catatan seorang ibu, wanita, hamba sahaya yang ingin berbagi pikiran dengan dunia

Tingkatan Hidayah

 

Selama Ramadan usai sholat subuh berjamaah, di Masjid Al Ukhuwwah diadakan Kultum secara bergiliran
Kultum Ramadan hari kedelapan dibawakan oleh pak Ismadi, salah seorang praktisi pendidikan.

Kita pasti sepakat jika hidayah harus diupayakan. Dan pak Ismadi  melanjutkan kajian tentang hidayah, yang diringkas dari pemaparan Prof. Quraish Shihab (yang terinspirasi pemikiran seorang ulama Mesir). Bahwa hidayah yang diperoleh seseorang itu ada tingkatannya. Untuk mencapai tingkatan tertinggi, seseorang harus mampu "menyelesaikan tahapan hidayah di tingkat sebelumnya"


Tingkatan hidayah tersebut adalah:

1. Mampu membedakan yang baik dan buruk
Dalam tingkatan ini seseorang akan paham mana yang halal dan haram. Perbuatan mana yang disukai Allah, mana yang dibenci Allah.
2. Meningkatkan kualitas hidup yang baik
Pada tingkatan hidayah ini, seseorang akan tertarik untuk terus menuntut ilmu, mengembangkan wawasan. Juga berpengaruh pada kualitas kerja.
Kinerja orang yang mendapat hidayah lazimnya lebih baik, sebab ia merasa aktivitasnya diamati oleh Allah, bekerjanya sungguh-sungguh sehingga tidak ABS
3. Pencerahan jiwa
Orang yang mendapatkan hidayah dalam tingkatan ini, jiwanya cerah, perilakunya santun dan tenang, tidak mudah terprovokasi atau memprovokasi.

Jadi, sudah sampai tingkatan mana hidayah yang kita cari?

Share:

Bakti Sosial MT Maratus Shalihah 1442 H



Hari ini, 18 April 2021, bertepatan dengan 6 Ramadan 1442 H, Majelis Taklim Maratus Shalihah Permata Sukodono Raya, Sidoarjo mengadakan bakti sosial yang memang biasanya menjadi agenda rutin tahunan. Bedanya tahun ini bakti sosial berkesan dadakan. Sebab dana pengadaan aksi sosial yang biasa bersumber dari kas infaq pengajian kini nyaris nol. Akibat pandemi, pengajian libur setahun. Infaq yang biasa dikumpulkan setiap pekan saat pengajian turut terdampak. Sehingga tak terpikir untuk mengadakan bakti sosial.

Sedihnya, pihak-pihak yang biasa menerima santunan sempat menanyakan mengapa tidak ada bakti sosial dari pengajian kami (biasanya diadakan menjelang Ramadan) Kami seolah ditampar, bingung memikirkan diri sendiri karena krisis ekonomi hingga lupa ada yang juga membutuhkan bantuan. Allah turun tangan mengetuk pintu-pintu hati para donatur, menyisihkan sebagian rezeki, seikhlasnya, semampu mereka.

Ada yang menyumbang sejumlah uang hingga total terkumpul 2,4 juta, beras tiga kiloan sejumlah 25 kemasan, bihun satu zak dan sembako lainnya serta pakaian layak pakai. Dalam satu paket santunan berisi sembako (beras, gula, minyak goreng 2 Liter, bihun) pakaian layak serta sedikit uang tunai.
Pembagian sembako dilakukan di satu titik, pihak yang menerima donasi diundang melalui kupon sesuai jadwal tertentu. Setiap 15 menit dijadwalkan untuk lima orang sehingga tidak terjadi kerumunan. Protokol kesehatan juga tetap dijalankan.

Selain para penduduk desa sekitar, tali asih juga diberikan kepada Pak Mat, pahlawan kebersihan di perumahan. Pentingnya kehadiran Pak Mat baru terasa jika sehari saja beliau tidak menjalankan tugasnya. Tetapi di keseharian seolah kita mengganggapnya biasa saja, "toh saya sudah membayar iuran kebersihan" Astaghfirullah, betapa sering kita kurang menghargai keberadaan orang lain. 
Tak ketinggalan juga bingkisan bagi anak-anak panti asuhan Hajar Aswad. Panti asuhan ini berada di area perumahan. Sehingga sudah menjadi kewajiban bagi kami untuk membantu memberikan sedikit santunan.
Sedikit yang bisa kami berikan namun berharap bisa menumbuhkan secercah harapan. Dan juga menumbuhkan harapan di hati para donatur, agar kelak di alam keabadian, yang sedikit ini bisa bersaksi di hadapan Allah, meringankan hisab dan hukuman atas dosa-dosa yang pernah kami lakukan.
Sungguh benar adanya, sesungguhnya dalam sedekah... yang memberilah yang sejatinya sedang menerima. 







Share:

Jaga Hal ini Agar Ramadhanmu Tak Merugi

 

Ramadhan adalah bulan istimewa, sebab di bulan Ramadhan umat muslim diwajibkan berpuasa. Kajian Fiqih bada Subuh di Masjid Al Ukhuwwah Sabtu 3 April 2021 diisi dengan penyegaran materi dan rohani mengenai puasa Ramadhan, ibaratnya hendak menempuh ujian maka perlu berbekal dengan cara belajar kisi-kisinya.

Ustadz Habibul Muiz mengingatkan kembali pentingnya menunaikan perintah Allah, berpuasa Ramadhan adalah kewajiban bagi muslim yang sudah dewasa, baligh dan tidak dalam udzur (diperbolehkan tidak berpuasa jika ada alasan syariat yang kuat.

“Betapa banyak orang yang berpuasa namun dia tidak mendapatkan dari puasanya tersebut kecuali rasa lapar dan dahaga.” (HR. At Thabarani)

Ibadah-ibadah yang diwajibkan Allah mengandung hikmah bahwa hendaknya ibadah tersebut tidak hanya dikerjakan demi gugur kewajiban, tetapi memiliki efek secara sosial dan membentuk akhlakul karimah. Begitupula halnya dengan kewajiban berpuasa Ramadhan. Diharapkan puasa Ramadhan dapat membantu seorang muslim untuk menjadi pribadi yang lebih baik.

