catatan seorang ibu, wanita, hamba sahaya yang ingin berbagi pikiran dengan dunia

#SaveRisma





Surat Terbuka untuk Ibu Risma,
Bu apa kabar Surabaya hari ini ?

Bu Risma, meski mungkin ibu gak punya twitter, FB, instagram, path, line tapi di dunia maya banyak yang menyayangkan jika Ibu mundur sebagai walikota Surabaya. 

Bu, saya bukan siapa-siapa, hanya kebetulan sebagai salah seorang yang lahir di Surabaya dan mencari nafkah di Surabaya selama hampir sepuluh tahun.

Bu, saat tak banyak media massa dan warga maya membicarakan prestasi Bu Risma, kami yang di Surabaya sekitarnya sudah merasakan kerja keras ibu secara nyata padahal saat itu ibu masih menjadi Kepala Dinas Pertamanan...taman-taman kota, SPBU yang berubah menjadi lahan hijau memberi harapan baru setiap kali saya harus megap-megap terjebak macet sepulang kerja, paru-paru saya seolah turut berharap oksigen dari taman-taman itu sekedar menyambung nafas, mata jadi lebih segar berharap cemas ada kupu-kupu yang melintas.

Bu, sejatinya saya ganti PP facebook , avatar twitter atau mengisi petisi #SaveRisma pun tak akan berpengaruh apapun pada keputusan ibu nanti tapi setidaknya memberi saya semangat untuk kuat melangkah tak mudah putus asa _ menghadapi kenyataan dua anak sakit bersamaan ditambah kerjaan yang diburu deadline dan masih harus keluar kota nantinya demi menyenangkan hati orang tua saja saya sudah stress setengah mati tak terbayang ibu harus mengurus orang satu Surabaya, menghadapi teror pasar Turi yang sengaja dibakar dan pembangunannya tak kunjung kelar, banjir yang tetap rajin sambang Surabaya karena sebagian salah tata ruang (eh saya masih ingat saat masih bekerja , di perjalanan sekitar jam 7 pagi ibu sudah mengudara diwawancarai radio lokal di lokasi pintu air memantau agar tidak terjadi banjir, ternyata bu Risma sudah keluar rumah pagi-pagiii sekali bahkan saat saya masih di kamar mandi..hmmm ibu bekerja diam-diam nyaris tanpa pemberitaan yang kata seorang teman berita-berita itu kadang cuma rekayasa, pesanan politisi lha emang bu Risma pas Pemilu milih partai mana, siapa tau nggak memilih seperti saya hehehe) ditambah teror KBS yang penuh misteri (tak hanya misteri tentang pohon yang berputar sendiri saat dini hari menurut kesaksian anak buah ibu yang diinstruksikan patroli menjaga KBS secara bergiliran) tapi misteri mengapa banyak hewan mati dan "bunuh diri" oh ternyata ada yang ingin menjadikan kebun binatang itu sebagai mall, kebun yang ibu pertahankan setengah mati sebagai hutan kota_ Padahal lo Bu, kebun binatang dan mall itu beda tipis, bedanya nafsu hewani di mall-mall dibungkus rapi dan berdasi sementara di Kebun Binatang Surabaya penghuninya tanpa busana  _ Dan eh teman saya ada yang bertanya mengapa lambat sekali menangani masalah ini, ada juga yang berpikir karena masalah hewan tak ada unsur politisnya...ah Bu, kalau saja mereka tahu kisah misteri yang ada di baliknya ya, bagaiman harus bertindak di luar wewenang ditambah begitu banyak rongrongan ?.

Bu, jutaan hashtag ‪#‎SaveRisma‬ atau tanda tangan yang terkumpul dalam petisi mungkin tak akan merubah keadaan karena saya percaya Ibu mengambil keputusan apapun itu atas petunjuk Tuhan seperti yang pernah ibu ucapkan, saat seperti dulu ibu menimbang lamaaa sekali memutuskan harus menerima atau menolak pinangan partai yang punya massa terbesar di Surabaya untuk menjadi walikota (yang akhirnya merasa ibu ternyata tak mudah taat pada instruksi partai itu begitu saja lalu berniat membuat ibu menyerah) tapi dukungan keluarga serta kecintaan pada Surabaya _tentunya juga perkenan Sang Maha Kuasa_ ibu memutuskan untuk melaju dan seperti yang saya duga sebelumnya ibu terpilih sebagai pemimpin atas amanah rakyat penuh harap dan cinta

