catatan seorang ibu, wanita, hamba sahaya yang ingin berbagi pikiran dengan dunia

#Memesona itu Mengoptimalkan Energi Positif Diri Sendiri

Kenal dengan Dian Sastrowardoyo, Christine Hakim, mendiang Lady Diana dan Kate Middleton? Jika ditanyakan pada audiens, baik pria maupun wanita tentang kesamaan antara mereka kira-kira apa jawabnya? Mungkin ada yang menjawab wanita-wanita itu cantik, pintar, ramah, menginspirasi, berprestasi. Semua jawaban itu pada dasarnya merujuk pada satu kata yaitu memesona. #MemesonaItu adalah suatu akibat. Sebuah akibat tentu ada sebabnya. Christine Hakim misalnya memesona karena kepiawaiannya dalam berakting. Dian Sastrowardoyo memesona karena senyum dan kecantikan khas Asianya. Lady Diana memesona karena keanggunannya, tutur kata dan perilakunya yang membuat orang kagum dan terpesona. Kate Middleton memesona karena ia dianggap sebagai new Lady Di yang lebih smart, berkepribadian kuat dan bersahaja.
Sosok yang #MemesonaItu pastilah selalu membuat senang masyarakat akan kehadirannya. Seorang yang kasar, senang menimbulkan fitnah, perilakunya selalu menentang norma sosial tentu tak akan pernah berhasil memesona publik sampai kapan pun juga. Mereka yang memesona adalah sosok-sosok yang memancarkan energi positif. Ramah, pintar, berprestasi, sopan, berbudi luhur. Cantik? Tidak semua wanita cantik memesona. Tetapi sosok yang berbudi dan pandai menempatkan diri hampir selalu berhasil memesona lawan bicaranya.


Apakah memesona hanya bisa dimiliki seorang selebriti atau public figure? Tidak juga. Buktinya ketika berada di tengah masyarakat bisa saja si A memesona karena ia dikenal ringan tangan dan tak segan membantu orang lain. Sosok yang berbudi luhur dan ramah tentu memesona siapapun yang berada di dekatnya dan bergaul dengannya.
       Jadi bagaimana kriteria #MemesonaItu ? Kembali pada arti memesona. Memesona adalah membuat orang lain terpesona. Terpesona menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia dapat diartikan sebagai terkagum-kagum, terkena daya tarik, sangat terpikat. Penyebab kekaguman bisa bermacam-macam tetapi semuanya berpusat pada energi positif yang terpancar dari dalam diri. Memesona bisa muncul karena seseorang mengoptimalkan segala kemampuan yang ada pada diri sehingga kehadirannya menimbulkan kekaguman. Pesona tersebut terpancar seiring kelebihan yang ditemukan pada dirinya. Pesona Christine Hakim misalnya, tidak hilang meski ia ditemui di luar jadwal syuting. Ketika ia menjadi diri sendiri - dalam artian bukan sedang memainkan peran - tetaplah memesona. Pesona ini timbul sebab Christine Hakim dikenal sebagai artis yang pandai berakting. Ia selalu total dalam menjiwai perannya. Aktingnya tidak pernah meniru siapapun dan ia ramah di luar perannya. Lady Diana, dengan segala kisah pilunya tetap dikenang sebagai orang yang memesona. Bahkan dengan kegagalannya dalam berumahtangga ia dianggap sebagai salah satu tokoh inspiratif sebab jiwa sosialnya timbul secara alami bukan karena tuntutan sebagai keluarga kerajaan. Kate Middleton hadir dengan pesona pribadi. Ia muncul sebagai sosok wanita “biasa” yang berkepribadian kuat. Ia tidak berkiblat pada Lady Diana sebagai mertua tetapi memiliki cara dan gaya hidupnya sendiri ketika harus memasuki keluarga besar ningrat. Dian Sastrowardoyo tidak hanya dikenal sebagai Cinta yang menggemaskan dalam AADC. Pesonanya tak luntur ketika ia tampil tanpa make up sambil menggendong sang buah hati sebab senyumnya terpancar begitu tulus menyapa penggemar dan wartawan yang menemuinya.

      Contoh-contoh dari para selebritis tersebut membawa suatu kesimpulan bahwa #MemesonaItu muncul karena menjadi diri sendiri dan mengoptimalkan energi positif pribadi. Ketika hadir sebagai copy cat dari sosok lain mungkin orang akan terkesima. Seperti saat menyaksikan bintang panggung beraksi atau seorang aktris berakting. Tetapi ketika di luar panggung sosok tersebut ternyata tidak memancarkan energi positif. Hidupnya kacau, tergantung pada minuman keras dan narkoba, suka berbuat onar dan mencari sensasi belaka maka mereka yang mengenalnya pasti akan kecewa. Seorang pendakwah mungkin memesona sesaat ketika dari bibirnya meluncur kata-kata penuh hikmah dan menyitir ayat-ayat suci nan mulia. Namun jika dalam kehidupan sesungguhnya ia menunjukkan perilaku yang bertentangan dengan ceramah dan khotbah yang ia sampaikan maka pesonanya pun hilang seketika.


      Ingin tampil memesona? Mari menggali energi positif dalam diri. Tampil sebagai diri sendiri yang menebarkan kebaikan terhadap sesama. Lakukan kebaikan tulus ikhlas tanpa pamrih maka niscaya orang lain pun akan menaruh hormat dan terpesona tanpa kita harus menjadi selebriti.

Share:

Belajar dari Kartini-Kartini Masa Kini

"Ntar brenti kerja saya ngapain aja di rumah ya ?" pikiran galau semacam itu menghantui saya berbulan-bulan sebelum memutuskan resign. Bagi saya memutuskan berhenti bekerja bukan hal mudah. Satu sisi harus siap kehilangan pekerjaan dan penghasilan untuk menopang kondisi finansial keluarga yang saat itu tidak bisa dibilang aman. Sisi lain si bungsu sering sakit-sakitan dan perlu perhatian lebih serius.

Saya berusaha keras mengatasi kegalauan dengan cara menemukan solusi. Maklum sebelumnya sudah pernah memutuskan break dari dunia kerja saat si sulung berusia kurang dari setahun. Ternyata saya hanya bisa bertahan dua tahun saja. Dan selama dua tahunan stay at home malah merasa stress. Sehari-hari ngurus rumah tanpa kesibukan lain. Ga bisa bantu ibu dengan penghasilan sendiri dan jadi merasa kurang percaya diri.

Artinya sebelum berhenti bekerja untuk kedua kali saya harus punya kesibukan sekaligus pintu yang bisa mendatangkan penghasilan. Pastinya Sang Maha Kuasa paham kegalauan ini hingga kemudian mempertemukan saya dengan Kartini-Kartini masa kini. Mereka adalah wanita-wanita bukan pekerja kantoran. Tetapi punya semangat dan energi untuk terus berkarya. Sambil lalu, saya pun mendapatkan berbagai inspirasi yang tercecap diam-diam ketika mengamati sepak terjang mereka sebagai perempuan. 