 

Jangan Lakukan ini Saat Puasa Ramadhan

Sebagai nasihat tentang pentingnya menjaga kualitas puasa Ramadhan, Rasulullah berpesan dalam satu riwayat hadits:

“Puasa bukanlah hanya menahan makan dan minum saja. Akan tetapi, puasa adalah dengan menahan diri dari perkataan lagwu dan rofats. Apabila ada seseorang yang mencelamu atau berbuat usil padamu, katakanlah padanya, “Aku sedang puasa, aku sedang puasa” (HR. Ibnu Majah dan Hakim)

Lagwu adalah perkataan sia-sia dan semisalnya yang tidak berfaedah.
Rofats adalah istilah untuk setiap hal yang diinginkan laki-laki pada wanita Atau dapat dikatakan bahwa rofats adalah perkataan yang menjurus ke hal-hal berbau porno.
Maka, jika sedang berpuasa hendaknya menjaga diri agar tidak melakukan: berkata-kata kotor, marah-marah, berdusta, perkataan dan perbuatan sia-sia dan menggunjing orang lain. Dan jika ada ajakan/provokasi untuk berbuat hal-hal tersebut, hendaknya katakan pada yang mengajak berbuat maksiat äku sedang berpuasa”

Lakukan Hal ini Menjelang dan Saat Ramadhan

Layaknya ujian, menjelang Ramadhan harus memiliki persiapan. Diharapkan dengan mempersiapkan diri sebaik mungkin, hasil maksimal pun didapatkan.

Persiapan menjelang puasa Ramadhan meliputi:

1.    Persiapan hati

Siapkan hati yang gembira dan mental yang sehat untuk menyambut Ramadhan.Jika jauh hari telah berniat melakukan puasa Ramadhan dengan sebaik-baiknya dan qodarullah maut menjemput sehingga tak lagi bisa menunaikan ibadah puasa, maka Allah telah mencatat niat baik tersebut.

2.    Persiapan ilmu

Pelajari kembali fiqih Ramadhan (tentang hal yang membatalkan puasa, tentang sunnah-sunnah dalam berpuasa).

3.    Persiapan amalan khas (prioritas) Ramadhan

Amalan khas Ramadhan ini antara lain:  berpuasa sebaik-baiknya, sholat (malam) di bulan Ramadhan yaitu tarawih (dan tahajud), perbanyak interaksi dengan Al Quran (membaca huruf, memperbaiki bacaan, menghafalkan ayat-ayat Al Quran, memahami isi dan kandungan Al Quran, mengamalkan Al Qurán dan mendakwahkan Al Quran), memperbanyak shodaqoh, dan mengeluarkan zakat fitrah

4.    Persiapan harta dan fisik

Harta disiapkan untuk berinfaq sedekah, zakat fitrah dan menyediakan makanan buka puasa bagi yang berpuasa sebab hal ini pahalanya sangat istimewa. fisik disiapkan agar saat berpuasa tubuh tidak lemas atau mudah sakit karena kurangnya tidur saat memperbanyak sholat malam atau I’tikaf.

Seorang mukmin pasti merindukan Ramadhan. Bulan yang tak bisa dibandingkan dengan 11 bulan lainnya. Bulan yang penuh keistimewaan sebab Allah menjanjikan pahala berlipat ganda bagi setiap amalan yang dilakukan di dalamnya. Allah juga menjanjikan rahmat, ampunan atas dosa-dosa dan terhindarnya dari api neraka bagi yang berpuasa karena Lillahi taála







Share:

Manisnya Iman dan Taqwa

 

Hari ini saya mendapatkan pelajaran, betapa sering melupakan manisnya iman. Seringkali pikiran disibukkan hal-hal duniawi. Kekhawatiran akan masa depan, tingginya biaya pendidikan, inflasi yang tak terkendali, bahkan sekadar berpikir tentang menu makanan. Padahal semua itu bukanlah sesuatu yang pasti. Sebab yang pasti datang adalah kematian. Dan iman Islam yang dipertanggungjawabkan. Allah mengingatkan saya dengan cara tak diduga. Ketika menyaksikan seseorang mengucapkan ikrar memeluk Islam, mengucapkan dua kalimat syahadat untuk pertama kalinya.

 

Menepi untuk sejenak mawas diri, merecharge hati dengan hal-hal bersifat spiritual seringkali terlupakan, bahkan terpinggirkan. Lebih seringnya masalah duniawi menyita waktu dan tenaga, tetapi memikirkan akhirat juga bukan karena kita tak butuh uang dan materi. Sebab berjuang hidup di dunia, biaya sekolah, berinfaq dan sedekah semua membutuhkan biaya. Tetapi seringkali kita melupakan esensi bahwa semua materi yang kita peroleh dan belanjakan itu hendaknya dalam koridor syariat, di jalan Allah. Dan tujuan utamanya untuk bagaimana menumpuk uang sebanyak-banyaknya, tetapi bagaimana membelanjakan di jalan yang Allah cinta.

 

Kajian Fiqih Bada Subuh di Masjid Al Ukhuwwah Perumahan Permata Sukodono Raya, 3 April 2021 menyajikan pelajaran yang sangat berharga. Pelajaran hikmah tentang mahalnya hidayah. Bagi kita yang memeluk Islam “sebagai warisan” dari kedua orang tua, mungkin sering lalai nikmatnya iman Islam. Tinggal melakukan apa yang diajarkan orang tua dan guru agama di sekolah. Sholat, puasa dan lainnya. Hingga kadang tak disadari, melakukan kewajiban itu sekadar gugur kewajiban, entah bagaimana kualitasnya pikir nanti. Tetapi menyaksikan seseorang yang menitikkan air mata ketika mengucap syahadat untuk pertama kalinya, turut merasakan nikmat luar biasa.