Bu, apapun yang ibu putuskan saya, kami ucapkan terimakasih atas yang ibu berikan untuk rakyat Surabaya pada khususnya, pada seluruh rakyat Indonesia yang kini terbuka mata hatinya bahwa masih ada pemimpin yang punya hati nurani, paham benar bahwa jabatan bukan sekedar kebanggaan tetapi kelak ada pertanggungjawaban di depan Tuhan_mudah-mudahan banyak yang tersadar ya bu, setidaknya generasi penerus bangsa punya role model bagaimana menjadi pemimpin yang amanah.

Bu, saya sudah kehabisan kata-kata tapi sekali lagi terimakasih atas semangat yang ibu kobarkan, jika dulu semangat rakyat Surabaya karena Bung Tomo kini semangat kami kembali berkobar karena ucapan ibu tempo hari yang kira-kira berbunyi "jangan menyerah anak-anakku seSurabaya, siapapun kalian, siapapun orang tua kalian, kuli, buruh, tukang becak jangan pernah merasa sumbangsihnya terlalu kecil teruslah berjuang mewujudkan mimpi karena Tuhan itu Maha Adil"

Apapun yang terjadi semoga Allah melindungi ibu sekeluarga, titip hormat saya juga pada suami yang ridho Ibu memimpin Surabaya tanpa takut berada di bawah bayang-bayang istrinya (rrrr jadi nggak semua wanita harus tinggal di rumah kan, pemimpin nggak mesti pria kan ^^), titip salam untuk ananda tercinta yang pastinya tak mudah menjalani hidup harus berbagi bunda dengan orang seSurabaya.

Share:

Resensi Teatrikal Hati

Judul    : Teatrikal Hati
Penulis : Rantau Anggun dan Binta Al Mamba
Penerbit : Penerbit Quanta – PT Elex Media Komputindo
Genre : Novel Islami
Cetakan Pertama : 2013
Tebal : 342 halaman
ISBN : 978-602-02-2627-9


Sebuah Cerita tentang Empat Wanita

Pernah membaca novel yang mengisahkan perjalanan hidup empat wanita yang ditulis dua penulis wanita ? rasanya seperti menikmati hidangan aneka rasa, manis, asam, gurih, asin. Teatrikal Hati merupakan novel dalam format sedikit berbeda dengan yang beredar di dunia literasi selama ini. Dibuka dengan prolog tentang pemilihan setting dan tema, novel besutan Rantau Anggun dan Binta Al Mamba sempat membuat penasaran dan bertanya-tanya mengapa pembaca harus menelusuri kisah empat wanita yang berbeda, seperti membaca cerita pendek yang dirangkum dalam sebuah buku. Hingga akhirnya pelan-pelan benang merah mulai menyatukan satu persatu  jalinan kisah ketika Zahra Azkia mulai menjalankan misi memproduseri sinetron bergizi bagi para penikmat televisi terinspirasi dari catatan harian sang Mama dan novel Lelaki Hatiku sebagai sumber ide cerita.

Adalah Zahra Azkia, seorang wanita menjelang tiga puluh yang merintis karir dari seorang artis menjadi produser kreatif di Tropical Entertainment, sebuah production house yang hampir selalu menghasilkan sinetron berating tinggi. Linda Arum, dikisahkan sebagai penyiar radio dan penulis novel yang merindukan kehadiran anak dalam rumah tangganya yang berjalan monoton nyaris tanpa getar romantika cinta. Gwen Saputri, arsitek wanita yang melesat dengan karirnya namun memiliki trauma masa kecil yang membuatnya membenci lelaki sehingga menghindari pernikahan sepanjang hidupnya dan Setyani, kembang desa, putri seorang ulama yang dijodohkan dengan Harjun Notodiningrat, seseorang yang nyaris tak punya kebaikan sedikitpun dibandingkan kemuliaan seorang Setyani.