Wanita pertama yang menginspirasi saya untuk memutuskan berhenti bekerja dari dunia kantoran adalah mbak Murti Yuliastuti. Meski belum sempat bertemu di dunia maya, beliau telah menjadi sahabat dunia maya (ya buat saya sih demikian mudah-mudahan begitu juga bagi mbak Murti hihihi). Beliau mama dari Rangga dan Anggita. Dulu pernah bekerja dan punya jabatan tetapi beliau lepas untuk menemani putra-putri beliau yang sedang dalam masa pertumbuhan. Ternyata stay at home di mata beliau asyik-asyik aja kok. Saya amati beliau tak pernah mengeluh dengan keputusan resign dan mengisi waktu senggangnya dengan mengikuti passion: menulis. Wah jadi ingat beberapa tahun lalu pas jaya-jayanya antologi dan lomba menulis di note facebook kami sering saling tag untuk mengikuti lomba nulis A, sayembara nulis B dan sempat juga sebuku bersama...dua buku antologi malahan. Dari beliau saya belajar bahwa waktu tak perlu dibunuh agar segera berlalu tetapi diisi dengan hal bermanfaat akan lebih mewarnai hari-hari tanpa merasa sendu. Menekuni hobi, belajar tentang apa saja yang belum dipahami termasuk belajar mengaji kembali dan berusaha mengoptimalkan segala yang ada pada diri.


Ya! ketika memutuskan benar-benar off dari dunia kantoran saya mengikuti passion yang sama dengan mbak Murti: menulis. Bagaimana menulis tak hanya berfungsi sebagai pengisi waktu senggang tetapi sekaligus juga mendatangkan penghasilan? Mulailah saya berkenalan dengan penulis-penulis konten yang kemudian mengajak saya menekuni dunia menulis konten. Feenya memang hanya beberapa ribu rupiah untuk sekian kata. Tetapi bisa menjadi beebrapa ratus ribu rupiah untuk sekian artikel.

Pekerjaan sebagai penulis konten ini berjalan bareng dengan aktivitas saya di dunia blogging. Uhuks tapi blog saya isinya curhat-curhat melulu. Namun alhamdulillah bisa mendatangkan penghasilan juga karena menang beberapa lomba blog dan review produk. Kadangkala sebagai blogger mendapat undangan untuk hadir di suatu acara atau saya sendiri yang berkunjung ke suatu acara demi mengikuti lomba menulisnya hahaha (dasar ya ga jauh-jauh dari usaha)

Tak dinyana karena saya hobi banget ikut lomba menulis meski prestasinya masih hitungan jari menjadi jalan inspirasi lain lagi. Berkat berkunjung ke Pameran Produksi Indonesia Tahun 2015 saya berkenalan dengan wanita inspiratif berikutnya yaitu mbak Kartina Ika Sari. Beliau ini dulunya saya kenal sebagai blogger. Kemudian naik tahta menjadi writerpreneur ~ begitu biasanya beliau menyebut profesinya. mbak Ika ini founder dari Indoblognet.com dan pemilik dari MB Communication. Sepak terjang MB Communication dan Indoblognet ini patut diacungi jempol. Indoblognet adalah semacam situs untuk komunitas blogger dan penulis. Kita boleh menulis tentang apa saja sesuai kategori. Bagusnya lagi MB Communication dan Indoblognet ini bekerjasama dengan UKM-UKM yang bertindak sebagai sponsor dan seringkali mengadakan acara coaching seperti fotografi, decoupage dan cara menyajikan video yang extraordinary. Keren banget deh mbak Ika. Beliau pernah dalam suatu chit chat dengan saya berkata "saya ingin mengangkat produksi dalam negeri agar lebih berdaya jual dan memberdayakan blogger agar lebih punya nama sekaligus penghasilan lebih baik" Alhamdulillah berkat bergabung menjadi salah satu penulis di Indoblognet saya pun jadi ikut kebanjiran rezeki. Beberapa kali dinobatkan sebagai blogger terngehits, mendapat kesempatan mereview produk, meliput acara khusus dan proyek-proyek lainnya. Semua itu nggak cuma memberi saya fee dan honor yang lumayan tetapi juga pengetahuan dan hikmah kehidupan.


Duo wanita inspiratif dalam hidupku


Dari mbak Murti dan mbak Ika, Kartini-Kartini masa kini saya mendapat inspirasi penting bahwa kebahagiaan itu diperoleh dengan cara bersyukur, mengoptimalkan diri dan aktualisasi. Menjadi emak rumahan bukan berarti dunia tamat dan hilang semua keceriaan. Kerahkan semua kemampuan, lambungkan impian, hadapi kenyataan dan jangan pernah lelah untuk belajar dan berbagi. Ngga masalah mau pakai daster atau gamis syari tapi yang terpenting bagaimana mengoptimalkan karunia Illahi.

Di luar sana mungkin banyak wanita inspiratif berprestasi tetapi kebetulan saya mengenal mbak Murti dan mbak Ika dari kacamata yang cukup dekat (sok dekat ajalah hahaha). Temukan mereka, dapatkan pelajaran dari kehidupannya lalu jadikan diri sendiri sebagai wanita yang juga menginspirasi, minimal menginspirasi keluarga sendiri. 

Share:

Apa Kabar Tabungan Ramadhan dan Lebaran?

Tak terasa bulan Ramadhan dan Lebaran sudah tinggal hitungan hari. What? Hari? Ya kurleb 3 bulan kan sama dengan kurleb 90 hari. Dulu, pas masih kerja, punya gaji, terima THR dengan pasti saya nggak terlalu ribut mikirin tetek bengek Ramadhan dan Lebaran. Dua bulan khusus ini selalu membutuhkan dana ekstra lebih dari biasanya. Bukan  ...bukan....anggaran ekstra saat Ramadhan dan Lebaran bukan berarti timbul gegara sikap konsumtif yang digedein. Misalnya mentang-mentang puasa trus laper mata, segala macam jenis makanan dan minuman yang dijajakan menjelang buka puasa diborong semua dan siap menemani di meja makan setelah adzan magrib berkumandang. Bukan juga disebabkan gegara menjelang lebaran butuh duit buat belanja baju baru, asesoris plus sepatu (saya mah beli baju setahun sekali aja kagak mesti, kalau dah bulukan baru beli lagi. Lha koleksi gamis aja cuma 5 biji hihihi). 