“Itu air mata kebahagiaan, karena telah menemukan cahaya iman, ketika menyadari bahwa tiada Tuhan melainkan Allah,” begitu kata Dr. Zakir Naik dalam rekaman video di youtube ketika menuntun seorang muallaf muslimah bersyahadat.

 

Ustadz Ahmad Habibul Muiz menitipkan pesan bahwa prosedur memeluk agama Islam sangatlah mudah tidak ada biaya, tidak butuh aneka persyaratan. Hanya mengucapkan syahadat dan menjalankan ajaran Islam sesuai syariat.

Ustadz memastikan bahwa saudari Silvia Wijaya tidak berada dalam paksaan atau tekanan ketika memutuskan masuk Islam. Ustadz sempat menuntun saudari Silvia mengulang dua kali ketika mengucapkan dua kalimat syahadat. Kemudian dilanjutkan  mengucapkan arti syahadatain dalam bahasa Indonesia. Usai prosesi, jamaah Masjid Al Ukhuwwah membaca doa bersama untuk teguhnya iman.



Menutup prosesi pengucapan kalimat syahadat, Ustadz Ahmad Habibul Muiz mengingatkan agar saudari Silvia belajar menjalankan syariat Islam dengan sebaik-baiknya. Belajar bacaan sholat dibimbing guru atau saudara yang telah memeluk Islam lebih dulu, menjaga kualitas sholat lima waktu dengan sholat tepat waktu. Dan sambil saudari Silvia belajar syariat Islam lebih intensif, ustadz Habib menyarankan beliau untuk mendirikan sholat dengan bermakmum dalam sholat jamaah. Ustadz juga mengingatkan agar tak lupa mandi besar sebagai persyaratan masuk Islam (Jadi mengingat lagi pelajaran fiqih bahwa mandi besar wajib hukumnya ketika : seseorang masuk Islam (muallaf), suci dari darah haid/nifas/wiladah, bertemunya dua kemaluan, keluarnya mani dan kematian)


Ketika kembali ke barisan jamaah wanita, saudari Silvia disambut dengan salam dan pelukan hangat dari sesama muslimah. Tak terasa air mata bercucuran menyambut indahnya hidayah. Ustadzah Lina Ariani, istri Ustadz Habib kembali mengingatkan kepada teman-teman beliau untuk menuntun saudari Silvia mandi besar sebagai salah satu sahnya masuk Islam. Tata caranya seperti mandi besar ketika menyucikan diri usai haid atau mandi junub tetapi disunnahkan dalam air mandinya ditambahkan daun bidara.

 

Sungguh mahal harga hidayah. Sebab datangnya langsung dari Allah. Tak hanya cukup menunggu datangnya, tetapi hidayah harus diperjuangkan dengan segala upaya. Dengan membuka hati, menemukan hikmah dari ayat-ayat Al Quran yang ditadabburi. Dari kata hati di hari-hari sunyi, dalam sujud-sujud panjang yang seolah tak bertepi.

 

 

Share:

Kisah-kisah Hikmah, Betapa Al Quran itu Indah

 Indahnya Hidup Dibawah Naungan Al-Quran

Sabtu 20 Maret 2021, saya berkesempatan mengikuti kajian online Ustadz Budi Ashari, Lc di kursihikmah. Kajian bertajuk Indahnya Hidup Dibawah Naungan Al-Quran benar-benar memberikan pencerahan. Gaya bertutur Ustadz Budi Ashari yang mengalir tenang, layaknya air mengisi gelas-gelas kosong.



Banyak hal baru yang belum pernah saya dengar. Saya merasa wajib menulis beberapa poin (kisah) penting yang mengandung hikmah tentang betapa Al Qurán secara nyata menebarkan keindahan, memberikan naungan dalam kehidupan.

1.   Kisah Al Ma’mun dan pemilik tulisan tangan nan indah


Al Ma’mun adalah salah seorang pemimpin muslim berpengaruh di zamannya yaitu Kekhalifahan Abbasiyah. Ia dikenal sebagai pecinta keindahan dan ilmu pengetahuan. Suatu hari ia menemukan tulisan tangan seseorang yang indah sekali. Saat itu tulisan tangan sangat dihargai dan memiliki nilai seni tinggi. Orang itu kemudian dia tawari kedudukan dalam pemerintahan. Sebab orang tersebut belum memeluk agama Islam, sang khalifah menawarkannya untuk masuk Islam (menawarkan tanpa memaksa, dan andai tidak diterima pun tidak ada hukuman) Namun orang tersebut menolak dan memutuskan pergi dari istana. 

Setahun kemudian Al Ma’mun bertemu kembali dengan orang yang sempat ditawari untuk masuk Islam dan hendak dijadikan pejabat itu. Tetapi Al Ma’mun merasa heran sebab orang yang dulu menolak masuk Islam (padahal yang menawarinya adalah seorang pemimpin tertinggi) ternyata telah memeluk Islam.

Al Ma’mun bertanya, “Bukankah kamu dulu aku pernah menawarimu memeluk agama Islam namun kau tolak, tetapi kenapa malah kini engkau telah masuk Islam?”(Ustadz Budi Ashari menggarisbawahi bahwa di sinilah keajaiban hidayah. Al Ma’mun yang sangat berkuasa, seorang pemimpin kekhalifahan tak mampu membuat seseorang memeluk agama Islam dengan kekuasaannya)

Lalu orang tersebut menceritakan kisah tentang bagaimana ia kemudian memeluk agama Islam. Usai meninggalkan istana Al Ma’mun, ia melanjutkan hidupnya dengan menjual hasil tulisan tangan. Ia menuliskan kembali isi kitab Taurat yang ia ubah sedikit-sedikit sesuai kemauannya, pemuka agama Taurat mengagumi dan membelinya tanpa mengetahui isi kitabnya telah diubah. Begitu juga yang ia lakukan dengan kitab injilnya kaum nasrani, pemuka agamanya mengagumi tanpa mengetahui bahwa isi kitabnya telah diubah. Kemudian ia menulis Al Quran dan mengubah isinya, tetapi ia tak mampu menjualnya kepada pemuka agama Islam, sebab pemuka agama tersebut berkata “ini bukan Al Qurán, sebab isinya tidaklah sama dengan yang biasa kami baca” Si pemilik tulisan indah itu takjub, bagaimana bisa ulama tersebut mengenali bahwa ayat Al Qurán telah diubah?

