan Allah tidak terlalu mesra sehingga saya mungkin kurang mampu menangkap maksudNya. Untuk mengambil keputusan antara berhenti atau terus bekerja hal pertama yang saya lakukan adalah meminta pertimbangan plus ridho suami dan restu Mama. Suami saya hanya berkata “terserah kamu saja” (namun saya melihat sebenarnya ia merasa berat). Sementara Mama hanya bisa mendoakan yang terbaik untuk saya.
Banyak hal yang menjadi pertimbangan sebelum memutuskan solusi dari dilema yang saya hadapi. Plus minus jika saya tidak bekerja serta dampak positif dan negatif jika saya terus bekerja. Ok perinciannya kurang lebih:
# Jika saya tetap bekerja: finansial keluarga aman, tabungan persiapan biaya sekolah anak-anak terpenuhi, tagihan-tagihan terbayar. Namun konsekuensinya ada kemungkinan Raditya tumbuh dalam lingkungan yang kurang kondusif dan meniru perilaku anak pengasuh, Rafif kebingungan dalam masa penyembuhan setelah khitan atau terus mengundur proses khitan padahal ia terus kesakitan? Kemudian saya juga masih bertanggung jawab agar lebih sering menjenguk Mama yang tinggal sendiri di luar kota sejak meninggalnya adik bungsu saya di tahun 2011 padahal hari libur saya hanya Minggu, bagaimana cara membagi waktu? (apalagi Mama menolak mentah-mentah untuk meninggalkan rumah kenangan dan tinggal bersama anak-anaknya yang lain)
# Di sisi lain jika saya berhenti bekerja: darimana pos-pos pembiayaan yang selama ini bersumber dari gaji. Tetapi Raditya dan Rafif insyaallah aman dan nyaman di rumah sendiri.
Keputusan kemudian diambil setelah berbulan-bulan diombang-ambingkan kebimbangan. SAYA HARUS BERHENTI BEKERJA. Satu hal yang membuat saya akhirnya memutuskan untuk berhenti bekerja adalah anak-anak. Selama berbulan-bulan saya belum menemukan solusi agar anak-anak terjamin kesehatan dan kondisinya maka saya anggap keputusan berhenti bekerja adalah yang paling tepat.
My Precious

Masalah menutup tagihan, saya dan suami berembug. Sisa KPR ditutup dengan sisa tabungan saya ditambah hasil penjualan motor. Satu-satunya motor kemudian dijual dan kami mengajukan kredit lagi. pertimbangannya membayar angsuran motor lebih murah daripada angsuran rumah. Lalu kewajiban lainnya? Beberapa tahun sebelumnya saya sudah pernah vakum dari dunia kerja kantoran, mengurus Rafif dan rumah sepenuhnya selama dua tahun. Kondisi finansial keluarga dan rasa jenuh yang kemudian mendorong saya kembali melamar kerja hingga akhirnya berkarir selama hampir enam tahun. Belajar dari pengalaman maka sebelum mengajukan surat permohonan berhenti bekerja saya mulai mengasah bakat yang sekiranya bisa menjadi ladang rezeki baru sekaligus aktivitas mengisi waktu. Menulis, mengikuti aneka lomba dan kuis adalah serangkaian aktivitas yang rutin saya lakukan di jam-jam istirahat atau waktu senggang. Senangnya aktivitas-aktivitas tersebut kemudian mendatangkan hasil. Saya menyukai prosesnya apalagi hadiah kemenangannya. InsyaAllah aktivitas ini menjadi salah satu pembuka pintu rezeki.
Maka resmilah saya mengajukan surat pengunduran diri di bulan Desember 2012 tepat sehari sebelum Rafif dan Raditya dikhitan. Meski hubungan saya dengan Allah saat itu tidak terlalu mesra namun saya mendapatkan banyak hikmah. Hikmah berupa kepasrahan, tawakal yang sebenarnya. Bahwa janji Allah sebagai Pembagi Rezeki yang Maha Adil tidak sepatutnya dipertanyakan. Saya tak pernah menyesal pernah memilih jalan menjadi wanita pekerja. Dan saya pun menikmati keputusan untuk berhenti bekerja. 