Tapi memang Ramadhan dan lebaran butuh anggaran khusus. Kenapa? 
Pertama, karena Ramadhan, bulan yang paling ditunggu umat Islam sedunia menjanjikan kemuliaan di alam baka (S & K berlaku tentunya). Puasa Ramadhan sebulan penuh insyaAllah mampu meluruhkan dosa asal bersungguh-sungguh bertaubat memohon ampunanNya. Berbagai amalan pahalanya berlipat ganda. Nah ini nih kadang amalannya butuh duit juga kan seperti mengajak berbuka puasa anak-anak yatim atau menjamu buka puasa bersama, berinfaq sedekah hingga zakat fitrah dan zakat maal. Kedua pas (menjelang) lebaran. Saya sudah biasa memberikan sekedar tali asih pada Mama setiap lebaran. Maklum Mama kan ngga ada penghasilan atau pensiunan. Padahal pas lebaran mesti dikunjungi tetangga dengan anak kecil-kecilnya, sanak saudara. Butuh suguhan dan sedikit “angpau” sekedar buat nyenengin anak-anak kecil. Belum lagi transportasi untuk mudik dan bersilaturahim ke sanak saudara, butuh anggaran khusus juga kan? 
Dulu pas masih ada gaji dan THR gak terlalu mikir “berat”. Etapi meski sudah empat tahun menjalani hidup sebagai freelance saya juga ga terlalu berat mikirin segala anggaran itu dicukupi darimana. Saya hanya perlu tekun dan konsisten menabung saja. Tabungan khusus buat Ramadhan dan Lebaran hehehe. Nggak perlu buka rekening bank lagi sih, tetapi dari salah satu rekening yang saya miliki.Saya lebih suka menyimpan tabungan di rekening bank syariah. Tanpa bunga, tanpa bea admin. Karena tujuan saya menyimpan uang di bank memang untuk sekedar menyimpan sebagai tabungan, enggak berharap bunga. Tapi saya juga ogah simpanan uang tergerus bea admin. Bersyukur banget bisa menemukan rekening bank yang tidak membebani bea admin sehingga uang saya utuh dan insyaAllah aman. 
 Amanlah, kan nggak saya pakai buat belanjaaa. Aman karena tabungan yang gak sampai 2M itu dijamin LPS jika terjadi sesuatu (misalnya likuidasi) pada bank syariah tempat saya menyimpan uang. Udah pada tau kan simpanan dalam bentuk apa saja yang dijamin LPS?
Eia tabungan di bank syariah ini pernah berjasa banget buat qurban tahun 2016. Kebetulan ...alhamdulillah ....kebutuhan untuk lebaran dan Ramadhan dicukupi Allah dari pintu lain maka saya nggak ambil tabungan. Tapi sebagian dari tabungan tersebut kepakai buat qurban, patungan sama suami. Sama halnya seperti bak mandi yang kosong harus segera diisi kembali. Meski tabungan ngga sampai melompong usai diambil buat qurban saya teteup rajin nabung. 
Bagaimana sih freelance bisa nabung buat keperluan Ramadhan dan Lebaran? Mau tahu rahasianya? Saya mau bisikin rahasia nih. Selama ini saya punya dua rekening. Satu di bank konvensional yang berfungsi sebagai rekening "aktif" keluar masuk, untuk PPOB, untuk pos biaya-biaya yang kebetulan menjadi tanggung jawab saya untuk membayarnya. Saya biasa membuat anggaran sekian rupiah untuk bayar ini, sekian lagi untuk yang itu dan lain-lainnya. Jadi ketahuan kan kebutuhan tiap bulan? Nah Satu rekening lagi adalah bank syariah yang murni berfungsi sebagai tabungan baik itu tabungan untuk keperluan Ramadhan, Lebaran dan *masa depan*. Jadi sebisanya ngga diutak-atik buat keperluan yang ga penting-penting banget. Hehehe cukup dua aja, gak perlu banyak rekening dah buat saya mah. Nah kalau pas dapat fee dari order menulis, fee sebagai buzzer, hadiah lomba atau kuis saya pisahin sendiri mana yang nomor rekeningnya diajukan ke klien untuk masuk rekening bank konvensional dan mana yang masuk rekening bank syariah. Saya juga ga perlu jauh-jauh pergi ke bank untuk setor uang tabungan. Eits tapi perlu diperhatikan bahwa secara berkala buku tabungan sebaiknya di print out loh. Karena catatan rekening (pembukuan) di bank kan salah satu syarat dijaminnya tabungan kita oleh LPS.

Ini lo syarat Kriteria Simpanan Layak Bayar di Bank Syariah dan BPRS




Nah klo buat bank syariah, karena ngga mengenal "bunga " khusus buat bank syariah jadinya gini nih:


Bismillah semoga selalu dimudahkan langkah kita untuk berbagi, hidup hemat dan rajin menabung. Menabung bukan sekedar berpatokan pada pangkal kaya tetapi menabung mengajarkan menjadi manusia bijak dalam memanage waktu dan penghasilan. Psst semua pada ingat kan kalau boros itu sifat yang dibisikkan setan. Ngga mau dong jadi teman setan. Yuk ah nabung mulai sekarang. 
Pintu rezeki itu beribu-ribu, saya berusaha mengetuknya satu persatu. Jadi freelance itu bekalnya sabar. Kalau pas orderan datang bareng harus sabar membagi waktu agar ngga ada yang dianaktirikan dan selesai on time dengan kualitas jempolan. Andai memang tak mampu mengerjakan ya harus dibicarakan terus terang pada yang ngasih orderan, apakah perlu dikembalikan atau waktu penyelesaian bisa dinegosiasikan. Sabar juga kalau pas sepi orderan. Coba-coba alih profesi bisnis kecil-kecilan (macam saya yang jualan mukena hahaha) Dan tetep sabar kalau pas fee orderan berlimpah, sabar untuk tidak seperti orang kesetanan buat belanja ini itu yang kadang gak perlu. Ingat..ingat ada kewajiban infaq sedekah dan MENABUNG tentunya.




Share:

Etika Kerja (Renungan 'ITQAN dan IHSAN Tausyiah Ustadz Salim A Fillah)

Saat menemani suami kontrol ke RSI Siti Hajar tempo hari saya terpana membaca tulisan ini di pintu masuk menuju selasar ruang rawat inap dan gedung utama. (Padahal sudah lama terpampang tapi baru kali ini menelan maknanya)

Di pintu masuk lorong yang dingin ini terdapat papan yang mengutip QS At Taubah : 105
"Bekerjalah kamu maka Allah dan RasulNya serta orang-orang mukmin akan melihat pekerjaanmu"

Sungguh, keberadaan kita di dunia ini hanya karena menjalani takdirNya. Bekerjalah, bukan berarti sekedar bekerja mencari nafkah, mengais materi. Tetapi bekerja mengandung hikmah mengoptimalkan segenap karuniaNya dengan landasan cinta, ibadah, perwujudan rasa syukur kepadaNya.


