catatan seorang ibu, wanita, hamba sahaya yang ingin berbagi pikiran dengan dunia

Mamaku Bukan Malaikat Tak Bersayap


Setiap kali 22 Desember tiba mendadak time line media sosial saya riuh dengan ucapan hari ibu. Ada juga satu dua yang kontra. Entah karena alasan: tidak diajarkan agama atau juga dengan ucapan sarkas "disuruh Ibu beli bawang ke pasar aja ga mau, giliran Hari Ibu bikin ucapan paling seru" 
Ga perlu buru-buru naik darah dengan yang kontra. Resapi dengan hati dan pikiran yang jernih maka kita pun mendapatkan hikmah bahwa yang mereka katakan ada benarnya.

Dalam agama Islam, perintah Allah telah jelas: berbaktilah kepada kedua orang tua. Jadi tak ada perintah untuk sekedar mengucapkan selamat Hari Ibu tapi malah enggan berbakti, misalnya enggan membantu beliau yang meminta bantuan pergi ke pasar ..nah loh.

Sebenarnya muhasabah saya tentang kewajiban berbakti tak hanya di hari Ibu saja. Seringkali saya berpikir apakah saya sudah benar-benar maksimal berbakti, ikhlas mengabdi pada Mama. Apalagi Mama memilih tinggal sendiri di rumah beliau di luar kota. Alasannya tak ingin merepotkan anak-anaknya. Padahal ya.. beliau memang tak pernah bisa kerasan tinggal di tempat yang bukan rumah sendiri.

Dengan alasan itulah saya tak punya cukup keberanian mengucapkan Selamat Hari Ibu kepada Mama. Ucapan dan ungkapan yang paling sering kudengar adalah "Selamat Hari Ibu, malaikat tak bersayapku" wow indah sekali ya...tetapi bagiku malah terdengar kurang manusiawi. Karena sosok malaikat berarti tak punya nafsu duniawi.

Kalaupun ada kesempatan mengucapkan Selamat Hari Ibu, dengan jujur saya akan mengatakan bahwa Mamaku bukan malaikat tak bersayap. Beliau juga bukan manusia tanpa cela. Namun dari kelebihan dan kekurangannya sebagai manusia saya banyak belajar tentang bagaimana menempatkan diri sebagai wanita, istri, ibu dan hamba Allah.

Saya tak ingin membuat list kekurangan Mama. Tapi ada hal-hal yang menjadi perhatian agar membuat saya berhati-hati dalam melangkah. Belajar dari pengalaman dan pengamatan, itulah yang coba saya lakukan.

Banyak yang saya pelajari dari mengamati bagaimana mama bersikap. Karena Mama pula saya mewajibkan diri untuk memilliki tabungan sebab Mama tak pernah punya tabungan dan kelimpungan saat butuh dana talangan untuk suatu hal.
Di satu sisi jiwa berbagi Mama sangat tinggi. Jika ada saudara, anggota keluarga, tetangga punya hajatan ...nominal angpau dari Mama..cukup besar lah di mata saya. Saat ada kerabat yang sakit dan membutuhkan biaya, Mama mengharuskan putra-putrinya patungan sebagai tanda empati. Suatu hari, ketika kondisi finansial sedang payah, uang tabungan tergerus untuk biaya hidup, saya pun menjual anting peninggalan almarhum Papa demi sedikit sumbangan untuk biaya berobat kerabat yang sedang sakit. 

Di hari tuanya Mama berupaya menyiapkan bekal menghadap Allah semaksimal mungkin. Beliau berangsur membayar hutang puasa saat remajanya karena keterbatasan ilmu agama di masa muda. Mama juga istiqomah mengakhiri setiap dini hari dengan sholat taubat. Hal inilah yang menjadi inspirasi bagi saya untuk lebih rajin menuntut ilmu agama dan membekali anak-anak dengan ilmu yang bermanfaat dunia-akhirat.

Kurang dan lebihnya kebiasaan hidup Mama selalu menjadi sumber inspirasi saya. Tentang bagaimana berinteraksi dengan Sang Maha Pencipta dan juga dengan sesama manusia. Agar kelak saat kembali ke haribaanNya, jiwa ini berpulang dalam keadaan minim dosa.