Pemandangan sepulang kerja yang kadang saya rindukan.
 Senja dan burung-burung pulang ke sarang

Seiring berjalannya waktu berbagai rintangan menguji keputusan yang telah diambil. Biaya-biaya transportasi untuk mengantar Mama pulang pergi dari rumah kami ke tempat tinggal Mama yang cukup menguras tabungan, kerusakan beberapa perabot rumah yang kembali membuat saya merogoh sisa tabungan hingga yang terbesar adalah kesulitan finansial ketika suami terPHK, jobless untuk beberapa lama dan mengalami kecelakaan padahal kami tak punya cukup biaya operasi (dan akhirnya berhutang kepada kakak ipar yang tak kunjung lunas hingga kini) Berbagai rintangan itu sempat membuat saya terpuruk, mempertanyakan sudah benarkah keputusan resign tersebut. Apalagi atasan saya tiba-tiba menelepon dan mengajak untuk kembali bekerja. Saat itu suami dalam kondisi jobless dan menyarankan saya menerima tawaran tersebut. Tetapi saya bersikukuh untuk tetap tinggal di rumah dan memilih mengais rezeki sebagai freelance termasuk sebagai penulis konten dengan fee recehan. Kalau bekerja lagi di tempat yang sama paling cepat saat adzan Maghrib berkumandang saya baru tiba di rumah. Berat rasanya meninggalkan kelas pengajian sore hari yang saya ikuti untuk memperbaiki bacaan Al Quran selepas vakum dari dunia kantoran. 
Tak mudah bertahan dengan kondisi finansial goncang dan musibah demi musibah datang silih berganti. Tetapi Allah tak pernah ingkar janji. Setelah sempit datanglah lapang. Setelah sempat menjual televisi, berbagai hadiah kuis dan lomba termasuk helm baru seharga ratusan ribu rupiah dan menggadaikan satu-satunya kalung yang saya miliki demi menyambung hidup alhamdulillah suami bisa mencari nafkah kembali. Alhamdulillah kondisi finansial keluarga kembali stabil. Malah sekelumit kisah tentang menggadaikan kalung sempat menjadi penghias artikel yang kemudian memenangkan lomba Road Show Pegadaian 2016.
Saya mendapatkan pelajaran ada rahasia di balik dilema. Bahwa proses menentukan pilihan merupakan bagian dari pendewasaan. Bimbang memilih A, B atau C bisa datang kapan saja, tentang apa saja. Tak perlu terburu-buru mengambil keputusan. Memilih salah satu tetaplah menjadi kewajiban. Sertailah keputusan tersebut dengan doa memohon yang terbaik menurut Allah. Dan bersiap dengan segala konsekuensinya termasuk jika di kemudian hari hasil keputusan tersebut jauh dari harapan dan kondisi yang kita damba.

Share:

Pesona Kecantikan Alami Wanita Masa Kini

Kulit sehat mulus bercahaya adalah dambaan setiap wanita. Begitu juga saya. Sayangnya hingga usia kepala empat saya harus mengakui masih bermasalah dengan warna kulit, terutama kulit wajah. Tak perlu diperdebatkan apakah memiliki inner beauty lebih baik daripada memperhatikan kecantikan ragawi. Buat saya pribadi mengoptimalkan kecantikan dari dalam dipadu merawat kecantikan fisik adalah perpaduan sempurna untuk mensyukuri nikmat Allah. Bukankah merawat kecantikan sama artinya dengan menjaga karunia Allah?
Cantik yang saya dambakan adalah kecantikan alami, bukan karena operasi plastik untuk mengubah ciptaan Allah sedemikian rupa. Saya hanya ingin menyenangkan hati suami agar saat dia pulang kerja berpayah-payah saya bisa menyambutnya dengan ramah dan wajah yang bersinar cerah. 
Lalu di mana masalahnya? Masalahnya dari dulu saya kurang telaten melakukan perawatan wajah. Padahal sejak muda saya tergolong cewek yang menghabiskan banyak waktu di luar rumah. Hiking bersama teman-teman, menyusuri pantai atau air terjun yang artinya harus sering terpapar sinar matahari. Apalagi ketika sedang dalam proses membangun karir, melamar kerja ke sana kemari saya sempat bekerja serabutan di tambak ikan sebagai petugas lapangan. Wajah menghitam, telapak kaki belang jangan ditanya lagi. Paling banter saya hanya mencuci wajah dengan sabun khusus wajah dan membilasnya hingga bersih. Sepertinya langkah ini kurang memadai.
Hingga sekarang bekas-bekas petualangan saya menantang matahari masih tampak jelas. Wajah saya tampak kusam. Sebagian kulitnya tampak lebih gelap dari bagian kulit wajah lainnya. Kalau pas dibedakin jadi susah. Ditebelin seolah seperti menambal dinding menggunakan semen putih. Memakai alas bedak? Saya jadi aneh melihat wajah sendiri. 
Perhatikan daerah dahi, tampak sebagian (di puncak dahi) berwarna lebih gelap dari bagian lain. Dokumen pribadi