Zahra Azkia adalah potret muslimah masa kini, cerdas, kreatif, mandiri hingga cukup menyiutkan nyali bagi pemuda yang berniat menyuntingya, adalah Fardan yang menjadi sosok yang sering dijodohkan dengan Zahra oleh rekan-rekan mereka, namun tanggapan dingin Zahra seolah membuat langkah Fardan surut ke belakang, adakah Fardan dan Zahra berhasil mewujudkan harapan teman, keluarga agar mereka bersatu dalam sebuah biduk rumah tangga bahagia ? . Linda yang nyaris putus asa atas tak kunjung hadirnya seorang anak yang begitu didambakan akankah menyerah pada takdir dan menghabiskan masa tua tanpa menikmati masa-masa menjadi ibu yang sangat berharga ?. Sementara itu akankah Gwen memutuskan tak kan pernah menikah akibat memendam luka masa kecil akibat perlakuan sang ayah hingga membuatnya membenci lelaki ? lalu siapakah sebenarnya Setyani, apa yang membuatnya memutuskan menjadi wanita pasrah tanpa ada kehendak untuk memperjuangkan kebebasan dari lelaki yang tak patut dipertahankan ? waktu yang akan menjawab semua pertanyaan pembaca seiring cerita demi cerita membingkai Teatrikal Hati tercipta tanpa jeda. 

Teatrikal Hati menarik untuk dibaca karena menyoroti tayangan sinetron dewasa ini yang terjebak dengan hedonisme dan tidak memberikan pesan moral yang bermanfaat bagi para pemirsa. Kedua penulis tampaknya sangat gelisah dengan trend tontonan televisi saat ini yang didominasi hal-hal vulgar, film-film pendek yang hanya menyajikan adegan percintaan, kekerasan hingga acara campur baur yang tak jelas ujung pangkalnya. Sayangnya dengan ide yang menyentil pentingnya suatu tontonan bermutu bagi pemirsa televisi, Teatrikal Hati nyaris terbawa pada tema cerita sinetron pada umumnya, dimana Harjun Notodiningrat digambarkan sangat sempurna sebagai sosok antagonis, pemabuk, kasar terhadap istri, playboy flamboyan yang suka main perempuan sementara Setyani begitu sempurna dan sangat berbakti kepada suami, taat, patuh luluh meski dihujani pukulan tetap bersabar tanpa niat meminta cerai meski berpuluh bahkan beratus wanita datang dan pergi dari kehidupan sang suami. Fenomena ini sering muncul sebagai tema sinetron tentang Kekerasan Dalam Rumah Tangga, membuat gemas bagi yang menyaksikan sekaligus menyebabkan pembaca Teatrikal Hati bertanya-tanya apakah di zaman Setyani – Harjun, di desa sebuah kota santri perilaku asusila Harjun tak mendapat sangsi dari masyarakat ? namun justru dari ketidakwajaran hubungan inilah kisah Teatrikal Hati mengalir sempurna. Mungkin kita sendiri tak sadar bahwa hingga saat ini masih banyak istri yang mendapat perlakuan tak pantas dari suami tanpa mengerti harus mengadu kepada siapa. Namun Teatrikal Hati tetap memikat dalam menampilkan wanita dalam karakter serta perjalanan hidup di masa yang berbeda melalui alur cerita berselang-seling antara flashback dan masa kini.

Teatrikal Hati layaknya kisah kehidupan, ada tangis dalam hidup Setyani, miris akan trauma yang harus dialami Gwen, kehampaan dalam kehidupan Linda sekaligus tawa canda Zahra Azkia dan rekan-rekannya menyadarkan kembali akan kodrat seorang wanita betapa tinggi prestasi dan karir yang dicapainya selalu terbersit harapan untuk melabuhkan hati pada seorang pria, membangun mahligai rumah tangga impian dengan hadirnya anak-anak sebagai pelengkap kebahagiaan serta menuntut kesetiaan seperti kata hati Gwen di halaman 158 “Dan yang paling penting. Aku hanya ingin kesetiaan. Aku ingin menjadi satu-satunya dalam hidup seorang lelaki. Tanpa sambilan atau sampingan.

Tertarik membaca novel ini ? silahkan berburu ke toko buku jangan lupa ikut lomba resensinya sebab Resensi ini diikutsertakan dalam lomba resensi buku BAW dan QuantaBooks


Share:

INFO LOMBA RESENSI BAW COMMUNITY


Be a writer Indonesia adalah sebuah komunitas penulis yang beranggotakan penulis-penulis produktif dan para blogger di seluruh Indonesia dan sebagian anggotanya berada di luar negeri. Buku-buku yang sudah terbit dari tangan-tangan penulis Be a Writer Indonesia tersebar di berbagai penerbit, salah satunya di penerbit Quanta-Elexmedia, yang merupakan lini islami imprint dari Elexmedia, grup dari Gramedia.