Ustadz Budi Ashari mengingatkan bahwa ini adalah janji Allah, bahwa Allah sendiri yang akan menjaga kemurnian Al Qurán. Berbeda dengan kitab-kitab terdahulu, Allah memerintahkan Bani Israil dan kaum Nasrani untuk menjaga kitab-kitab yang diturunkan kepada mereka, namun mereka pun berkhianat.

MasyaAllah…

2.   Kisah Pemuka Suku Quraisy dan indahnya Al Quran

Pada suatu masa, ketika Nabi Muhammad mulai mencuri perhatian orang-orang Quraisy dalam dakwahnya yang menyitir ayat-ayat Al Quran, Abu Jahal mulai khawatir. Ia menemui pamannya Wahid Bin Muhiroh, seorang pemuka Quraisy yang kaya raya. Ia meminta sang paman untuk mengeluarkan pernyataan yang mengingkari Al Qurán, menjelekkannya sehingga tak ada yang tertarik memeluk agama Islam. Sang paman berkata, “Aku bingung bagaimana caraku menjelekkan Al Quran. Sebab jika aku mendengar Muhammad membacanya terasa isinya begitu manis, indah, bagai pohon yang ranum buahnya kokoh akarnya, menghunjam dan di bawahnya ada mata air yang jernih" 

Abu Jahal memaksa sang paman untuk mengeluarkan pernyataan apapun asal tak semakin banyak orang tertarik memeluk agama Islam. Sang paman kemudian menyanggupi namun membutuhkan waktu beberapa hari. Selang beberapa hari kemudian, Wahid Bin Muhiroh menyatakan pengingkaran dengan berkata bahwa ayat-ayat Al Quran hanyalah mantra sihir belaka. Kisah ini diabadikan dalam surat Al Mudatstsir.

3.   Penelitian ilmuwan Jepang

Ustadz Budi Ashari juga menceritakan tentang penelitian seorang ilmuwan Jepang. Kepada seseorang yang menjadi responden, ia memperdengarkan beberapa rekaman lagu dari berbagai genre musik, dan ia juga memperdengarkan kutipan bacaan tilawah Al Qurán. Responden ini bukanlah seorang muslim. Ketika ditanya kepadanya mana yang menjadi favoritnya dari berbagai rekaman tersebut, orang itu berkata “semua yang kau perdengarkan itu indah-indah, tapi yang satu itu (ia menunjukkan rekaman bacaan tilawah Al Qur’an) terasa sangat indah dan menyentuh perasaan begitu dalam, itu lagu apakah?

MasyaAllah…bahkan seorang non muslim pun mengakui keindahan Al Qurán sungguh merugi jika kita sebagai muslim tidak meluangkan waktu untuk tadabbur Qurán

Sebagai penutup, Ustadz Budi Ashori mengingatkan kembali perintah Allah bagi umat muslim untuk tadabbur quran. Untuk membaca, memahami isi-isi ayt Al Quran. Agar menjadi pengisi hati dan tercermin dalam kehidupan sehari-hari. 


Ayat-ayat tentang perintah tadabbur Qurán tersebut adalah:

     1.   QS Shad ayat 29

“Ini adalah sebuah kitab yang Kami turunkan kepadamu penuh dengan berkah supaya mereka memperhatikan ayat-ayatnya dan supaya mendapat pelajaran orang-orang yang mempunyai fikiran”

2.   QS. Al Mu’minun 68-70

(68) Maka tidakkah mereka menghayati firman (Allah), atau adakah telah datang kepada mereka apa yang tidak pernah datang kepada nenek moyang mereka terdahulu

(69) Ataukah mereka tidak mengenal rasul mereka, karena itu mereka memungkirinya? 

(70) Atau (apakah patut) mereka berkata: "Padanya (Muhammad) ada penyakit gila". Sebenarnya dia telah membawa kebenaran kepada mereka, dan kebanyakan mereka benci kepada kebenaran itu.

     3.   QS. An Nisa 82

“Maka apakah mereka tidak memperhatikan Al Quran? Kalau kiranya Al Quran itu bukan dari sisi Allah, tentulah mereka mendapat pertentangan yang banyak di dalamnya”

      4.   QS. Muhammad 24
“Maka apakah mereka tidak memperhatikan Al Quran ataukah hati mereka terkunci?”

Maka, selagi masih ada umur dan kesempatan, sudah sepatutnya kita tak lelah belajar menelaah Al Qurán. Semoga kita tak hanya membaca Al Qurán seperti sedang mengejar setoran. Tak sekadar berlomba mengkhatamkan, menghitung berapa lembar yang telah dibaca atau dihafalkan. Tetapi juga memahami isinya, sebab Al Qurán tak hanya berisi perintah dan larangan tetapi juga memperindah peradaban, menaungi kehidupan.


Daftar Pustaka:

1. Kajian di kursihikmah.id

2. Tafsirweb

3. Foto-foto dari pixabay


Share:

Seberapa Penting sih Menyiapkan Dana Darurat?

Tempo hari saya membaca sharing status seseorang di beranda FB. Tentang dana darurat yang diperbincangkan dua orang. si A mengalokasikan sebagian besar penghasilannya (setelah dikurangi biaya-biaya pokok kehidupan) si A berpendapat bahwa dana darurat wajib disiapkan semaksimal mungkin, apalagi untuk dana darurat biaya perawatan saat sakit. Sedangkan lawan bicaranya, si B mengaku hanya menyisihkan sedikit sekali pendapatannya untuk dana darurat, ia lebih memilih bersenang-senang (bukan berhura-hura loh ya) bersama keluarganya. Dengan anggapan jika keluarganya senantiasa, maka akan selalu sehat. Lagipula hidup seharusnya dinikmati, penghasilan boleh ditabung, tapi masa' iya harus dihabiskan untuk biaya perawatan. Rasanya seolah susah-susah ngumpulin duit ternyata buat mengatasi kesusahan di kemudian hari.