Jadi teringat dengan tulisan ustadz @salimafillah di facebook tempo hari:
Di antara yang menakjubkan dari Bangsa Turki adalah kesungguhan dan standar tinggi dalam mengerjakan sesuatu. Lihatlah tukang semir di dekat Yeni Camii di tepi Bosphorus ini. Sebuah singgasana untuk pelanggan, karena pemakai jasa adalah raja baginya. Sebuah landasan dengan tatakan-tatakan berukir berwarna keemasan. Semir berbagai jenis dan warna tersedia, peralatan gosok dari bermacam sikat hingga aneka kain pengilap pun ada. Dan bahkan jika sepatu kita kurang kelengkapannya, dia sediakan hingga alas lembut maupun kaos kaki yang sesuai.
Sepasang sepatu saya ini, pengerjaannya hampir sepuluh menit, dengan 4 macam semir, dan 5 teknik gosokan. Masyaallah.
Ah, memang, justru sebab rizqi kita telah dijaminkan, maka makna kerja kita adalah pengabdian seutuhnya kepada Allah. Justru sebab kita tahu bahwa bekerjanya kita maupun karunia yang dilimpahkan melaluinya keduanya sama-sama anugerah, maka bekerja sudah seharusnya ditunaikan dalam gembira. Justru sebab kita tahu bahwa kerja kita bukanlah penentu dari apa yang kita nikmati, maka bekerja sudah seharusnya merupakan bentuk luapan syukur kita pada Dzat Yang Maha Bijaksana.
Bekerja adalah ibadah sehingga sudah semestinya ditekunkan dengan ‘itqan, bahkan seyogyanya diperjuangkan sampai ihsan.
“Sesungguhnya Allah cinta kepada hamba yang berkarya dengan ‘itqan, -tekun dan terampil-. Barangsiapa bersusah-payah mencari nafkah untuk keluarganya, maka dia serupa dengan seorang yang berjuang di jalan Allah.” (HR Ath Thabrani dan Al Baihaqi)
Penting untuk kita pahami bahwa lapis-lapis keberkahan bukan hanya terdapat pada rizqi yang Allah karuniakan pada kita. Lebih dari itu, ia justru teranugerahkan dalam kesungguhan kita menekuni pekerjaan hingga berketerampilan. Ialah berkah, sebab cinta Allah terjanji pada hamba yang demikian. Ialah berkah, sebab mencari nafkah adalah sebentuk ibadah. Ialah berkah, sebab susah payahnya bernilai jihad fi sabilillah.
“Wahai Hakim,” demikian Sang Nabi ﷺ bersabda dalam riwayat Imam Al-Bukhari dan Imam Muslim, ”sesungguhnya harta benda ini kelihatan hijau dan manis. Barang siapa mengambilnya dengan cara yang baik, maka ia akan diberkahi. Dan barang siapa mengambilnya dengan berlebihan, maka ia tidak akan diberkahi, yaitu seperti orang yang makan dan tak pernah kenyang.”
Semoga Allah karuniai kita kekuatan untuk menjadi seorang Muslim yang ‘itqan dalam kerjanya. Hingga tangan yang kasar dan berkapal, terperisai dari sentuhan api neraka. Hingga dosa-dosa yang menghitamkan hati, luruh bersama tiap butir keringat yang mengucur.
Dan semoga kita dikaruniai kekuatan untuk menjadi seorang mukmin yang ihsan dalam kerjanya. Yang menjadikan Allah sebagai sumber semua tenaganya. Yang menjadikan Allah sebagai yang paling diharapi ganjaran dariNya. Dengannya, semoga kita mampu bekerja melampaui apa yang diharapkan manusia, baik atasan, rekan, maupun bawahan.
Sebab kita yakin, andaipun mata ini tak melihat Allah, sungguh dia senantiasa menyaksamai kita. Sebab kita yakin, andaipun tak ada manusia yang mengawasi kita mengerahkan daya dan mencurahkan tenaga, ada Allah yang lengkap catatanNya dan teliti perhitunganNya. Sebab kita yakin, andaipun ada jam kerja yang tak terhitung dalam gaji dan penghargaan manusia, balasan di sisi Allah jauh lebih kita harap dan kita suka.

Tulisan ini membuka mata (hati) saya. Seringkali saya memandang sesuatu dari besarnya "materi" misalnya fee kerjaan yang lebih gede otomatis semangat ngerjainnya lebih gede. Fee kerjaan yang kecil saya pun memandangnya sebelah mata dan seperti ogah-ogahan (padahal butuh juga hehe). Mungkin cara pandang saya salah dalam menyikapi etika bekerja. Harusnya semua pintu dianggap sebagai karunia Allah, bekerja haruslah dianggap sebagai bagian dari ibadah. Bukankah Allah memerintah kita untuk *BEKERJA* nah bekerja mencari nafkah adalah bentuk dari karya dan cara kita mengoptimalkan karunia Sang Pencipta berupa kesehatan dan panca indera.

Namun di sisi lain saya sering merasa "marah" ketika dibayar terlalu murah padahal yang membayar bisa beli mobil, rumah, umroh dan lain-lainnya. Tapi salah sendiri kenapa tak kunjung mandiri, meski freelance tapi tetep aja ngandelin dapat fee orderan hahaha. Sungguh, penuturan Ustadz Salim A Fillah tentang penyemir sepatu Turki yang full service seperti itu. 

Duh jadi malu, mudah-mudahan masih bisa memperbaiki diri. Mengoptimalkan segala pemberianNya dengan memanfaatkan sebaik-baiknya di jalan kebaikan. Apapun itu. Entah itu menulis, mengurus rumah, merawat suami yang butuh perhatian ekstra di masa recovery, menemani si kecil belajar, memompa semangat si sulung nun jauh di sana. Banyak lagi dan masih banyak lagi...
Semoga Allah memudahkan ...aamiin
Share:

Hikmah di balik "Musibah"

Musibah, Ujian, Azab, tiga hal ini terlintas di pikiran saya ketika mendapatkan sesuatu yang di luar perkiraan, sesuatu yang sangat menyedihkan, situasi yang paling tidak diinginkan. Apakah ini musibah, ujian atau azab?
Saya pernah mendengar ceramah (atau membaca artikel religi, lupa lupa ingat) bahwa sesuatu yang tidak diinginkan menimpa kita bisa berupa musibah, ujian atau azab. 

Ujian, jika ditujukan pada mereka yang tekun dan ikhlas dalam beribadah, melaksanakan perintah Allah, menjauhi laranganNya tetapi tetap tertimpa sesuatu yang tak diinginkan. Ujian, seperti halnya ujian di sekolah ditujukan untuk mengukur kemampuan apakah sudah pantas untuk naik tingkat?

Musibah atau teguran, ditujukan pada orang yang beriman yang sedang atau telah melakukan kesalahan, khilaf tetapi tidak segera menyadari apalagi beristighfar. Ditegur Allah dengan cobaan yang tidak disukai agar kembali ke jalan Allah dan bertaubat nasuha.

Adzab atau hukuman ditujukan pada orang yang ingkar terhadap Allah, terhadap keesaanNya, terhadap nikmatNya. Wis lah pokoknya mirip anak bandel dan bikin sebel. Jadinya kena hukum deh.

Nah saya lagi mikir nih lagi kena adzab, musibah atau ujian saat suami harus diopname untuk kedua kali di bulan yang sama? Ini alasan saya vacuum hampir dua minggu nggak nulis. Karena suami harus masuk rumah sakit dan rawat inap sejak 25 februari - 1 maret. Kali ini pakai biaya sendiri, nggak pakai BPJS sebab opname tempo hari pulang paksa dari RSUD hehe. Peraturan BPJS ternyata buanyaak dan rumit ya. Saya aja baru tau kalau kartu kepesertaan BPJS bisa diblok jika pulang paksa dari rumah sakit sehingga tidak bisa digunakan untuk klaim rawat inap dengan keluhan dan diagnosa yang sama.

Kondisi suami saat itu sangat mengkhawatirkan. Makin lemah, nafas susah, diare hebat, perut nyeri tak tertahankan. jam 2 dini hari saya nekad ngayuh sepeda ke apotek K24 untuk beli obat diare. Paginya saya paksa suami memeriksakan diri ke rumah sakit, langsung masuk IGD. Dan ternyata HBnya drop sampai 3,2.

Kira-kira ini ujiankah? tapi rasanya saya bukan tergolong orang yang taat banget gitu, apa ya sudah pantas naik tingkat? Musibah? bisa jadi banyak dosa yang tak saya sadari. Jangan-jangan adzab karena saya seringkali kufur nikmat. Duh!

Ya sudahlah daripada bingung mikir "kategori" lebih baik saya mawas diri dan memperbanyak istighfar saja. Terbukti istighfar memang membuka lebih banyak jalan keluar. 