               Awal tahun ini Be a Writer Indonesia bekerja sama dengan Quanta-Elexmedia mengadakan lomba resensi buku-buku penulis Be a Writer Indonesia yang khusus diterbitkan oleh Quanta-Elexmedia.
Berikut list buku-buku penulis Be a Writer Indonesia yang diterbitkan oleh Quanta-Elexmedia.
1.            GADO-GADO POLYGAMI, Leyla Hana dkk.
2.            YA ALLAH BERI AKU KEKUATAN, Aida MA.
3.            KETIKA CINTA HARUS PERGI, Elita Duatnofa dan Aida MA
4.            YANG TERSIMPAN DI SUDUT HATI, Ade Anita.
5.            BETANG, CINTA YANG TUMBUH DALAM DIAM, Shabrina,Ws.
6.            TEATRIKAL HATI, Binta Al Mamba dan Rantau Anggun.
7.            PERJANJIAN YANG KUAT, Leyla Hana.
8.            KUSEBUT NAMAMU DALAM IJAB DAN QABUL, Aida MA dan Elita Duatnofa.
9.            PROMISE, LOVE, and LIFE, Nyi Penengah Dewanti.
10.        TEMUI AKU DI SURGA, Ella Sofa.
11.        FRIENDSHIP NEVER ENDS, Santi Artanti.

Nantinya kami akan memilih LIMA (5) ORANG PEMENANG UTAMA. Yang akan mendapatkan hadiah yang banyak sekali. silahkan diintip di sini ya.

Paket buku dari penerbit Elexmedia-Gramedia senilai @350.000.
Sajadah Eksklusif dari penerbit Quanta-Elexmedia.
Merchandise eksklusif dari Leyla Hana
Goodie bag seru (Pashmina + Dompet Kulit) dari Ella Sofa, Binta Al Mamba, Ade Anita, dan Shabrina Ws.
Paket Menarik (handbag ethnic) dari Aida MA
Chocolieta, Homemade Chocolate by Elita Duatnofa.
Souvenir cantik dari Santi Artanti.
Jam table dari Nyi Penengah Dewanti.
Bagaimana cara untuk mengikuti lomba?  Berikut teknisnya ya.


1. Setiap resensi buku diposting di blog masing-masing, atau bisa di note FB Goodreads, Kompasiana, sangat diperbolehkan jika ingin posting di semua akun tersebut. Di akhir resensi, sebutkan: Resensi ini diikutsertakan dalam lomba resensi buku BAW dan QuantaBooks, yang dilinkan ke postingan lomba ini.
2. Setiap peserta diperbolehkan meresensi lebih dari satu judul buku dari list yang disebutkan di atas, semakin banyak jumlah buku yang diresensi semakin baik.
3. Setiap peserta menginformasikan link materi lomba ini di akun linimassanya masing-masing (FB,Twitter, Blog dan lain-lain) dengan menyertakan link dari info lomba.
 4. Setiap resensi dishare pada akun twitter peserta, follow dan mention @BAWCommunity dan @Quantabooks dengan hastag #ResensiBAW.
5.  Bagi peserta yang resensinya sudah ditayangkan di blog pribadi atau di media online, termasuk resensi yang sudah lama ditayangkan (blog atau media cetak/online) juga dipersilahkan mengikuti lomba ini, jangan lupa share link-nya sesuai dengan ketentuan pada point 4.
6. Silahkan join blog Be a Writer Indonesia, www.bawindonesia.blogspot.com dan like Fanpage-nya Quantabooks di FB untuk informasi selama lomba berlangsung.
7. Bagi anggota komunitas Be a Writer Indonesia, diperbolehkan untuk mengikuti lomba resensi ini. Kecuali penulis yang namanya tercantum dalam list buku-buku yang diresensi tidak diperbolehkan mengikuti lomba ini.
8. Lomba berlangsung mulai tanggal 05 Februari sampai dengan 05 Mei 2014. (DEADLINE 05 MEI 2014).
9. Pengumuman Lomba 05 JUNI 2014.
10. Link postingan lomba didaftarkan di kolom komentar di bawah postingan ini dengan format: Nama, Resensi Buku (judul buku yang diresensi), URL resensi, akun twitter.