Browsing kesana kemari, saya menemukan beberapa faktor yang dapat menyebabkan warna kulit wajah tidak sama, atau tampak kusam tak bercahaya:
1.   Sinar matahari
Tak diragukan lagi sering terpapar sinar matahari bisa menyebabkan kulit wajah bisa tampak belang, berbeda warna. Sinar UV yang membuat perubahan tersebut. Apalagi jika kulit tidak terlindungi oleh tabir surya. Saya akui saya malas sekali melakukan perawatan wajah. Bekerja di bawah terik mentari saat masih serabutan itu hanya mengandalkan topi. Pernah mencoba masker bengkuang tapi malas melanjutkan lagi. Sinar UV matahari bisa menyebabkan kelainan pada kulit seperti melasma yaitu warna kulit berubah kecokelatan, abu-abu atau muncul bintik hijau atau lentigo surya yaitu warna belang yang muncul di wajah, tangan, kaki karena terpapar langsung sinar mentari dalam waktu lama
2.  Bekas luka
Bekas luka bisa menimbulkan warna kulit yang berbeda. Baik luka gores maupun luka yang lebih dalam.
3.   Obat-obatan
Ada beberapa obat yang bisa menyebabkan kulit belang sebagai efek sampingnya. Minosiklin adalah salah satu contoh obat yang berefek samping mengubah sebagian warna kulit.
4.  Genetis
Belang karena faktor genetis bisa disebabkan oleh bawaan albino atau vitiligo. Albino adalah kondisi seseorang yang terlahir tanpa memiliki enzim penghasil melanin sebagai pewarna kulit. Vitiligo adalah kondisi yang disebabkan oleh kurangnya produksi warna kulit. Kulit belang akibat vitiligo disebabkan oleh rusaknya sel penghasil pigmen kulit karena autoimun.
Sepertinya dari beberapa faktor tersebut, penyebab kulit wajah saya tidak merata warnanya adalah sinar matahari. Penyesalan memang datang terlambat. Tetapi upaya penyelamatan tak mengenal kata terlambat bukan? Lebih baik terlambat daripada tidak sama sekali. Saatnya mencari solusi agar kulit wajah kembali berseri eeaa. Pengennya punya pesona kecantikan alami wanita masa kini, bukan hasil operasi hihi.

Solusi dari permasalahan kulit wajah seyogyanya merupakan langkah yang komprehensif dan saling support satu sama lain. Langkah yang memecahkan masalah tanpa menimbulkan masalah (kok seperti pegadaian saja hehehe). Artinya bukan langkah sulap seperti operasi plastik atau menggunakan produk yang menimbulkan efek samping. Saya memetakan langkah solutif tersebut dengan cara:
1. memilih produk perawatan wajah yang tepat. Mahal bukan jaminan produk kosmetik sesuai dengan kulit wajah kita. Produk yang diperuntukkan bagi kulit wanita Asia tentu lebih terjamin kesesuaiannya dibandingkan produk bagi wanita Eropa. Karakteristik kulit wanita Asia jauh berbeda dengan karakteristik kulit wanita Eropa. Tingkat paparan dan intensitas sinar matahari juga turut berpengaruh dalam memilih produk perawatan yang sesuai dengan karakteristik kulit wajah
2. mengimbanginya dengan pola hidup sehat. Proses perawatan wajah hendaknya diimbangi dengan pola hidup sehat. Sehat dari sudut pandang nutrisi yang dikonsumsi (memperbanyak minum air putih, makan buah dan sayuran) serta sehat dalam gaya hidup alias tidak merokok, menghindari begadang, berpikir positif dan cukup olahraga plus istirahatnya juga.
Sumber: Pixabay

3. Memperbanyak senyum. Haaa kecantikan luar dalam kan harus dipadukan secara maksimal. Gaya hidup sehat diterapkan, produk perawatan wajah diaplikasikan tapi kalau suka mikir yang berat, sering berburuk sangka, wajah cemberut dan ogah senyum pastinya kurang sedap dipandang ya.

InsyaAllah langkah 2 dan 3 bisa diterapkan secara swadaya asal istiqomah, Tetapi langkah pertama tentu butuh konsultasi dengan ahlinya. Saya jadi penasaran kira-kira ada nggak ya produk perawatan wajah untuk menyamakan warna kulit wajah saya. Tempo hari saat ada undangan bagi blogger untuk mengikuti praktek dan review BSKIN di Sidoarjo saya pas lagi ada kendala untuk hadir. Padahal ingin sekali menemukan solusi atas masalah kulit wajah yang saya hadapi.
Ya sudahlah demi pelipur lara saya berselancar ke website resmi BSKIN. Siapa tau ada pencerahan dari kekusaman wajah yang saya derita #eh. Awalnya sempat ragu dengan produk-produk kecantikan import tetapi kemudian saya mendapatkan pencerahan dari informasi yang berharga. Ternyata produk BSKIN telah diuji secara dermatologis oleh The Clinical Trial Centre for Bio Industry di Universitas Semyung Korea. Artinya produk ini khusus diformulasikan agar sesuai dengan kulit orang Asia.
Thumbnail Image
Produk BSKIN menawarkan solusi untuk mengatasi permasalahan kulit orang Asia tanpa khawatir efek samping dari bahan kimia berbahaya. Menurut informasi yang saya peroleh dari situs resminya produk BSKIN bebas zat kimia berbahaya, diformulasikan dengan B2O yang inovatif yaitu senyawa dari bahan perlebahan serta mampu mengkombinasikan kekuatan anti oksidan secara sinergis. Sudah sering membaca artikel atau menonton berita tentang bahaya merkuri dalam kosmetika bagi kulit bukan? Nah produk BSKIN aman digunakan karena menggunakan bahan alami berkualitas tinggi. Produk kosmetik ini telah dijual di lima negara : Singapura, Indonesia, Hongkong, Philipina dan Malaysia. Untuk membeli dan cara join BSKIN bisa dilihat di situs resminya di bagian Where To Buy