Meski tabungan terkuras (yang sedianya untuk keperluan daftar ulang si sulung), badan remek karena 5 hari staycation di RS sendirian tanpa ada yang gantiin dan emosi labil melihat kondisi suami yang mengenaskan, saya mendapatkan banyak hikmah. Hikmahnya antara lain:
1. Anak bungsu saya lebih mandiri. Dia sempat ikut menginap sehari semalam di rumah sakit. Bantuannya sangat besar karena rela naik turun untuk membelikan diapers dewasa buat si ayah yang harus bedrest. Dia juga akhirnya bersedia dititipkan, nginap di rumah tetangga (sehari di bu RT, 2 hari di guru ngajinya) Senang terima kabar kemandiriannya dari bu ustadzah. Tiap adzan subuh dan ashar dia bisa terbangun dari bobo pulas dan bergegas ambil wudhu untuk sholat jamaah di masjid (biasanya subuh dan ashar dia sholat di rumah karena susah bangun tepat waktu hehe) 
2. Merasa "kaya"
Terus terang, musibah ini membuat saya merasa kaya. Bukan karena kaya materi dan bisa bayar biaya rumah sakit sendiri. Tetapi merasa kaya karena perhatian, support, doa dan dukungan dari tetangga, teman, kerabat tiada henti
3. Menyadari indah silaturahim
Salah satu sahabat yang datang adalah teman akrab saya sejak saya baru memasuki dunia kerja di tahun 1999. Rumah kami berdekatan di kota yang sama tetapi ketemu setahun sekali belum tentu juga. Uniknya kami dipertemukan saat saya tertimpa musibah karena beliau butuh bertandang ke rumah dan mengambil struk pembayaran listrik yang biasanya tidak pernah diperlukan. Waduh akhirnya saya terpaksa mengabari kalau lagi menjaga suami di rumah sakit.

Selalu ada hikmah di balik musibah. Masih banyak hal lagi yang saya dapatkan sebagai pelajaran. Tentang masjid rumah sakit yang tak pernah sepi dari jamaah sholat lima waktu, tentang perawat dan dokter di RS Siti Hajar Sidoarjo yang ramah dan tangkas, tentang kemudahan yang kami peroleh dengan semakin membaiknya kondisi suami setelah transfusi darah (satu kantong darah transfusi biasanya hanya bisa mengangkat satu angka HB tetapi dua kantong transfusi yang dijalani suami bisa mengangkat hingga 2,5 alhamdulillah)

Biidznillah...
Memperbanyak istighfar itu membuka jàlan kemudahan, insyaAllàh menuntun ke jalan yang benar.
Kaya yang sesungguhnya adalah ketika doa dan dukungan dari sahabat, sanak kerabat, tetangga dan teman-teman dekat datang silih berganti menguatkan hati.
Tak mampu membalas kebaikan mereka satu persatu hanya bisa menyebut mereka dalam doa agar orang-orang baik ini senantiasa berlimpah kebarokahan hidup, kelapangan rezeki dan kemudahan-kemudahan tiada henti....
Aamiin
Share:

Mau Jadi Bak Bocor atau Gelas Setengah Isi?

Suatu hari saya membaca BC melalui WA walisantri sebagai berikut:

Kantong Bocor!!

Imam mesjidil haram almakki dalam khutbahnya mengatakan:

إحذروا الكيس المثقوب

Hati-hati dengan kantong yg bocor

" تتوضأ أحسن وضوء " لكــن. .. تسرف في الماء' كيس مثقْوب

Engkau telah berwudhu dgn sebaik2 wudhu akan tetapi engkau boros memakai air, (itu sama dengan)
kantong bocor

" تتصدق عَلى الفقراء بمبلغ ثم .. تذلهم وتضايقهم *كيس مثقْوب.

Engkau bersedekah kepada fakir miskin kemudian, engkau menghina dan menyulitkan mereka, (itu seperti)
 kantong bocor

تقوم الليل وتصوم النهار وتطيع ربك" لكــن. .. قاطع الرحم كيس مثقْوب

Engkau sholat malam hari, puasa di siang hari,  dan mentaati tuhanmu,  tapi engkau memutuskan (tali) silaturrahmi, (jelas itu adalah)
 kantong bocor

تصوم وتصبر عَلى الجوع و العطش" لكـن .. تسب وتشتم وتلعن كيس مثقْوب

Engkau sabar dengan haus dan lapar,  tapi engkau menghina dan mencaci, (sama dengan)
kantong bocor

" تلبسين الطرحه والعباية فوق الملابس "لكـن .. العطر فواح كيس مثقْوب

Engkau memakai baju kerudung dan kebaya,  tapi minyak Wangi menyengat, (itu)
kantong bocor

تكرم ضيفك وتحسن إليه لكـن .. بعد خروجه تغتابه وتخرج مساوئه كيس مثقْوب

Engkau memuliakan tamumu dan berbuat baik kepadanya,  tapi setelah dia pergi engkau menggunjingkanya, (sungguh itu)
kantong bocor

أخيرا ً لا تجمعوا حسناتكم في كيس مثقْوب . تجمعوها بصعوبة من جهة .. ثم تسقط بسهولة من جهه أخرى..
يا رب اسألك لي ولأحبتي الهداية والغفران .

Pada akhirnya engkau hanya mengumpulkan kebaikanmu dalam kantong bocor,  satu sisi engkau mengumpulkan dengan susah payah kemudian engkau menjatuhkannya dg mudah di sisi lain.
Ya Rabb, kami mohon hidayah dan ampunan atas kami dan orang-orang yg kami cintai

عجائب الشعب العربي :
Keganjilan-keganjilan orang-orang Arab (secara khusus dan kaum muslimin umumnya)

1- لايستطيع السفر للحج لأن تكلفة الحج مرتفعه .. لكن يستطيع السفر رغبةً في تغيير الجو !
 ألا إن سلعة الله غالية

1. Tidak mampu pergi haji karna biayanya besar,  akan tetapi sanggup pergi wisata mengganti suasana,
 bukankah perdagangan Allah itu mahal

2- لايستطيع شراء الأضحية لغلاء السعر لكن يستطيع شراء آيفون لمواكبة الموضة.
 ألا إن سلعة اللَّـه غالية

2. Tidak sanggup membeli hewan qurban karna harganya yg mahal,  tapi sanggup membeli iPhone sekedar ganti model.
bukankah perdagangan Allah itu mahal

3- يستطيع قراءة محادثات تصل إلى ١٠٠ محادثه في اليوم ..
ولا يستطيع قراءة ١٠ آيات من القرآن بحجة ليس لديه وقت لقراءة القرآن
ألا إن سلعة الله غالية

Sanggup membaca chatingan hingga seratus percakapan tiap hari,  namun tidak sanggup membaca 10 ayat alquran  dengan dalih tiada waktu yg cukup untuk membaca.
bukankah perdagangan Allah itu mahal

قليل من سيرسلها لأنه يشعر بالحرج .
Sedikit yg mau menyebarkannya/ men share karena merasa berat..

تخيل ان الله يراك وانت تنشرها لاجله.
Angankan di benakmu bahwa Allah selalu melihatmu.. Dan engkau menyebarkannya karenaNya..