Baiklah, itu tadi teknis lombanya, silahkan kirim resensi terbaikmu untuk buku-buku Quanta-Elexmedia dari penulis-penulis be a writer Indonesia dan menangkan hadiah-hadiah menarik dari event ini.

Salam,
        BAW Community dan Quantabooks

Note.
Sebagian buku sudah tidak beredar di TB.Gramedia. Namun bisa dipesan di toko buku-toko buku online.

UPDATE!
10 peserta pertama akan mendapatkan hadiah pulsa @10.000 dari Shabrina Ws. Peserta pertama adalah yang pertama kali mendaftar
Share:

Resensi Betang, Cinta yang Tumbuh dalam Diam

Judul    : Betang, Cinta yang Tumbuh dalam Diam
Penulis : Shabrina WS
Penerbit : Penerbit Quanta - Elex Media Komputindo
Genre : Novel Islami
Cetakan Pertama : 2013
Tebal : 175 Halaman.
ISBN : 978-602-02-2389-6



Tak Masalah Haluan atau Buritan Asal Tiba di Tujuan

          Berbeda dengan sepakbola atau bulutangkis, senada dengan judul novel Betang, Cinta yang Tumbuh dalam Diam dayung merupakan cabang olahraga yang kurang popular di Indonesia namun tanpa gegap gempita sorak sorai membahana justru dayung berkarya dalam sepi, mencetak berbagai prestasi, menorehkan nama harum bangsa di posisi tertinggi lewat peraihan berbagai medali. Fenomena ini rupanya menginspirasi Shabrina WS menuliskannya dalam bentuk novel yang mengisahkan perjalanan hidup atlet dayung dari pedalaman Borneo, berjuang hingga meraih posisi atlet pilihan di Pelatnas.

             Apa menariknya membaca novel tentang perjuangan atlet dayung ? begitu mungkin kesan yang tertangkap di sebagian calon pembaca sesaat setelah membaca sinopsisnya namun pemikiran tersebut pasti sirna kala menikmati novel ini kalimat demi kalimat nan puitis, berhias quote-quote manis di setiap babnya. Deskripsi alam Borneo, rumah Betang sebagai rumah adat suku Dayak begitu nyata membawa pembaca seolah sedang menyaksikan sendiri hamparan sungai Barito dan Kahayan, indahnya anggrek hitam sebagai bunga khas belantara Kalimantan serta kokohnya kayu ulin sekaligus merasakan nyeri di hati mengingat pembalakan liar yang telah mencerabut anggrek hitam dan kayu ulin dari habitat asli, menjadikannya langka kini.

             Sosok Danum sebagai perempuan asli Buntok, menggugah kesadaran penikmat novel bahwa wanita Dayak tidak hanya digambarkan sebagai seseorang dengan lubang telinga sangat lebar berhias anting-anting besar, tetapi ia lebih mencerminkan wanita modern meski tetap mengenakan gelang simpai di lengan sebagai perhiasan khas suku Dayak. Modernisasi di pedalaman Borneo juga ditunjukkan oleh sang kakak Arba, yang tiba-tiba saja masuk di dalam hidupnya setelah sekian lama tak bertemu ketika ayah mereka meninggalkan Danum dan ibu untuk hidup terpisah. Arba dikisahkan sebagai kakak yang sangat perhatian dan mengikuti perkembangan zaman dengan memiliki akun facebook dan twitter. Gambaran kecil ini sedikit mengusik pembaca apakah di kawasan Buntok sekitar rumah Betang yang notabene harus ditempuh melalui perjalanan panjang dari kota, mengharuskan menyewa perahu motor atau jukung untuk tiba di tempat tersebut ternyata memiliki infrastruktur BTS dan listrik secara sempurna tanpa gangguan sinyal untuk mengakses internet, berbeda dengan kabar yang selama ini beredar bahwa Kalimantan merupakan salah satu pulau yang mengalami krisis listrik sehingga perlu dilakukan pemadaman secara bergiliran. Namun menikmati bagaimana sang penulis begitu detail menggambarkan tahap demi tahap menanam pohon ulin, perjalanan Danum dari Buntok menuju asrama Pelatda di Palangkaraya serta betapa rinci Shabrina mendeskripsikan angkutan umum, jalan raya menuju Tugu Soekarno di bab-bab terakhir menunjukkan bahwa novel ini ditulis melalui riset yang cukup mendalam menjawab keraguan pembaca tentang masalah sinyal operator dan listrik yang sama sekali tidak mempengaruhi jalinan cerita.