Dari dua pendapat ini mana yang benar?

Bagi saya baik si A dan si B tidak ada yang salah. Tetapi paling aman adalah mencari pertengahan. Saya berkata demikian sebab sudah merasakan sendiri betapa pahitnya hidup ketika pendapatan rumah tangga benar-benar terhenti saat suami di PHK dan jobless selama berbulan-bulan. Sedangkan kami tak memiliki dana darurat untuk dimanfaatkan. Tapi Alhamdulillah, juga nggak sengsara level dewa sampai misalnya jual rumah segala. Masih terbantu dengan voucher belanja di berbagai swalayan hadiah quiz yang sempat terkumpul hingga 1,5 juta. Masih tertopang penjualan hadiah-hadiah quiz mulai helm sampai sprei, bisa buat belanja sehari-hari.

Tapi, kalau terlalu fokus ke dana darurat memang bisa stress sendiri. Pikiran jadi penuh. Mikir, duh gimana ya kalau tiba-tiba harus rawat inap penyakit serius yang dananya nggak dicover BPJS, kudu nabung lebih banyak nih. Lain waktu mikir, duh kalau rumah tiba-tiba runtuh atapnya, terbelah temboknya duit apa buat biaya perbaikan. Duh, biaya sekolah cukup apa nggak ya. Lalu terus berpikir, berpikir, menabung lebih keras, sampai mungkin di luar batas kewajaran. Bahkan sampai ogah untuk berbagi dan bersedekah demi kemanusiaan. Padahal stress adalah sumber dari segala penyakit bukan?



Intinya, dana darurat penting toh? penting banget. Tapi yang nggak kalah penting juga adalah kelapangan dada, kejernihan pikiran dan kesiapan mental menghadapi kondisi darurat. 

Jika memang penting, berapa banyak dana darurat yang perlu disiapkan? Para penasihat keuangan menyarankan setidaknya kita memiliki dana darurat sebesar pengeluaran pokok selama 6 bulan - 1 tahun. Jadi jika misalnya kebutuhan pokok tiap bulan menghabiskan biaya 2 juta rupiah, idealnya seseorang atau keluarga memiliki simpanan dana darurat sebesar 12 - 24 juta rupiah. Tapi kalau pun nggak bisa menyisihkan sejumlah nominal ideal menurut para pakar, yang penting adalah simpanan duit dikit-dikit untuk kondisi darurat.

Bagaimana bentuk dana darurat? Kalau menurut saya sih terserah. Bisa dalam bentuk tabungan, deposito, perhiasan atau unit reksa dana. Bahkan kalau dipikir-pikir, waktu kami butuh banget kala itu, sebenarnya dana darurat kami adalah dalam bentuk barang-barang yang bernilai ekonomis. Voucher belanja, peralatan elektronik, helm, sprei baru hadiah quiz.

Tapi susah nih menyisihkan pendapatan untuk dana darurat. Ya diingat-ingat dulu deh, susahnya bisa karena pendapatan yang super pas-pasan, atau susah mengerem kebiasaan belanja karena lapar mata, karena didorong keinginan, bukan kebutuhan.

Meski ngga banyak, dan penghasilan saya pas-pasan. Sejak kondisi finansial yang super morat-marit itu saya makin rajin menyisihkan penghasilan. Kira-kira jika dirangkum dalam tips, begini tips mempersiapkan dana darurat:

1. Segera sisihkan dana darurat yang bersumber dari sebagian dari pendapatan. Transfer ke rekening yang tidak memiliki ATM atau mobile banking dan internet banking. Aman dah dari "penggarongan" alias kalap belanja online dengan alasan mumpung lagi diskonan.

2. Cari penghasilan tambahan. Saya nih jualan bawang goreng, hasilnya recehan tapi saya kumpulin sampai 1 juta rupiah lalu dibeliin unit di reksa dana. Eh sebulan udah nambah aja harga per unitnya. 

3. Kumpulin uang kembalian belanja

Recehan koin kalau dikumpulin bisa dapat lumayan loh. Anggaplah ngumpul 600 ribu dalam sebulan, bisa dibeliin anting bayi segram.

4. Niatkan untuk kebaikan

Kalau menyiapkan dana darurat, sebisa mungkin niatnya mengandung vibe positif. Misalnya, dana darurat ini buat nambah-nambah biaya kuliah anak-anak atau buat nambah-nambah ongkos haji furoda. Atau bisa juga untuk persiapan beli property. Sebab kalau mikirnya : dana darurat ini buat persiapan kalau di PHK, persiapan kalau sakit keras. waah semacam menarik vibe negatif gitu.

Itu aja sih menurut saya. Dan rasanya perlu diingat juga, jangan sampai karena menyisihkan pendapatan untuk menyiapkan dana darurat eh kita jadi enggan berderma, infaq sedekah atau berzakat. Nggak gitu 'kali, nabung ya nabung tapi jangan sampai pelit banget kayak orang linglung. Yakin deh, saat menghadapi kondisi darurat, insyaAllah sedekah-sedekah yang kita keluarkan secara ikhlas adalah  salah satu penolong kita, nggak hanya di dunia tapi juga di akherat. Semoga sharing sederhana tentang seberapa penting dana darurat ini bisa bermanfaat.



Share:

Zakat Tak Boleh Diberikan Kepada....

Zakat merupakan salah satu kewajiban bagi umat muslim. Zakat fitrah wajib bagi semua muslim (yang bukan fakir miskin). Zakat harta wajib bagi muslim yang hartanya sudah mencapai nishab. Namun perlu diingat bahwa pembagian zakat tidak boleh diberikan kepada sembarang orang. 