Terimakasih Mama..
Telah mengajarkanku hidup lebih bermakna 
Tentang bagaimana menjadi wanita
..bagaimana bersikap dewasa 
Tentang makna bijaksana
Terimakasih telah menginspirasi di setiap langkah
Bahwa ilmu tak perlu terburai dalam ribuan kata maupun sumpah.
Meski bibir diam seribu bahasa pun mampu menghujamkan hikmah.
Empat puluh satu tahun, tujuh bulan empat belas hari sudah...
Aku telah menjadi bagian dari kehidupanmu dalam suka maupun susah.

Terimakasih Mama...
Mengajarkanku tentang arti istiqomah 
Mengingatkanku ketika salah 
Mendoakanku tiada kenal lelah 
Karena Mama pula aku belajar bahwa kegelapan tak bisa dihindari...
tetapi butuh cahaya untuk menyinari.
Sebab Mama pula aku paham bahwa harapan akan selalu ada...
hingga menemukan takdir Sang Kuasa.

Semoga Sang Maha mengizinkanku untuk tak lelah berbakti hingga akhir masa...




Share:

Donasi Mesin Apheresis dari Prudential

Kanker, penyakit yang dikenal sebagai pencabut nyawa nomor wahid di Indonesia tak mengenal usia. Bahkan anak-anak yang tanpa dosa pun bisa meninggalkan dunia fana karena tak lagi mampu bertahan akibat serangannya. Sangat menyedihkan jika yang menderita penyakit kanker adalah anak-anak terutama dari golongan dhuafa. Biaya perawatan dan pengobatan kanker tidak bisa dibilang murah. Kesehatan memang mahal harganya

Saya sendiri pernah berpartisipasi dalam penggalangan dana untuk anak-anak penderita kanker melalui dunia maya. Saat itu dari kontes foto dan cerita di sebuah fanpage bisa terkumpul bantuan untuk anak-anak penderita kanker yang membutuhkan donasi biaya pengobatan dan perawatan. Memperhatikan, membantu dan mengupayakan pengobatan bagi penderita kanker adalah salah satu cara berbagi. Saya sangat mengapresiasi individu, instansi dan perusahaan yang menaruh perhatian secara khusus untuk membantu pengobatan kanker terutama pasien usia dini.

Prudential, penyedia jasa asuransi jiwa terkemuka di Indonesia adalah salah satu perusahaan yang peduli terhadap perawatan dan pengobatan bagi anak-anak penderita kanker di Indonesia. Kepedulian Prudential ditunjukkan melalui komitmen pemberian bantuan fasilitas penunjang pengobatan yang disalurkan lewat rumah sakit bagi penderita kanker. Salah satu bentuk donasi Prudential adalah mesin Apheresis. 


Bantuan tersebut diserahkan kepada pihak Yayasan Onkologi Anak Indonesia (YOAI) pada tanggal 13 Oktober 2107 untuk kemudian digunakan di Rumah Sakit Universitas Hasanuddin, Makassar. Mesin Apheresis merupakan mesin yang berfungsi membuang sel-sel kanker yang berada di dalam tubuh penderita dan membantu mempertahankan sel darah yang sehat dalam waktu cepat yaitu sekitar 2-3 jam. Tanpa menggunakan mesin apheresis pengobatan pasien kanker lewat jalan kemoterapi dilakukan dengan cara menekan jumlah sel darah putih secara konvensional yaitu menggunakan infus dan perawatan khusus di ICU selama seminggu.
 
Pengadaan mesin Apheresis merupakan donasi Prudential Indonesia yang kesekian kalinya melalui kerja sama dengan YOAI. Sebelumnya Prudential Indonesia telah memberikan bantuan mesin Apheresis untuk digunakan di Rumah Sakit Kanker Dharmais Jakarta, RSUD Dr. Soetomo Surabaya, RSUP Sanglah Denpasar, RS dr.Cipto Mangunkusumo Jakarta, RSUP dr. Sardjito Yogyakarta dan RS Hasan Sadikin Bandung.

Program tanggung jawab sosial Prudential Indonesia berfokus pada tiga pilar yaitu kesehatan, pendidikan serta kesiapsiagaan dan bantuan bencana.

Di bidang pendidikan bentuk kepedulian Prudential Indonesia diwujudkan salah satunya dengan donasi sebesar 1,85 Miliar rupiah untuk pengembangan sekolah ramah anak di Papua yang diserahkan pada 28 Agustus 2017 juga pembangunan gedung baru sekolah Yayasan Pembinaan Anak Cacat di Jakarta.