               Kisah dibuka dengan prolog tentang rumah Betang yang begitu kuat mengikat hati Danum membuat pembaca maklum mengapa Danum bimbang untuk meninggalkan rumah kenangan demi meraih cita-citanya sebagai atlet dayung nasional. Tiga kali kegagalan menembus Pelatda hingga kemudian datang kesempatan berikutnya menimbulkan konflik bagi Danum apakah ia harus memenuhi panggilan tersebut, meninggalkan rumah Betang beserta seluruh kenangan, berpisah dengan kakek dan Arba, harta paling berharga baginya setelah kepergian ibunda serta sang nenek atau menggapai cita serta cinta terpendam terhadap teman masa kecilnya, Dehen yang telah melejit sebagai atlet nasional berprestasi seperti cita-citanya selama ini.
Ketika Danum memutuskan memenuhi panggilan, kenyataan tentang kehadiran Sallie di kehidupan Dehen membuatnya teringat kata-kata Arba “Roman klasik. Teman masa kecil, bertemu kembali, jatuh cinta lalu bahagia selama-lamanya. Kamu hidup di alam nyata bukan seperti cerita-cerita novel” (halaman 105) sempat menorehkan luka, apalagi ketika ia harus satu tim dengan Sallie dalam sebuah pertandingan, apakah Danum berhasil menggapai cita-citanya meraih gelar dalam kejuaraan Dayung atau terpuruk karena harapan berbalut roman terhadap Dehen layaknya menggantang asap dan membuatnya gagal untuk kesekian kali? Adakah perhatian Dehen terhadap Danum melalui surat dan sms meski mereka tinggal berjauhan hanya sekedar uluran persahabatan ?. Konflik yang tercipta dalam Betang bukan konflik antara dua sosok yang berhadapan namun lebih pada konflik pada diri Danum pribadi, selain ragu ketika mengambil keputusan pergi memenuhi panggilan atau menemani kakek di hari tua juga konflik yang muncul apakah harus memaafkan sang ayah atau memilih tak pernah berurusan lagi dengannya.

             Betang tidak sekedar mengisahkan romantika antara pria dan wanita namun juga tentang kecintaan suku Dayak terhadap alam seperti ucapan kakek Danum “kita harus mengganti apa yang kita ambil dari alam” ketika ditanya mengapa bersedia susah payah mengembangkan bibit ulin sekaligus menanamnya di lahan-lahan gersang akibat penebangan hutan dan pertambangan (halaman 31). Betang menanamkan filosofi tentang makna dayung itu sendiri bahwa untuk mencapai suatu cita-cita dan tujuan hidup tak masalah harus duduk di haluan atau buritan asal dayung tetap digerakkan, tentang kalah atau menang itu soal belakangan karena kita tak pernah punya apa-apa bahkan diri kita bukan milik kita. Ada Dia yang menggenggam hati, yang tak akan pergi jika kita bersandar, yang akan menguatkan jika kita lemah.

Tertarik membaca novel ini ? cuplikannya bisa diklik di cover buku yang link ke blog sang penulis. Lalu silahkan berburu ke toko buku jangan lupa ikut lomba resensinya sebab Resensi ini diikutsertakan dalam lomba resensi buku BAW dan QuantaBooks

Share:

Berkat Palm Sugar, Cookies pun Jadi Lebih "Segar"