Berbeda dengan infaq sedekah, zakat hanya boleh diberikan kepada delapan golongan. Dan tetap harus memperhatikan kaidah mengenai siapa saja yang tidak diperbolehkan menerima zakat (meski tergolong delapan golongan tersebut)



Berikut ini adalah pihak-pihak yang tidak diperbolehkan menerima zakat dari pemberi zakat:

1. Orang kafir (non muslim)

Zakat hanya boleh diberikan kepada delapan golongan yang beragama muslim. Namun sebagian ulama berpendapat bahwa zakat boleh diberikan kepada orang kafir yang mualaf (termasuk di dalamnya yang sudah menunjukkan ketertarikan kepada agama Islam dan belum bersyahadat serta perlu diikat dengan zakat)

2. Keluarga dan keturunan Rasulullah

Bagi keluarga dan keturunan Rasulullah, umat muslim hanya boleh memberikan hadiah atau infaq sedekah (jika memang mereka memerlukannya) Ada sebuah riwayat manakala Rasulullah melarang Hasan, cucu beliau dari Fatimah mengambil dan hendak memakan kurma dari zakat pertanian.

3. Anak, jalur ke atas

Termasuk di dalamnya kakek

4. Anak jalur ke bawah

Termasuk di dalamnya cucu

Anak jalur ke atas dan anak jalur ke bawah masih dalam tanggungan nafkah. Sehingga zakat tidak boleh diberikan kepada mereka, tetapi jika hidup mereka susah dan perlu bantuan, kita wajib menafkahinya. Namun Imam Malik memperbolehkan garis kakek ke atas untuk menerima zakat

5. Istri

Namun ada pengecualian andai istri terlibat hutang hingga tak mampu membayar (masuk golongan gharim) suami diperbolehkan memberikan zakat kepada istrinya untuk membayar hutang. Meski lebih ditekankan adalah kewajiban suami untuk melindungi dan melunasi hutang jika mampu, tetapi tidak terhitung sebagai pembayaran zakat. Namun jika istri lebih kaya daripada suami, atau menerima harta warisan dari orang tua yang mencapai nishab sedangkan suaminya seorang fakir, maka istri boleh mengeluarkan zakatnya untuk diberikan kepada suami

6. Kegiatan dan aktivitas keagamaan Islam
Zakat tidak boleh diberkan kepada kegiatan pembangunan masjid, panitia perayaan hari besar Islam, dana operasional masjid/mushola/TPQ, pembelian kafan mayit, perbaikan jalan, kegiatan penyambutan tamu

Sumber:
Kajian Fiqih Sabtu Bada Subuh
Masjid Al Ukhuwwah Permata Sukodono Raya
Ustadz Ahmad Habibul Muiz, Lc, M.Sos
Share:

Hikmah Peristiwa Isra' Miraj

Kajian Ba'da Subuh

13 Maret 2021 - 29 Rajab 1442 H

Masjid Al Ukhuwwah, Permata Sukodono Raya

Ustadz Ahmad Habibul Muiz


27 Rajab merupakan salah satu hari besar agama Islam. Pada tanggal ini umat Islam memperingati peristiwa Isra'Miraj. Sebelum masa pandemi, Isra'Miraj biasanya diperingat dengan berbagi kegiatan. Kajian atau tabligh akbar yang mengumpulkan massa dalam jumlah cukup besar, tasyakuran atau mungkin beberapa masjid mengadakan berbagai lomba untuk para remaja dan anak-anak. Namun karena pandemi corona tak kunjung berlalu, Isra Miraj berlalu seperti biasa, seperti hari libur pada umumnya.

Meski tidak diperingati dengan besar-besaran karena pembatasan selama pandemi, yang terpenting dari peristiwa Isra Miraj adalah bagaimana umat Islam bisa memetik hikmahnya. Ustadz Habibul Muiz merangkumnya dalam tausiyah ba'da subuh hari Sabtu yang biasanya diisi dengan kajian fiqih.


Berikut adalah beberapa poin penting mengenai Isra'Miraj

💓Isra' secara bahasa berasal dari kata asro' artinya ada yang diperjalankan dan melakukan perjalanan, ada yang mengadakan perjalanan. (saró artinya perjalanan)

💓Isra dikisahkan dalam Al Qurán dalam surat Al Isra. Namun kata 'Miraj" tidak diungkapkan secara khusus. Secara umum, Isra Mi'raj diartikan sebagai : Perjalanan Rasulullah di malam hari dari Masjidil Haram ke Masjidil Aqsha (Isra') dan dari Masjidil Aqsha hingga ke langit ketujuh dan Sidratul Muntaha. Perjalanan ini, pulang pergi hanya memakan waktu satu malam. 

💓Dalam perjalanan menuju Sidratul Muntaha, Di setiap langit, Rasulullah disambut para malaikat penjaga pintu langit dan nabi terdahulu. Berturut-turut di setiap lapisan langit, Rasulullah bertemu dengan Nabi Adam (yang menyambutnya dengan ucapan Marhaban bil ibni shalih wa nabbiyil shalih = selamat datang anakku yang shalih dan nabi yang shalih), Nabi Yahya Nabi Yusuf, Nabi Idris, Nabi Harun, Nabi Musa dan Nabi Ibrahim

💓Di Sidratul Muntaha, Nabi ditampakkan empat sungai. Para ulama menafisrkan keempatnya sebagai sungai yang zhahir yaitu Sungai Nil dan Sungai Furod dan dua sungai bathin adalah sungai yang mengalir di surga

💓Di Baitul makmur (bangunan yang sangat mulia di langit ketujuh berfungsi sebagaimana ka'bah bagi manusia di bumi) Allah menurunkan perintah menunaikan sholat 50 kali sehari bagi umat Nabi Muhammad. Ketika dalam perjalanan turun usai menerima perintah mendirikan sholat, Nabi Muhammad bertemu Nabi Musa yang menyarankan agar Rasulullah memohon keringanan bagi umatnya. Nabi Muhammad pun menghadap Allah lagi demi memohonkan keringanan hingga umat muslim hanya diwajibkan sholat lima waktu dalam sehari.