 اذا اعجبتك الفكرة ..  فانشرها .
وإذا لم تعجبك .. فمر كأنك لم ترى شيئا.
Jika engkau terpanggil sebab tulisan ini maka sebarkanlah.. Namun jika tidak maka anggap engkau tidak pernah lihat..

Saya mendadak seperti disengat lebah. Jangan-jangan saya selama ini seperti bak bocor. Mending kalau kantong, ukurannya kecil dan kebocorannya biasanya bisa cepat diketahui. Nah kalau bak besar yang bocor? Diisi air penuh lalu merembes, lama-lama kosong juga jadinya nggak pernah penuh seperti harapan semula. Nyari dimana bocornya? susah banget. Saya aja sampai ganti bak baru ajah karena berkali-kali tambal sulam si bak lama kok tetep bocor juga.

Lalu saya berpikir bahwa urusan amalan memang harusnya tidak menjadi semacam bak atau kantong bocor. Berharap sekali setiap amalan terjaga agar tak merembes, meluap karena jumawa atau menguap karena riya'. faktanya seringkali ibadah diiringi dengan rasa puas dan *memuji diri sendiri* Atau kadang merasa lega karena sudah tunai kewajibannya.

Di sisi lain urusan ibadah hendaknya seperti gelas setengah isi. Maksudnya ngga pernah puas, ngga pernah penuh sehingga perlu diisi terus, ngga ada kata menyerah, harus berusaha sampai penuh. Ibadah bukan hanya jungkir balik sholat wajib dan sunnah, berlapar dan dahaga karena puasa, merogoh kantong demi bersedekah tetapi juga menuntut ilmu, membantu sesama, meringankan beban, memberikan pertolongan sekecil apapun terhadap sesama makhlukNya. Ini yang sering terlupa, lewat begitu saja. Menuntut ilmu di suatu majelis, menjadi donatur yayasan sosial atau bersedekah sesukanya seringkali dianggap cukup *seperti dalam pikiranku* *seperti anggapanku*

Semoga kita selalu bisa menjadi gelas setengah isi, bukan bak bocor yang bikin sakit hati.

Gambarnya sebagai pengingat, bentar lagi Ramadhan tiba, monggo yang ingin order mukena :)


Share:

Tabungan Uang Belanja, Penyelamat dalam Kondisi Tak Terduga

Pernah terpikir menyiapkan dana untuk keperluan tak terduga atau sudah rutin menjadi bagian dari managerial keuangan keluarga? Alhamdulillah saya terbiasa menyiapkan dana tak terduga dari uang belanja.
Perlu dicatat bahwa saya menyiapkan dana ini bukan dari sisa uang belanja tetapi saya terbiasa menyisihkan sekian persen dari uang yang saya terima dari suami untuk keperluan tak terduga. Kalau uang tersebut tidak digunakan saya kemudian menyimpannya di rekening bank. Jadi saya tak pernah menyimpan uang dalam jumlah besar di rumah.

Cara saya menabung ini alhamdulillah banyak membawa manfaat. Simpanan yang saya sebut "Kantong Doraemon" ini pernah berjasa untuk dana pembelian tiket pesawat saat mertua meninggal di seberang pulau enam tahun lalu. Kantong Doraemon pula andalan kami untuk membiayai sekolah (uang pangkal) si sulung yang masuk pondok pesantren tahun 2016 kemarin. Kali ini Kantong Doraemon lagi yang menjadi penyelamat untuk biaya perawatan kesehatan suami selama di rumah sakit.


Kebetulan dari tempat kerja sudah diberikan fasilitas BPJS Kesehatan kelas 2. Demi kenyamanan kami memilih naik kelas ke kelas 1 dan selisih biaya harus ditanggung sendiri. Alhamdulillah ngga bingung mencari pinjaman atau menjual barang sebab ada sedikit tabungan dari Kantong Doraemon untuk membayar selisih biaya tersebut.

Memang menabung itu memberikan banyak dampak positif dan ngga ada efek negatifnya. Beda banget dengan gaya hidup foya-foya. Coba deh ada yang bisa jawab apakah *dampak positif* dari berhura-hura? yang ada hanya kesenangan sesaat nah pas butuh duit banyak terpaksa jual barang.

Saya bersyukur diajarkan menabung sejak usia dini. Meski pas sekolah dulu jarang dapat uang saku tetapi pas lebaran dapat angpau lumayan. Nah uang angpau ini yang kemudian disimpan di tabungan pelajar. Gaya hidup sederhana sejak kecil juga saya terapkan hingga sekarang. Beli baju tak selalu setiap tahun, kalau sudah rusak baru beli baru. Sepatu pun saya pas masih kerja dulu punya sepasang saja, harganya tak lebih dari 35 ribu. Baju kerja juga ada sekitar 8 blus saja dan 3 celana panjang. Gadget? gadget saya biasa ajah asal bisa sms, telepon dan koneksi internet. Harga gadget saya gak pernah lebih dari sejuta (yaelah gadget yang harga hampir sejuta inipun pemberian suami yang dapat doorprize dalam suatu acara hihihi) Walhasil sisa gaji saya setelah dialokasikan membayar KPR bisa jadi tabungan yang kemudian saya gunakan untuk melunasi sisa hutang KPR sebelum resign.

Nah setelah resign dan tak punya gaji tetap saya konsisten menabung dari uang belanja. Begini cara saya agar tetap konsisten menabung:
1. Syukuri pemberian Allah melalui suami (dan pendapatan pribadi sebagai freelance)
2. Sisihkan sekian persen sebagai target menabung setiap bulan
3. Susun pengeluaran berdasarkan prioritas anggaran (ini termasuk SPP anak-anak, uang belanja, tagihan listrik dan PDAM, kewajiban donasi di lembaga tertentu dll)
4. Susun rencana belanja setiap minggu dan bawa uang tidak berlebih saat ke pasar. Maksudnya ngga usah bawa semua uang yang diposkan untuk belanja sekaligus. Cukup membawa 25 persen dari total anggaran belanja.
5. Jangan menyimpan terlalu banyak uang di rumah. Simpanan dari uang belanja lebih baik segera ditabung di rekening bank.
6. Khusus untuk belanja bulanan seperti sabun, minyak goreng dll saya biasa nunggu promo JSM di supermarket. Lumayan bisa dapat produk harga super diskon hehehe

Selain tabungan dari uang belanja pemberian suami, saya juga memiliki tabungan pribadi yang saya sisihkan dari fee menulis dan kadang menang lomba apalah apalah. Jadi saya punya dua rekening. Satu rekening bank konvensional yang dipakai untuk transaksi PPOB, menerima fee menulis dan berbagai job. Satu lagi rekening bank syariah yang sebisa mungkin tidak saya ambil (kecuali pas kepepet tempo hari untuk qurban)

Yap, sejak ada penjaminan saya tak ragu menabung di bank. Dulu pernah ketar-ketir saat zaman gencar-gencarnya likuidasi. Ntar kalau bank gulung tikar duit kita ikutan ilang dong ya? Alhamdulillah LPS bertugas menjamin simpanan nasabah hingga 2 Miliar per rekening. Jadi makin tenang ajah nyimpan uang di bank. 