Menonton tayangan televisi tentang bahaya penyakit diabetes mengingatkan saya kembali pada Mama, penderita diabetes selama bertahun-tahun. Diabetes Mellitus yang diderita Mama merupakan penyakit genetis yang diturunkan dari almarhum kakek, adik lelaki Mama juga menderita penyakit yang sama. Dalam keseharian, Mama sangat tergantung pada obat-obatan penurun kadar gula dalam darah, tanpa mengkonsumsi obat khusus penderita diabetes kadar gula Mama bisa mencapai 300 – 400 mg/100 mL padahal kadar normalnya adalah 125 mg/100mL untuk orang dewasa seusia Mama. Jika kadar gula Mama sudah jauh di atas normal beliau akan merasa letih berlebihan, lemas dan hal tersebut berpengaruh pada aktivitas Mama. Selain mengkonsumsi obat tersebut setiap pagi sebelum makan pagi Mama menjaga pola makan agar tidak mengkonsumsi gula berlebihan namun salah satu kesulitan bagi penderita diabetes dalam melakukan diet ketat adalah masalah cemilan. Normalnya di sela makan pagi dan makan siang serta di sore hari tubuh manusia secara alami akan membutuhkan makanan ringan sebagai selingan, begitupula bagi penderita diabetes apalagi penderita diabetes lebih mudah merasa lapar daripada mereka yang bermetabolisme normal. 

Buah dan sayur relatif merupakan pilihan yang relatif lebih baik daripada makanan ringan buatan pabrik namun tidak semua buah ternyata boleh dikonsumsi penderita diabetes lagipula Mama juga memiliki masalah pada pencernaan sehingga salah makan buah maka kadar asam lambung Mama tiba-tiba meningkat tajam dan menyebabkan Mama menderita sakit perut berat hingga muntah terus menerus dalam beberapa jam. Mama pernah mencoba ngemil kentang rebus namun menurut dr. Ryan di sebuah acara TV dr.Oz kentang rebus memiliki indeks glikemik lebih tinggi dibandingkan kentang goreng, otomatis kadar glukosa Mama lebih cepat naik dan lebih mudah lapar, pantas saja setiap kali check up gula darah yang biasa dilakukan rutin setiap bulan hampir tidak ada perubahan yang berarti, kadar gula Mama tetap tinggi meski obat dikonsumsi teratur setiap hari. Dan Mama memutuskan untuk mengurangi ngemil, makan malam sebelum jam lima sore dan tidur cepat setiap harinya. Dan sarapan Mama tergolong pagi sekali karena lambung dalam keadaan kosong dalam waktu lama (kecuali saat berpuasa) tentu sangat berbahaya. Rasanya rikuh kalau harus ngemil di depan Mama sementara beliau tidak bisa turut menikmati.

Hingga suatu saat saya punya kesempatan mengikuti lomba foto hasil praktek resep di sebuah fans page margarine ternama. Sebenarnya tema lomba adalah cookies candy pop,kue-kue, biscuit yang dihias dengan gula-gula..tetapi anak-anak saya nggak ada yang suka kue model begitu apalagi Mama, meski dulunya beliau sukaa sekali makanan manis-manis kini Mama harus rela meringis memandang kue-kue semacam itu, apa ya saya tega ?. Berhubung saya naksir berat dengan hadiah bagi para pemenang maka saya nekad mengikuti lombanya yang mewajibkan memotret hasil kreasi dengan kemasan margarine tersebut. Hey tapi tunggu dulu,di balik kemasan margarine saya menemukan resep cookies yang lebih mudah dipraktekkan dan uniknya gula yang digunakan dalam resep adalah palm sugar, jujur baru kali ini saya menggunakannya dalam resep kue-kue untung saja di toko bahan kue di dekat rumah tersedia dalam bentuk bubuk dan dijual kiloan. “Ooo gula aren,” begitu jawab sang pemilik toko saat saya menanyakan tentang palm sugar.

Penasaran dengan palm sugar saya mencari keterangan tentang seluk-beluk gula bubuk nan cantik ini. Ternyata gula yang biasa disebut sebagai gula semut dan sering saya nikmati dalam bumbu rujak manis adalah salah satu bentuk gula aren. Gula aren merupakan pemanis yang dihasilkan dari air nira tandan bunga jantan pohon aren yang masih muda, diendapkan dalam bumbung bambu dan tidak menggunakan pengawet buatan dalam proses produksinya, berbeda dengan gula tebu yang melalui proses pemurnian, penambahan zat kimia tertentu (itulah mengapa ada sebutan brown sugar/raw sugar dan gula rafinasi) sebelum dikonsumsi masyarakat.  Brown sugar adalah gula pasir yang tidak diolah hingga finishing dan dibubuhi tetes tebu (mollases) untuk menimbulkan kesan organik. Gula rafinasi merupakan gula pasir yang diolah dari raw sugar dan melalui proses remelting (pelarutan kembali), klarifikasi, dekolonisasi, kristalisasi, fugalisasi sebelum dikeringkan dan dikemas dalam kemasan ekonomis. Hal ini sangat berbeda dengan cara membuat gula aren yang relatif lebih sederhana dan tidak mengandung zat berbahaya. Intip-intip you tube ada beberapa video dokumentasi pembuatan gula aren yang dijual di pasar-pasar dalam bentuk padatan, ini salah satunya :