💓 Terdapat dua pendapat ulama mengenai peristiwa Isra'Miraj ini. Pendapat pertama menyatakan bahwa peristiwa Isra'Miraj terjadi di alam ruh. Pendapat kedua sekaligus pendapat jumhur ulama menyatakan bahwa peristiwa Isra'Miraj terjadi benar-benar secara fisik dan ruhani.



💓 Hikmah peristiwa Isra'Miraj adalah :

💙Tidak semua ajaran agama harus dijelaskan secara logika. Seperti halnya peristiwa Isra'Miraj tidak untuk diperdebatkan tentang bagaimana perjalanan tersebut hanya dilalui dengan satu malam saja. Seperti halnya tidak perlu dijelaskan secara logika mengapa sholat subuh hanya 2 rokaat dan Isya'4 rokaat dan tidak sebaliknya. Peristiwa Isra'Miraj adalah salah satu momen atau hal ghaib. Dan Allah telah jelas berfirman dalam Al Quran, Surat Al Baqarah bahwa syarat awal orang yang beriman adalah berkaitan dengan aqidah yaitu meyakini hal yang ghaib (termasuk Dzat Allah, malaikat, qada qadr, surga neraka dan peristiwa Isra Miraj) 

💙Pentingnya mengingat perintah Allah mengenai kewajiban sholat

Semua firman Allah yang berkaitan dengan syariat diturunkan dalam Al Quran melalui perantara malaikat Jibril (berzakat, berpuasa, berhaji dll) namun hanya perintah sholat yang disampaikan Allah langsung kepada Nabi Muhammad.

Maka umat muslim wajib menjaga kualitas sholatnya, terutama sholat wajib liwa waktu. Menjaga kualitas sholat ini termasuk pada ketepatan waktu dan kekhusyuannya.

Pentingnya menjaga kualitas sholat ini terdapat dalam surat Al Mukminun ayat 1-11 (yang menyatakan bahwa orang yang mampu menjaga kekhusyuan sholatnya, yang menjauhkan diri dari perkataan dan perbuatan tak berguna, yang menunaikan zakat, menjaga kemaluannya dari berzina, menjaga amanah dan janjinya adalah mereka yang kelak akan kekal di dalam surga.

Kualitas sholat juga bisa diukur dari kemampuan seorang muslim yang bisa mencegah dirinya berbuat keji (fahsya' - yang berkaitan dengan nafsu syahwat) dan mungkar (perbuatan buruk yang dibenci Allah) Maka jika seseorang muslim masih berbuat keji dan mungkar padahal ia rajin sholat, dapat dipastikan bahwa kualitas sholatnya belum mencapai tahapan yang diharapkan Allah.

Begitu pentingnya menjaga sholat, hingga orang tua pun wajib menyuruh anaknya mendirikan sholat seperti wasiat Luqman kepada anaknya, pada QS Luqman ayat 17.

"Wahai anakku! Laksanakanlah shalat dan suruhlah (manusia) berbuat yang makruf dan cegahlah (mereka) dari yang mungkar dan bersabarlah terhadap apa yang menimpamu, sesungguhnya yang demikian itu termasuk perkara yang penting"

Share:

Tips Betah di Pondok

Menuntut ilmu di pondok pesantren bukanlah hal mudah, terutama bagi anak-anak usia belia. Terbiasa berkumpul dengan keluarga, segala sesuatu dalam pengawasan dan bantuan orang tua, tiba-tiba harus berpisah dan hidup mandiri. Maka para santri harus cepat beradaptasi agar tidak bersusah hati dan pikirannya bisa fokus menuntut ilmu serta belajar dari kehidupan sebagai pembelajaran hakiki.


Tempo hari, si mas menyempatkan menelpon dan ngobrol dengan adiknya tebtang tips betah mondhok.



Tips betah di pondok ala si Mas:

1) Perbanyak teman 

Jika ingin banyak kenalan di awal masa mondhok, tak perlu buru-buru nanyain nama. Nanti malah cepat lupa karena begitu banyak nama yang harus dihafalkan. Banyakin cerita dan nanya daerah asal saja. Nanti lama-lama kenal dan ingat nama. Jangan pelit, hidup di pondok itu kebersamaan. Kalau ingin jajan, makan menu yang ada di kantin, tapi uang saku sudah habis, "rangkullah" temanmu yang mau jajan. (Waduh tips yang ini bikin yang dengar tertawa)

2) Jika ada masalah (dengan teman) selesaikan dengan kepala dingin, jangan cepat naik darah.

Misal ada teman yang sengaja memakai barangmu tanpa izin. Tanyakan baik-baik. Kalau ia memang terdesak dan sangat butuh, sudah berikan saja sekalian. 

 3) Jangan membawa barang yang mengingatkan nikmatnya tinggal di rumah. Itu akan membuatmu termehek-mehek kangen rumah.

4) Kalau ada seniormu yang galak, suka menghukum, udah terima dan jalani aja, ingat kelak kamu akan jadi senior juga, hidup itu berputar. Hari ini jadi santri baru, beberapa tahun lagi ditugasi mengurus santri baru

 5) Jika kamu suatu saat kamu jenuh, ingin kabur dan berhenti sebelum waktunya lulus, ingatlah orang tua yang sudah menghabiskan banyak biaya untuk sekolah kita

(saya mendengarnya dari Hp yang speakernya dikerasin jadi terharu bangett, sampai nggak sadar menitikkan air mata)

 6) Tegaskan kembali tujuan, niat mondhok mau ngapain (jadi apa) Kalau niatmu kuat, bukan ikut-ikutan insyaAllah akan membantumu bertahan.