 Jadi, produk BSKIN apa saja yang kira-kira bisa membantu saya menemukan solusi untuk masalah kulit wajah yang saya hadapi? Tak hanya maju ke medan perang yang butuh strategi. Memperbaiki kerusakan kulit wajah pun tak sekedar mencari solusi. Pesona kecantikan alami wanita masa kini hadir sebagai hasil dari sebuah proses dan langkah-langkah yang saling bersinergi, bukan hasil manipulasi. Saya pikir setidaknya butuh tiga langkah agar kulit wajah saya yang tak rata warnanya ini bisa kembali seperti sediakala yaitu:
1. langkah membersihkan
2. langkah "memutihkan"
3. langkah perawatan atau maintenance.

Menelusuri produk BSKIN sepertinya saya punya dua pilihan yaitu BSKIN VLine atau BSKIN WLine. Produk BSKIN V Line sangat tepat untuk langkah "membersihkan" sekaligus merawat kesehatan dan kekenyalan alaminya. Menurut informasi dari situs resminya rangkaian produk BSKIN VITA ADVANCED merupakan program 5 langkah yang diformulasikan khusus untuk membantu revitalisasi kulit lelah, kusam, dan kendur. Bahan-bahan dalam Vita Advanced Line bekerja secara sinergis untuk memperbaiki elastisitas kulit dan menghambat tanda-tanda penuaan dini dan menjaga kulit tetap lembab dan segar.
PROGRAM 5 LANGKAH
1. Soft Bead Cleanser - pas banget sebagai langkah membersihkan kulit wajah secara sempurna
2. Natural Balance Essence - diperlukan untuk menjaga keseimbangan kelembaban kulit wajah secara alami
3. Intense PAF Concentrate - merupakan serum vitamin C yang bagus untuk menjaga kekenyalan dan cerahnya kulit wajah
4. Active Day Cream - dipakai siang hari. Pastinya mengandung tabir surya
5. Regenerative Night Cream - digunakan malam hari untuk membantu mensupport regenerasi sel-sel kulit wajah.


Nah setelah langkah membersihkan, langkah berikutnya adalah "memutihkan". Saya memimpikan kulit wajah yang putihnya berseri, merona. Bukan putih pucat pasi seperti mayat hiii. Setelah saya telusuri tampaknya produk W Line sangat sesuai untuk tujuan kali ini.
        Rangkaian produk BSKIN WLine alias WHITE GLOW adalah program lima langkah yang dirancang untuk memancarkan kecantikan dari dalam. Bahan-bahan yang terkandung dalam rangkaian produk WHITE GLOW bekerja secara sinergis untuk menyamakan dan mencerahkan warna kulit sekaligus melembutkan tekstur kulit. Kulit pun menjadi lebih putih dan berseri.
PROGRAM 5 LANGKAH WLine adalah:
1. Rich Bubble Cleanser - membersihkan kulit wajah dengan sempurna
2. Even Tone Essence - suplemen untuk menyamakan warna kulit dan menyegarkan kulit wajah

3. Enriched Brightening Serum - suplemen untuk mengkondisikan kulit wajah agar lebih  cerah

4. Illuminating Day Cream - berfungsi menjaga kelembaban dan kekenyalan alami kulit wajah

5. Refining Night Cream - berfungsi menunjang ketersediaan nutrisi bagi kulit wajah dan mensupport proses regenerasi sel kulit wajah.

Jadi bingung nih, dua paket perawatan ini sama bagusnya dan bermanfaat. Kira-kira saya harus pilih rangkaian produk perawatan wajah VLine atau WLine? atau saya menggunakan VLine dahulu untuk beberapa bulan kemudian lalu melanjutkan ke WLine? Ah jadi menyesal nggak hadir di acara review BSKIN tempo hari di Klinik di Sidoarjo. Kalau hadir kan bisa mendapatkan momen khusus untuk mencoba produk dan bertanya lebih intensif. Mudah-mudahan kelak ada kesempatan bagi saya berkunjung ke klinik BSKIN dan menemukan solusi terbaik bagi masalah kulit wajah kemudian dengan senang hati menuliskan hasil perawatannya di blog ini.