Di bidang kesiapsiagaan dan bantuan bencana wujud nyata kepedulian Prudential Indonesia ditunjukkan dengan berbagai bentuk donasi bagi para korban bencana alam seperti saat terjadi bencana gempa bumi Padang tahun 2010, meletusnya Gunung Kelud dan Gunung Sinabung tahun 2015 dan gempa bumi Aceh tahun 2016.

Di bidang kesehatan, Prudential telah menjalin kerja sama dengan YOAI sejak tahun 2003. Bentuk kerja samanya mencakup antara lain bantuan pengobatan anak-anak dan renovasi bangsal khusus bagi anak-anak penderita kanker di Rumah Sakit Kanker Dharmais, Jakarta.


Dalam sebuah kesempatan, Rahmi Adi Putra Tahir ketua Yayasan Onkologi Anak Indonesia (YOAI) menyatakan bahwa YOAI sangat beruntung bermitra dengan Prudential Indonesia. Donasi berupa mesin Apheresis merupakan komitmen Prudential Indonesia untuk menciptakan pengalaman berobat yang lebih nyaman melalui tersedianya fasilitas yang lengkap dan berkualitas bagi para pasien kanker terutama dari kalangan usia kanak-kanak.


Dunia anak-anak penuh warna. Semoga dengan bantuan mesin Apheresis ini membantu kanak-kanak penderita kanker mendapatkan kesembuhan agar mereka pun kembali ceria dan bahagia.

Share:

Pendekar 212 Tanpa Kapak Naga Geni

Beberapa minggu belakangan laptop saya ngadat. Awalnya cuma keyboardnya doang. Satu baris yang segaris dengan huruf QWERTY ga bisa diketik. Ihik sampai buat nulis kudu kopas huruf dari artikel-artikel sebelumnya. bayangin kalau mau ngetik WERTYQ maka saya harus kopas huruf itu satu satu dari artikel dan stok tulisan yang lama.

Ya udah bawa ke tukang servis katanya kena sekitar minimal 50 ribu. walah ya dah ga jadi.Mending beli baru yang standard 80 ribu aja. Ok lanjut ngekuis dan nulisnya. 

Ngga bertahan lama eh lha kok gagal start ya. Tiap kali muncul logo Windows lalu pettt mati. Pernah muncul peringatan ada file yang dicurigai sebagai malware. Saya coba delet dengan sistem virus ga mempan. Besoknya makin susah untuk nyala.

Kata si Papa coba baterainya dibuka, lepas, tutup lagi. Lalu saya praktekin eh bisa. Besoknya lagi cara itu sudah ga bisa dipakai. Maka laptop Dell Inspiron N 4010 andalan kesayangan sejak 7 tahun lalu ini dibawa ke bengkel laptop. Lucunya sampai sana si lepi bisa nyala dengan hepi. Dua kali dicoba tetap bisa nyala tanpa gangguan. Bikin keki. 
Lah cuma dua hari saja bisa nyala dengan lancar sekarang kopyor lagi. Mogok nyala. Sedih rasanya. Mau perbaiki kudu nunggu si Papa yg sekarang kerjanya di luar kota. berangkat sendiri kudu ngojek online ...trus nantinya siapa yang nemenin si kecil.Ya wis nrimo aja nunggu si Pa datang.

Ketika Laptop Ngadat maka Freelancer Bagai Pendekar 212 Tanpa Kapak Naga Geni.
Smoga ada rezeki untuk perbaiki, biar ga ubek2 tabungan buat beli laptop baru
Sekian artikel curhat kali ini (ditulis dengan laptop yang rewel)
Share:

Cerita #LiburanSantri (Gontor)

Posting kali ini khusus untuk mencatat "hikmah" yang dicatat emak selama masa libur si santri. Yup. Santri Gontor (kecuali kelas 6 dan yang mukim) berlibur semester awal sejak tanggal 28 November hingga tanggal 7 Desember. Gontor punya kurikulum sendiri - KMI, sehingga tidak berada di bawah program Diknas termasuk penyelenggaraan pengajaran dan masa libur

Catatan #1
Santri yang baru menginjak lantai rumah beberapa jam mencoret-coret buku adiknya.
Emak Kepo pingin tau apa yang dia gambar.
Ternyata ia bisa menulis ini tanpa melihat Al Quran. Padahal emaknya bisa apa.