7) Jika seminggu nggak kerasan, coba bertahan hingga 2 pekan, tetap gak krasan coba lagi sebulan, terus hingga berganti tahun

Itu beberapa tips betah di pondok yang sempat saya catat. Saya sendiri bukan lulusan pondok pesantren, dan paham benar pastilah hidup jauh dari orang tua di usia dini tidaklah mudah. Oleh sebab itu, meski sering menasihati dan memotivasi, saya sering mengucapkan terimakasih pada si mas yang sudah bertahan hingga saat ini dan semoga hingga lulus dengan baik nanti. 

Sedangkan si ayah memotivasinya dengan berbagai pemberian dan janji. Misalnya menjanjikan liburan ke Bali jika sudah jadi alumni. Segala permintaan si mas juga dituruti, paket jajan tiap bulan dengan berbagai jenis isi selalu sampai dengan selamat. Bahkan pernah beberapa kali sebulan kirim paket makanan dan pakaian lebih dari dua kali.

Share:

Merekalah yang Berhak Menerima Zakat

 

"wa aqimus-salata wa atuz-zakata” yang artinya dirikanlah sholat dan tunaikanlah zakat, beberapa kali bisa kita temukan dalam Al Quran. Indahnya Islam, tidak hanya mewajibkan menyembah Alah dengan ritual, tetapi juga mengingatkan pentingnya berperan sebagai makhluk sosial

Jika mendirikan sholat adalah kewajiban yang langsung berhadapan dengan Allah. Maka mengeluarkan zakat adalah kewajiban yang terkait dengan sesama manusia, terutama yang membutuhkan bantuan harta untuk melanjutkan kehidupannya. Artinya, Islam menekankan agar manusia hidup di dunia harus menempatkan diri sebagai makhluk individu yang beribadah menurut ritual menyembah Allah sekaligus juga menempatkan diri sebagai makhluk sosial yang peduli dan mengulurkan bantuan kepada orang yang membutuhkan dengan cara menyalurkan zakat.

Zakat tidak diberikan ke sembarang orang. Hanya delapan asnaf/golongan yang disebutkan dalam surat At-Taubah:60

Sesungguhnya zakat-zakat itu, hanyalah untuk orang-orang fakir, orang-orang miskin, pengurus-pengurus zakat, para muallaf yang dibujuk hatinya, untuk (memerdekakan) budak, orang yang berhutang, untuk jalan Allah dan orang-orang yang sedang dalam perjalanan, sebagai sesuatu ketetapan yang diwajibkan Allah. Dan Allah Maha Mengetahui lagi Maha bijaksana” 

Delapan asnaf (golongan) tersebut adalah:

1. Fakir adalah kelompok orang yang tidak mampu bekerja memenuhi kebutuhan pokoknya 

2. Miskin adalah kelompok orang yang telah berupaya, bekerja, mencari nafkah untuk memenuhi kebutuhan pokoknya tetapi tidak mampu mencukup tak kunjung mencapai standar kelayakan hidup.

3.    Pengurus zakat (amil) adalah orang-orang yang berperan dalam proses mengumpulkan zakat baik langsung maupun tidak langsung. Termasuk di dalamnya para pegawai LAZNAS baik yang bekerja sebagai pemungut atau pengumpul zakat maupun yang bekerja di belakang meja (administratif)

4.    Mualaf adalah orang yang baru memeluk agama Islam. Sebagian ulama menafsirkannya sebagai orang yang telah menunjukkan ketertarikan memeluk agama Islam dan perlu diyakinkan, diikat dengan pemberian zakat karena kondisi finansialnya

5.   Budak. Sebab kini tidak ada lagi perbudakan, sebagian ulama menafsirkan budak di zaman sekarang adalah orang-orang yang menjadi tawanan dan bisa dibebaskan dengan tebusan yang berasal dari dana zakat.

6.   Orang yang berhutang (gharim) yang disebut dalam At-Taubah:60 adalah orang yang berhutang kemudian mengalami kesulitan melunasi hutangnya karena kondisi finansial yang sangat memprihatinkan. termasuk di dalamnya orang yang terjebak hutang pada rentenir. atau orang yang dahulunya mampu kemudian jatuh miskin dan terjebak hutang

7.    Fisabililah sebagai salah satu pihak yang berhak menerima zakat adalah para pejuang di jalan Allah, termasuk di dalamnya guru-guru agama, daí, ustadz, guru mengaji yang hidup dalam kekurangan.

8. Ibnu sabil disebutkan juga berhak menerima zakat. Ibnu sabil adalah orang-orang yang sedang dalam perjalanan untuk sebuah kepentingan dalam kebaikan kemudian kehabisan bekal karena dirampok, kecurian atau hal lain yang tak bisa diprediksi sebelumnya. 


Dan yang perlu diperhatikan, adalah mengutamakan memberikan zakat kepada orang-orang terdekat yang berhak menerima zakat. Tentu bukan mereka yang berada dalam tanggung jawab kita untuk memberi nafkah. Misalnya anak kepada orang tua, bukanlah zakat tetapi kewajiban anak sebagai bentuk bakti. Zakat boleh diberikan kepada kerabat, tetangga, keluarga jauh untuk membantu mereka keluar dari kesulitan.

Share:

Work at Home

Kumpulan Emak-emak Blogger

Blogger Perempuan

Blogger Perempuan

Ning Blogger Surabaya

Ning Blogger Surabaya

BloggerHub

Warung Blogger

KSB

komunitas sahabat blogger
Powered by Blogger.

About Me

My photo
Ibu dua putra. Penulis lepas/ freelance writer (job review dan artikel/ konten website). Menerima tawaran job review produk/jasa dan menulis konten. Bisa dihubungi di dwi.aprily@gmail.com atau dwi.aprily@yahoo.co.id Twitter @dwiaprily FB : Dwi Aprilytanti Handayani IG: @dwi.aprily

Total Pageviews

Antologi Ramadhan 2015

Best Reviewer "Mommylicious_ID"

Blog Archive

Labels

Translate

Popular Posts

Labels

Labels

Blog Archive

Recent Posts

Pages

Theme Support

Need our help to upload or customize this blogger template? Contact me with details about the theme customization you need.