*Artikel Curhat sekaligus menyemarakkan Give Away mbak Li Partic"
Share:

8 Hari Menuju Kematian

dnamoraGA


Kullu nafsin dzaaiqatul maut. “Setiap yang berjiwa akan merasakan mati”. Penggalan ayat tersebut tentu tak asing bagi kaum muslimin. Ayat yang selalu mengingatkan bahwa tak ada yang abadi di dunia ini. Peringatan tentang pentingnya menyiapkan bekal kematian semakin lengkap dengan cuplikan ayat berikutnya. Kemudian hanya kepada Kami sajalah kamu akan dikembalikan.

QS. Al Ankabut : 57. Tiap-tiap yang berjiwa akan merasakan mati. Kemudian hanya kepada Kami sajalah kamu akan dikembalikan.

Jadi bekal apa yang telah disiapkan untuk menghadap Sang Pencipta sebab Allah telah berfirman “Barangsiapa yang mengerjakan kebaikan sekecil apa pun, niscaya dia akan melihat (balasan)nya. Dan barangsiapa yang mengerjakan kejahatan sekecil apa pun, niscaya dia akan melihat (balasan)nya pula.” (QS. Al Zalzalah : 8)

Merencanakan untuk menghabiskan hari-hari menjelang ajal buat saya cukup membuat bulu roma merinding. Terbayang seperti apa wajah malaikat maut ketika menjemput, apakah ia berwajah teduh dan mengucap salam, mencabut nyawa dengan perlahan. Atau berwajah sadis dan mencabut nyawa dengan kasar? Semua berpulang kepada perilaku kita ketika hidup. Tentu seperti tuntunan Rasulullah saya selalu berdoa untuk dijemput dalam keadaan khusnul khotimah.
Postingan tentang kematian ini sengaja saya tulis 8 hari menjelang Deadline Give Away yang diadakan mbak Desi Namora. Hari ini, 23 Maret 2016 artinya 8 hari lagi 31 Maret 2016 adalah DL Giveaway “8 Hari Menjelang kematian”. Dengan tujuan sebagai pengingat bahwa saya sewaktu-waktu akan dijemput sang malaikat.
Apa yang harus saya lakukan jika delapan hari kemudian ternyata adalah hari terakhir saya mencicipi bakso dan es degan di dunia ini?. Teringat kembali akan 3 hal kebaikan yang tak terputus meski kita telah kembali kepada Sang Pencipta yaitu : amal jariyah, doa anak yang sholeh dan ilmu yang bermanfaat. Andai sang malaikat maut datang 8 hari sebagai peringatan sebelum ajal, saya harus melakukan beberapa hal berikut:
Day 1. Saya harus mempersiapkan tetek bengek pemakaman. Saya mendambakan makam yang sederhana, dengan rumput taman di atasnya dan bunga melati berada di dekat nisan berupa batu hitam. Maka saya ingin menyiapkan bibit bunga melati dan rumput teki dalam pot kecil yang bisa dipindahkan dengan mudah. Saya juga perlu menyiapkan keperluan memakamkan secara Islam, kain kafan dan tetek bengeknya karena saya tak ingin terlalu banyak merepotkan mereka yang saya tinggalkan.
 
Foto diambil dari posting facebook salah satu kerabat saya.

Day 2. Saya ingin mewujudkan impian menyaksikan indahnya kepulauan Derawan. Untuk keperluan itu mungkin saya harus mencairkan Jamsostek pribadi yang tak kunjung bisa diambil meski saya telah resign empat tahun lalu. Mudah-mudahan di hari kedua menjelang kematian ini saya berhasil mendapatkan dana yang nominalnya berlebih untuk dua hari berlibur di Derawan. Sepulang dari kantor BPJS ketenagakerjaan saya berencana mampir panti asuhan, menyerahkan sebagian hak anak-anak yatim dari hasil menabung di Jamsostek/BPJS ketenagakerjaan. Saya ingin menyisihkan sebagian dari uang tabungan itu untuk wakaf Al Quran. Sebagian lagi saya sisihkan untuk tabungan pendidikan anak-anak.
 
Foto milik AdmireIndonesia.com

Day 3 dan Day 4. Andai cita-cita saya untuk melihat Kepulauan Derawan dikabulkan. Saya bisa menghabiskan Day 3 dan Day 4 untuk berkeliling Derawan. Cukup dua hari karena masih banyak yang harus saya kerjakan. Oh iya, saya teringat pada koleksi buku-buku saya yang belum terbaca. Buku-buku ini akan saya bawa serta dalam travelling yang menyenangkan. Andai keinginan ini tak tergapai toh saya masih bisa membaca buku-buku koleksi untuk mengisi waktu. Mengapa harus segera saya baca? Sebab saya khawatir di depan Allah dimintai pertanggungjawaban : membeli dan mendapatkan buku hadiah tapi kok dibiarkan mubadzir? Kenapa menyempatkan ke Derawan? sebab mensyukuri nikmat Allah dengan menikmati pemandangan adalah salah satu cara tafakur alam dan bagian dari tafakur Al Quran.