Bea adminnya bo' nggak kukuh. Haha iya yah, bea admin bank konvensional sekarang rata-rata 12.500 - 15 ribu rupiah per bulan sementara suku bunga tak mampu menutup pemotongan biayanya. Kalau saya pilih rekening di bank syariah yang tidak mengenakan bea admin bulanan tapi saldonya nggak boleh kurang dari 500 ribu per bulan. Sedangkan yang bank konvensional tadi, yaa saya anggap biaya adminnya ketutup laba dari bisnis PPOB yang kami jalani. Maklumlah saldonya ngga seberapa dan dinamis banget jalannya. Khusus tabungan dari uang belanja yang saya ceritakan disimpan di rekening suami. Kan beliau yang sudah susah payah mencari nafkah :) Alhamdulillah, terbukti beberapa kali tabungan uang belanja ini menjadi penyelamat kami dalam kondisi tak terduga.

Eh iya tips penting lainnya saat menabung: ajarkan sedini mungkin pentingnya menabung pada anak-anak. Kalau pas liburan sekolah bisa loh ajak mereka menyetor tabungan ke bank terdekat, sekalian jalan-jalan cuci mata hehehe

Share:

Penulis Konten Fee Jutaan?

Wow selama ini saya yang notabene kerja freelance sebagai penulis konten cuma dapat fee recehan tiap kali menulis 100 kata. Sampai kemarin suami harus opname dan rawat jalan di rumah saya putuskan break dulu lah dari kerja rodi yang dihargai 25 rupiah per kata (halo agency naskah, mudah-mudahan engkau baca curhatku ini) Mending urus suami dan ikutan lomba plus kuis lagi.

Bukan berarti saya nggak nulis artikel konten 300-an kata lagi. Ada 5 tulisan saya untuk blog teman maya. Saya senang menulis untuk sang teman. Selain tetap mengasah ketrampilan menulis saya juga sangat berterimakasih kepada beliau yang memberikan fee dengan nominal jauh lebih baik daripada si agency yang sudah tiga tahunan membayar saya dengan recehan dan mereka menikmati jutaan rupiah hahah.

Lalu suatu hari saya dikejutkan dengan informasi mengenai suatu portal berita yang berani membayar lima puluh ribu untuk satu artikel 300 kata Alamaak jadi ikutan berdegup kencang hati saya. Saya pernah menulis hingga 100 artikel per bulan di agency yang lama dan cuma dapat penghargaan ga sampai 1 juta. Lha gimana wong satu artikel 300 kata dihargai cuma 7500 rupiah saja. Kalau saya bisa nulis 100 artikel dengan fee 50 ribu rupiah artinya kan bisa dapat 5 juta dong per bulan.

Seumur-umur baru kali ini dah nulis konten dihargai sedemikian rupa mengingat tarif listrik naik, biaya pengobatan suami yang butuh duit juga meski ada BPJS, biaya sekolah anak yang butuh jutaan rupiah per bulan, biaya pulsa internet buat mencari bahan nulis dan ngeblog yang ga cukup dibayar dengan satu artikel di agency yang lama. 

Bismillah saya pun mendaftar menjadi salah satu penulisnya. Mudah-mudahan Allah membukakan pintu rezeki yang barokah melalui pintu ini 

Ini saya copas dari S & K

Setiap artikel yang Kamu akan mendapatkan Rp.50.000,-. Pembayaran akan dilakukan di bulan selanjutnya ketika saldo Kamu sudah mencapai Rp. 200.000,-. Periode akan dihitung setiap tanggal 25 (contoh : Periode 25 Desember 2016-25 Januari 2017).
Share:

Waspadalah Anemia Bisa Menyerang Siapa Saja

Hmm lama juga ga menulis di sini. Sibuk wira-wiri memeriksakan suami sekaligus menjaganya yang harus rawat inap di rumah sakit karena anemia. Pria, berat badan lebih dari 80 kilogram bisa terserang anemia ya?

Anemia, gangguan kesehatan karena kurang darah ini identik dengan dua hal: wanita atau kurang gizi. Survey menunjukkan bahwa kaum wanita memang lebih mudah terserang anemia dibandingkan pria. Sebab wanita mengalami siklus menstruasi, kehamilan dan persalinan, Tiga hal ini membutuhkan banyak zat besi dan mengeluarkan banyak darah sehingga jika sang wanita tidak waspada ia rentan menderita anemia. 

Anemia juga identik dengan kurang gizi. Asupan makanan yang kurang memenuhi kebutuhan zat gizi terutama zat besi bisa menjadi salah satu faktor kekurangan sel darah merah. Sesuai dengan definisi anemia yaitu berkurangnya jumlah sel darah merah atau kandungan hemoglobin di dalam darah. Pembentukan sel darah merah ini sangat dipengaruhi berbagai zat gizi makanan terutama zat besi dan vitamin B2 dan B12.

Hemoglobin (Hb) adalah suatu senyawa protein pembawa oksigen di dalam sel darah merah. Sel darah merah di produksi di sumsum tulang. Kekurangan hemoglobin inilah yang menimbulkan gejala yang dialami penderita anemia seperti letih, lemas, lesu, sering pusing dan sakit kepala, mata berkunang-kunang, nafas ngos-ngosan, mudah lelah, kurang nafsu mukan, mual, wajah dan kulit tubuh tampak pucat.

Anemia bisa terjadi karena cacingan, pendarahan hebat akibat kecelakaan, penyakit kronis, kanker usus besar, atau wasir.

Bagaimana mencegah anemia?
Tentunya dengan rajin mengkonsumsi sayuran hijau dan buah yang banyak mengandung vitamin B2 dan B12 serta zat besi (nah ini sulitnya suami punya penyakit asam urat jadi harus menghindari sayuran berserat tinggi). Paling aman buah apel dan anggur dah buat suami (untuk saat ini)

Mengenai penyebab anemia suami saya, dugaan sementara adalah karena wasir menahun yang ia derita dan gaya hidupnya yang kurang sehat >> tidak suka buah dan sayur serta kurang berolahraga. Kurang olahraga bisa pengaruh juga ya? mungkin karena olahraga membantu peredaran darah menjadi lebih lancar. 

Sekedar berbagi pengalaman suami. Diagnosa awal bisa saja *menipu*. Keluhan mual, lemas dijudge sebagai asam lambung yang meningkat. Segala obat lambung dikonsumsi. Seminggu masih terasa nggak nyaman. Periksa kolesterol, asam urat dan diabetes swadaya lewat alat yang biasa dipakai di apotek-apotek. Hasilnya kadar kolesterol agak tinggi. Balik dokter lagi diberi obat kolesterol. Tapi keluhan mual dan lemas tak ada perubahan. Akhirnya saya minta suami pindah periksa dokter spesialis penyakit dalam agar dirujuk test darah. Hasilnya kadar HB cuma 5,4. Padahal normalnya untuk pria 14 (rata-rata medis mematok 11/12 secara umum)

Udah deh istirahat dokter 4 hari dan minum suplemen penambah darah. Terasa rada enakan balik kerja. Dapat 3 hari terserang diare. Hasilnya mulai merasa drop lagi. Sampai teman kantornya membawanya ke RS dekat kantor dan diketahui HBnya cuma 4!