Haru biru..
Semoga Istiqomah ya Nak


Catatan #2
Masih teringat*cubitan santri di liburan kenaikan kelas yang baru lalu: "pegang Al Qur'an itu diangkat Ma, jangan dipangku..adabnya mana..baca kitab suci kok tempatnya direndahkan"
"Berdoa itu adabnya mengangkat tangan Ma.. minta-minta kok Ga niat πŸ˜‚πŸ˜‚"

Liburan kali ini Emaknya belajar adab yang baru lagi:
#Ma, aku tadi disapa tetangga: mas Rafif kok tambah bagi kurus..
Aku agak gimana gitu ya..
#Ya jawab aja saya bukan tambah kurus Bu tapi makin tinggi atau karena saya banyak olahraga (ya maklum kalau orang luar Ga bakal tahu bagaimana full activity di pondok si Mas dan jeda dari satu kegiatan ke kegiatan lain harus diisi dengan berlari'
#Ma.. adabnya kalau ngga suka dengan omongan atau teguran orang itu ya diam saja... khawatir nanti jawaban kita malah membuatnya tak suka karena kita sebal menjawabnya ( oolala..catet)

Dan Emak juga takjub bahwa santri pun punya adab "berdandan
"aku pakai baju yang ini saja biar matching dengan sarung dan sajadah..warna yang bertabrakan itu kan gak enak dilihatnya"
"Ma...belikan aku Pomade biar rambut ku rapi dan wangi kan enak ngelihatnya (yaelah rambut cepak model tentara itu pun masih butuh minyak rambut jugaπŸ˜‰)

Catet...mondhok itu Ga berarti Ga stylish karena diajarkan cara mematut diri tanpa berlebihan. Mondhok itu Ga cuma baca kitab kuning atau hafalan hadits dan Al Quran karena diajarkan bagaimana mendahulukan adab daripada ilmu pengetahuan.
Coba tengok orang yang berilmu tinggi tapi Ga punya adab..pasti menyebalkan bukan? Sementara orang yang ilmunya biasa-biasa saja tapi beradab..jadi enak dipandang dan diajak berbincang-bincang😎
Dan makin takjub waktu usai periksa ke dokter pamitan pakai cium tangan (bu dokter yang sudah sepuh sampai melongo) - kok pakai cium tangan segala sih fiiii ini kan sekedar interaΔ·si dokter dan pasien. Ma...ini adab menghormati yang lebih tua *alamaaak
Maturmuwun Gusti Allah...saya.. emak-emak yang kurang beradab dan fakir ilmu masih diberikan kesempatan belajar dari anak-anak yang masa depannya masih terbentang lebar ...berharap ridhaMu. Semoga mereka dan kami bisa Istiqomah dan kelak berakhir Husnul khotimah..

Catatan #3


Kebersamaan itu: membelanjakan voucher makan hadiah kompetisi Instagram Tempo hari pun menunggu santri liburan. Meski kalau pas bisa kumpul berempat pun tetap makan bareng tanpa perlu ke restoran😘😎
Di pondok si santri diajarkan panca jiwa yang salah satunya adalah 'kesederhanaan" meski gak ikut mondhok tapi yang menjadi menu kami sehari-hari mirip-mirip lah dengan menu santri πŸ˜˜πŸ˜‹
Sebab "lezat' itu bukan karena seberapa mahal makanan yang dinikmati melainkan bagaimana bisa menggemakan rasa syukur di dalam hati .πŸ˜‡πŸ˜‡πŸ˜‡



Share:

Kumpulan Emak-emak Blogger

Blogger Perempuan

Blogger Perempuan
Powered by Blogger.

About Me

My photo
Ibu dua putra. Penulis lepas/ freelance writer (job review dan artikel/ konten website). Menerima tawaran job review produk/jasa dan menulis konten. Bisa dihubungi di dwi.aprily@gmail.com atau dwi.aprily@yahoo.co.id Twitter @dwiaprily FB : Dwi Aprilytanti Handayani IG: @dwi.aprily

Total Pageviews

Antologi Ramadhan 2015

Best Reviewer "Mommylicious_ID"

Blog Archive

Labels

Translate

Popular Posts

Ning Blogger Surabaya

Ning Blogger Surabaya

Labels

Labels

Recent Posts

Pages

Theme Support

Need our help to upload or customize this blogger template? Contact me with details about the theme customization you need.