Day 5 Memasak menu istimewa. Selama ini saya terbilang paling malas bereksperimen dengan kegiatan masak memasak. Setidaknya sekali dalam hidup saya (itu pun menjelang mati ya hiks) ingin menyajikan menu istimewa yang belum pernah atau jarang dinikmati keluarga. Kalau biasanya hanya memasak sop dan tempe dan masakan-masakan lain yang bumbunya mudah ditemui penasaran pula ingin menyajikan yang beda seperti tom yam, dim sum, ikan gurami asam manis ..yah macam-macam menu yang biasa disajikan di restoran.

Day 6. Sudah makin dekat saja dengan kematian. Saya tak ingin kepergian saya menyisakan hal yang mengganjal. Bersilaturahim ke tetangga, teman-teman dekat dan kerabat, tulus meminta maaf karena mungkin saja selama hidup saya telah berbuat dzolim dan melakukan kesalahan yang menyakitkan hati mereka. Saya mungkin tak lagi membuka akun facebook dan twitter setelah postingan terakhir saya adalah tentang permintaan maaf kepada teman-teman dunia maya. Jujur saja kalau lagi asik bermedsos kadang suka lupa waktu, kadang tanpa disadari malah komen dan posting yang mungkin menyakiti akibatnya permintaan maaf saya tak lagi berarti. Lebih baik saya menghabiskan waktu untuk memeriksa hafalan Al Quran saya kembali. Alhamdulillah salah satu kegiatan saya bersama tetangga adalah pengajian tahfidz Quran. Belum seberapa yang kami hafalkan tetapi setidaknya menambah hafalan akan lebih bermanfaat daripada saya tergoda dunia yang penuh permainan.

Day 7. One more day to go, saya ingin mewariskan ilmu yang bermanfaat dan berharap mendapatkan kebaikan di akherat. Di hari terakhir ini saya ingin membuat tulisan di blog tentang apa saja yang sekiranya bermanfaat, tentang tata cara mencairkan BPJS, tips travelling ke Derawan, resep dari menu istimewa yang saya sajikan atau tips menghafalkan Al Quran. Saya juga merencanakan menulis “surat wasiat” untuk suami dan anak-anak mengingatkan kembali wasiat Rasulullah untuk selalu berpegang kepada Al Quran dan Al Hadits. Mengingatkan kembali bahwa betapapun saya mencintai mereka namun akan tiba saatnya berpisah sehingga masing-masing jiwa harus mempersiapkan diri bertemu dengan Sang Maha Segala.

Day. 8 This is it. Konon di saat-saat terakhir menjelang kematian badan terasa seperti tak berdaya, lemas dan kemampuan melihat, mendengar perlahan berkurang. Saya hanya ingin menghabiskan waktu bersama keluarga dan memastikan lisan dan hati saya tak pernah lelah membisikkan dzikir. Sungguh kematian adalah guru terbaik bagi mereka yang mampu berpikir.

Saya paham bahwa berandai-andai adalah hal yang tidak diperkenankan oleh Allah. Namun salah satu tanda orang pandai adalah mereka yang sering mengingat kematian dan mempersiapkan bekal sebelum jiwa benar-benar dipisahkan. Maka postingan ini sekedar sebagai pengingat bahwa hal yang pasti datangnya dan paling dekat dengan setiap umat adalah kematian.


Share:

My Life Story : A Mother is A Transformer




Mother is A Transformer, rasanya ungkapan itu paling cocok buat saya. Setelah menjadi ibu saya merasa mengalami perubahan signifikan termasuk perubahan berat badan. Tidak hanya mengalami transformasi finansial tetapi juga semangat spiritual. Orang-orang yang pernah mengenal masa kecil saya pasti kaget melihat saya sekarang : kok bisa gemuk, kok jadi ceriwis? Ya iyalah lha saya dulu lebih dikenal sebagai anak ceking, pendiam cenderung kuper sekarang menjadi emak beranak dua dengan berat badan naudzubillah dan cerewetnya “Oh My God” punya. Apakah saya menyesal dengan perubahan ini. Tidak, hidup adalah proses dan perubahan yang mungkin tak terpikir sebelumnya. Semua yang terjadi nikmati saja.
Transformasi yang saya alami mungkin adalah bagian dari proses agar saya lebih memahami hakekat hidup ini. Perubahan yang saya alami tidak terjadi seperti main sulap, baca mantra hap hap lalu berubah dalam sekejap namun melalui tahapan yang setiap prosesnya saya nikmati sepenuhnya. Senangnya berpartisipasi dalam #Bundafinaufara1stGiveaway adalah saya bisa bernostalgia tentang masa kecil, remaja hingga menjadi bunda.
Masa Kecil
     Saya lahir 9 April 1976, insyaAllah tahun ini genap 40 tahun usia. Terlahir di tengah keluarga sederhana tidak menyebabkan kami, empat bersaudara kehilangan masa kecil yang bahagia. Meski lahir dengan berat badan 3,6 kilogram tetapi menginjak usia kanak-kanak saya dikenal sebagai si ceking. Masih teringat Papa sering memarahi saya karena pilih-pilih makanan dan memilih mogok makan jika masakan Mama tak sesuai selera. Bisa ditebak kemudian selama bertahun-tahun saya menderita penyakit maag dan sering kambuh hingga bolos sekolah.
      Dalam benak kembali terbayang masa kecil yang cukup menyenangkan namun saya tergolong anak yang kuper dan minder. Hanya beberapa teman dekat yang bisa bergaul erat dan saya sering grogi, tak mampu berkata-kata di depan orang yang belum saya kenal. Hiks bahkan saya tak berani meminta kembali gelang monel hadiah dari kakek ketika terjatuh di halaman sekolah dan dipungut orang lain tepat di depan mata.