Ya udah deh terpaksa harus rawat inap dengan rujukan RS yang relatif lebih dekat rumah. Transfusi darah 2 kantong HB cuma naik sampai 6,3. Mengingat anak saya yang kecil terpaksa ikut jaga di RS padahal dia rentan banget terkena penyakit akhirnya saya mengajukan pulang paksa (sebisa mungkin jangan ditiru ya) Advis medis dari dokter sebenarnya menganjurkan HB mencapai minimal 10 baru boleh pulang. Sekalian melihat reaksi dari transfusi sebab transfusi darah yang tidak sesuai ternyata juga bisa menyebabkan kadar HB drop lagi.

Susahnya 5 hari istirahat di rumah saya berinisiatif mengajak suami cek kadar HB lagi. Lha kok hasilnya (di klinik lain lagi) cuma 5,6. Saya bingung juga nih, ini karena alatnya kurang akurat karena jarang dikalibrasi atau memang kadar HB suami drop lagi. Tapi kalau drop lagi kok keluhan lemas dan letihnya nggak dia rasakan seperti saat sebelum transfusi.

Saya tak bisa mendapatkan jawaban dari tanda tanya yang menghantui. Namun yang terpenting adalah mencari penyebab menurunnya kadar HB suami. Salah satunya adala mengobati wasir dengan obat yang (diharapkan) lebih manjur. Sebenarnya saya sudah menganjurkan agar suami memeriksakan wasirnya ke dokter bedah atau spesialis penyakit dalam. Tapi beliau menolak dengan alasan trauma dengan jarum suntik dan perawatan medis. Sering menulis artikel/konten kesehatan saya jadi lebih waspada berbagai gejala penyakit, termasuk kanker usus besar yang mirip sekali dengan wasir (semoga saja kekhawatiran ini tidak terjadi). Berharap kesehatannya bisa pulih dengan segera dan beraktivitas seperti sedia kala.


Share:

Tarif Listrik Naik? Simak Cara Menekan Tagihannya


Awal Februari, saat yang bikin dag dig dug di hati. Bukan karena dapat rezeki tetapi dag dig dug dengan tarif listrik 900 VA yang baru. Hahay iya karena subsidi tarif listrik dicabut secara bertahap sejak konsumsi di Januari 2017. 

Alhamdulillah dari dua tagihan listrik yang saya bayarkan (listrik rumah sendiri dan listrik rumah ibunda) kenaikannya kalau dihitung berkisar 15 ribu rupiah saja. Mudah-mudahan istiqomah nih sampai pencabutan subsidi completed 100 persen.
Listrik ibu biasa bayar 60 ribu per bulan, tagihan Januari yang dibayarkan di Februari kena 75 ribu. Listrik rumah saya biasa rata-rata 170 ribu (pernah 150 ribu kalau pas libur lebaran dan keluar kota beberapa hari) sekarang kena 185 ribu. Kalau nominal sekian ini setara dengan 30 persen subsidi yang dicabut (sesuai rencana pemerintah) harapan saya saat subsidi 100 persen dicabut tagihan listrik ibu palign banter 120 ribu dan listrik rumah nggak lebih dari 220 ribu per bulannya.

Entah dibandingkan rumah tangga lain konsumsi listrik rumah kami bisa dibilang hemat atau tidak. Tetapi saya berusaha menekan konsumsi listrik sebisa mungkin. Bukan hanya demi menekan pengeluaran tetapi lebih pada menghindari pemborosan sebab boros adalah salah satu sifat setan. Pemborosan listrik sama juga halnya dengan membuang percuma sumber-sumber energi lain. Sebab pembangkit tenaga listrik membutuhkan tenaga potensial air, batu bara sebagai tenaga penunjang bahan bakar, sumber daya manusia untuk operasional dan lain-lain. Hemat listrik artinya kita lebih menghargai segala proses yang terlibat di dalamnya.

Tips Hemat Listrik ala saya:
1. Manfaatkan mesin cuci sekedarnya
Saya memiliki mesin cuci dua tabung tetapi saya menggunakannya seminggu sekali saja untuk sekedar maintenance. Selebihnya saya mencuci manual, olahraga sekalian hemat air dan listrik. Kalau pas cuaca kurang sinar matahari begini kadang saya mencuci manual dua hari sekali dan memanfaatkan pengering mesin cuci untuk membantu mengeringkan
2. Mengoptimalkan waktu setrika
Memulai daya setrika membutuhkan energi lebih besar. Saya biasa menyetrika dua atau tiga hari sekali agar lebih efisien.
3. Mengurangi frekuensi buka tutup kulkas. Seperti halnya kerja setrika, buka tutup kulkas berpengaruh terhadap konsumsi listrik yang lebih besar. Saya biasakan membuka tutup kulkas seperlunya. Padahal di masa kecil dulu senang sekali bermain di depan kulkas #eh
4. Meminimalisasi penggunaan perangkat elektronik
Kerjaan saya di depan laptop. Setiap charging baterai sudah full 100 persen saya cabut kabel charging dan bekerja dengan baterai. Begitu baterai sudah tersisa 30 persen baru saya charge lagi. Televisi? di rumah paling banter nyala setengah jam di pagi-siang hari (inipun biasanya si kecil yang nonton film kartun) dan maksimal dua jam di malam hari. Cuaca sejuk begini saya tak pernah menyalakan kipas angin di ruang tamu, tempat saya bekerja di depan laptop. Lumayanlah untuk mengurangi konsumsi listrik. Meski listrik 900 VA di rumah ada AC PK kecil untuk dua kamar, jadi tembok penyekat dua kamar diberi ruang untuk pasang AC yang bisa dinikmati bersama. AC biasa nyala menjelang tidur malam jam 9-10 dan mati menjelang adzan subuh (saat membangunkan si kecil). Lebih hemat pemakaian gadget agar nggak sering-sering ngecharge wkwkwk
5. Memilih piranti elektronik hemat energi
Televisi (meski jarang menyala) yang ada di rumah adalah TV LED yang bisa hemat listrik hingga 50 persen dibandingkan TV tabung. Lampu juga diganti LED yang dengan daya 5 watt saja sudah cukup terang.
6. Mengulur waktu memasak nasi dan menghangatkannya
Pemakaian rice cooker/ magic com juga perlu ditinjau kembali. Kalau dulu masak nasi jam 4 pagi ulur aja dah sampai jam 4.30 atau lebih siang lagi di hari libur. Malam juga gituh, cepet-cepet dicabut aja penghangatnya agar lebih hemat listrik juga. 

Semoga tips sederhana ini bermanfaat bagi yang membaca.

Share:

Work at Home

Kumpulan Emak-emak Blogger

Blogger Perempuan

Blogger Perempuan

Ning Blogger Surabaya

Ning Blogger Surabaya

BloggerHub

Warung Blogger

KSB

komunitas sahabat blogger
Powered by Blogger.

About Me

My photo
Ibu dua putra. Penulis lepas/ freelance writer (job review dan artikel/ konten website). Menerima tawaran job review produk/jasa dan menulis konten. Bisa dihubungi di dwi.aprily@gmail.com atau dwi.aprily@yahoo.co.id Twitter @dwiaprily FB : Dwi Aprilytanti Handayani IG: @dwi.aprily

Total Pageviews

Antologi Ramadhan 2015

Best Reviewer "Mommylicious_ID"

Blog Archive

Labels

Translate

Popular Posts

Labels

Labels

Blog Archive

Recent Posts

Pages

Theme Support

Need our help to upload or customize this blogger template? Contact me with details about the theme customization you need.