Masa Remaja
      Meski dikenal sebagai sosok pendiam dan kutu buku tetapi keluwesan saya dalam bergaul lebih baik dibandingkan masa kecil. Ketika duduk di bangku sekolah SMP dan SMA saya memiliki beberapa sahabat yang terkadang masih saling sapa dan mengunjungi hingga saat ini. Rasa syukur tersemat dalam hati mengingat masa remaja yang cukup berprestasi. Selama duduk di bangku SMP saya mampu meraih rangking satu dan ketika menginjak kelas dua sempat mencicipi hadiah bebas uang SPP sesuai kebijakan sekolah saat itu bagi peraih prestasi.
      Kurus, pendiam, kutu buku seolah menjadi trade mark saya saat itu. Meskipun demikian bukan berarti menjadi sosok introvert yang penakut. Sekolah SD dan SMP yang 5 kilometer jauhnya dari rumah saya tempuh dengan bersepeda. Bahkan saat duduk di kelas 5 SD saya sempat mengalami kecelakaan dan menderita gegar otak ringan dan menyebabkan sering menderita sakit kepala hingga sekarang.
      Selama SD hingga SMP hampir selalu meraih rangking satu tentu kenangan yang membahagiakan apalagi ketika DANEM saya sempat menjadi nomor empat sekotamadya ketika lulus SMP dan masuk 10 besar di SMA favorit. Meski demikian saya tetaplah Yeni – panggilan buat saya dari orang rumah - yang pemalu dan tidak banyak bicara. SMA favorit di kota kecil kami saya tempuh dengan berjalan kaki, menyusuri pematang sawah dan selalu gemetaran ketika bertemu ular sawah atau harus berlari-lari untuk menyingkir dari rel ketika peluit tanda bahwa kereta segera melintas terdengar dari kejauhan.
      Masa SMA inipulah saya mengenangnya sebagai masa duka. Ayah meninggal dunia ketika saya duduk di kelas dua. Sejak saat itu kondisi keluarga kami berubah drastis. Dari keluarga sederhana yang pas-pasan menjadi kekurangan karena ibu adalah ibu rumah tangga biasa tanpa penghasilan. Untuk biaya sekolah ibu menjual separuh pekarangan rumah dan terpaksa meminta bantuan seikhlasnya pada kerabat yang bersedia memberikan bantuan. Bertahun-tahun ibu menerima sumbangan ala kadarnya dari sepupu dari pihak ayah dan paman adik kandung ibu.
      Hidup dalam keterbatasan tidak membuat kami patah semangat dalam menempuh pendidikan. Adik lelaki saya diterima di pendidikan kedinasan, adik perempuan saya menuntut ilmu di Sekolah Menengah Farmasi di Surabaya dan saya berhasil lolos UMPTN di sebuah universitas terkemuka di kota Malang. Alhamdulillah saya berhasil mendapatkan beasiswa sejak duduk di tingkat II hingga lulus di tahun keempat kuliah. Kost-kostan saya lumayan jauh dari kampus demi mencari tarif murah. Saat itu sekitar tahun 1994 tarifnya sekitar 20 ribu rupiah setiap bulan. Uang saku saya berasal dari hasil penjualan pekarangan rumah yang dibayarkan secara bertahap oleh pembelinya. Berbekal 75 ribu sebulan padahal 20 ribu untuk membayar sewa kamar artinya saya harus mampu bertahan hidup dengan 55 ribu. Nasi bungkus 400 rupiah atau mi instan adalah menu saya sehari-hari. Bagi saya makan cukup dua kali sehari asal tetap bisa hidup saja dan sesegera mungkin meraih gelar sarjana.
      Hidup jauh dari Ibunda, keterbatasan biaya mungkin menjadi salah satu faktor penguat motivasi bagi saya untuk berubah menjadi semakin lebih baik. Di dunia perkuliahan saya mengenal lebih banyak teman dari berbagai kalangan. Saya juga dituntut aktif dalam organisasi kampus atau kegiatan kemahasiswaan demi syarat mendapatkan beasiswa. Kemungkinan aktivitas di kampus ini pula yang perlahan mengubah saya menjadi pribadi yang lebih terbuka dan lebih supel dalam bergaul.
Tebak, manakah saya?

Masa Dewasa
      Saya berhasil meraih gelar sarjana setelah 4 tahun menuntut ilmu. IP (Indeks Prestasi) 3,21 untuk lulusan Fakultas MIPA, Jurusan Kimia saya pikir menjadi bekal yang berharga bersaing di dunia kerja. Ternyata perkiraan ini salah. Cita-cita sebagai karyawan tak kunjung kesampaian. Saya pun sempat bekerja serabutan di tambak ikan. Selain membantu pekerjaan mengurus tambak saya juga memberikan les bahasa Inggris bagi anak sulung ekspatriat Taiwan sebagai pengelola tambak ikan. Setahun kemudian barulah saya diterima bekerja di perusahaan pelayaran internasional dengan gaji 500 ribu sebulan. Pernah terlintas pikiran: ternyata ilmu Kimia yang saya dapatkan di bangku kuliah terbuang percuma karena yang dibutuhkan dalam pekerjaan saya adalah kemampuan berbahasa asing dan keterampilan komputer. Namun lebih baik menghibur diri sendiri dengan memahami bahwa jalan hidup adalah takdir yang tak bisa dipungkiri dan harus disyukuri.
      Saya menikah di usia 25 tahun. Suami saya adalah teman di lokasi Kuliah Kerja Nyata saat masih kuliah (eh iya ini juga salah satu hal yang membuat saya tak perlu merasa kuliah yang sia-sia karena dengan menuntut ilmu di bangku kuliah saya jadi ketemu jodoh hehehe). Kondisi keuangan kami sebagai pasangan muda tak dapat dikatakan sempurna meski juga tidak kekurangan. Suami saya bahkan sempat terPHK di usia dua tahun pernikahan kami. Sepanjang 14 tahun pernikahan sang suami mengalami Pemutusan Hubungan Kerja sebanyak 7 kali. Sungguh kehidupan berumahtangga yang lengkap pasang surutnya tapi berat badan tak kunjung surut juaaa.
      Oh iya, tentang berat badan. Saya juga heran nih, semasa kuliah berat badan saya paling bangter 44 kilogram dengan tinggi 160 cm, kini sebagai ibu dari dua anak berat badan saya mencapai 68 kilogram padahal tinggi badan tidak berubah. Sebuah “prestasi” tersendiri hihihi. 
         Masa dewasa alias masa-masa menjadi ibu juga merupakan masa titik balik yang sangat berarti sebab saya merasa lebih dekat dengan Illahi. Dengan sedikit malu-malu saya mengakui bahwa saya baru mengenakan jilbab sekitar 5-6 tahun lalu ketika kami baru menempati rumah baru setelah 8 tahun bertahan di rumah yang langganan kebanjiran. Saya memutuskan mengenakan jilbab saat menyadari bahwa karunia Allah begitu besar namun perintahNya yang mewajibkan untuk menutup aurat tak kunjung saya jalani dengan benar. Semoga saya bisa istiqomah mentaati perintahNya dan menjadi insan yang lebih baik lagi dari hari ke hari.


      Kita mungkin tak dapat kembali ke masa lalu, memperbaiki yang keliru menjadi yang benar seperti seharusnya, mencegah perbuatan salah menjadi lebih lurus dan barokah namun setiap tahapan kehidupan pasti membawa hikmah dan pelajaran agar kesalahan yang sama tak pernah terulang.

"Tulisan ini diikutkan dalam Bundafinaufara 1st Giveaway"


Share:

Work at Home

Kumpulan Emak-emak Blogger

Blogger Perempuan

Blogger Perempuan

Ning Blogger Surabaya

Ning Blogger Surabaya

BloggerHub

Warung Blogger

KSB

komunitas sahabat blogger
Powered by Blogger.

About Me

My photo
Ibu dua putra. Penulis lepas/ freelance writer (job review dan artikel/ konten website). Menerima tawaran job review produk/jasa dan menulis konten. Bisa dihubungi di dwi.aprily@gmail.com atau dwi.aprily@yahoo.co.id Twitter @dwiaprily FB : Dwi Aprilytanti Handayani IG: @dwi.aprily

Total Pageviews

Antologi Ramadhan 2015

Best Reviewer "Mommylicious_ID"

Blog Archive

Labels

Translate

Popular Posts

Labels

Labels

Blog Archive

Recent Posts

Pages

Theme Support

Need our help to upload or customize this blogger template? Contact me with details about the theme customization you need.