Pengolahan gula aren yang tidak melalui proses pemurnian dan zat tambahan menjadi alasan bagi para ahli nutrisi untuk merekomendasikan gula aren sebagai pemanis sehat dibandingkan gula pasir. Ditinjau dari indeks glikemik(IG) gula aren memiliki angka GI cukup rendah yaitu sekitar 35 GI daripada dibandingkan batas yang disarankan dalam konsumsi harian, yaitu 55 GI, sementara GI gula pasir mencapai 58. Nilai GI gula aren yang tergolong rendah ini berdampak positif bagi metabolisme tubuh manusia, sebab mengkonsumsi makanan atau minuman ber GI rendah tidak menyebabkan terjadinya lonjakan gula darah secara drastis sehingga aman bagi penderita diabetes.

Wow, mengingat manfaat gula aren yang begitu hebat saya tak pikir panjang untuk mempraktekkan resep tersebut, tentunya dengan meniadakan topping gula-gula di atasnya, dan saya modifikasi menjadi taburan kacang tanah dan keju sebagai penambah cita rasa. Membuatnya mudah saja hanya dari campuran gula palm bubuk, margarine dan telur kemudian dimixer dan dioven selama dua puluh menit (resep lengkapnya ada di balik kemasan margarine yang dalam foto ini telah saya samarkan dengan foto produk arenga agar tidak mengandung pesan sponsor tanpa ada kaitan dengan palm sugar :) 


Awalnya saya ragu apakah anak, suami, Mama menyukai kue kecil buatan saya tersebut, oolalaa ternyata mereka tak hanya suka tapi jatuh cinta, buktinya tak ada komplain yang terlontar dan menanyakan kapan saya membuat kue yang sama ketika isi toples tandas. Sayangnya saya tidak menang dalam kontes tersebut tapi setidaknya saya mendapat pelajaran berharga dari sang gula hasil produksi famili pohon Palma, gula yang selama ini saya kenal hanya sebagai bahan isi kue klepon dan berbagai kue tradisional lain serta bumbu rujak manis ternyata bisa dimanfaatkan sebagai bahan pembuat cookies. Berkat gula aren cookies tampil lebih segar, rasanya lebih crispy (renyah) dan lebih tahan lama alias tidak mudah "melempem" tapi soal tahan lama cookies buatan saya ini hanya bertahan tiga hari di dalam toples karena segera pindah tempat ke perut kami sekeluarga :) yang membuat saya lebih bahagia ternyata gula darah Mama normal-normal saja meski ngemil cookies berbahan sederhana tersebut. Hmm seiring kecanggihan teknologi yang membantu mengemas gula aren dalam berbagai bentuk pasti kehadiran gula aren kristal dalam bentuk kemasan 225 Gram serta gula aren cair dalam kemasan botol atau gelas higienis, dilengkapi "fakta nutrisi" serta tanggal kadaluwarsa seperti dalam foto-foto berikut ini akan sangat membantu konsumen menyajikan pemanis sehat demi kehidupan keluarga yang bernas dan berkualitas.


Foto

Foto

Foto

palm sugar
Share:

Review Antologi Cerpen "Negeri Tanpa Nama"


Judul    : Negeri Tanpa Nama
Penulis : Maduretna Menali, Shabrina WS dkk
Penerbit : Ladang Pustaka
Genre : Antologi Cerpen
Cetakan Pertama : 2013
Tebal : 206 Halaman.
ISBN : 978-602-18231-7-0

Negeri Tanpa Nama

Apa yang pertama terlintas ketika mendengar kata “Negeri Tanpa Nama” ?  Antara ada_tiada, mungkin tempat terwujud kebahagiaan sejati atau kepedihan tiada terperi kala mendengar itu yang ada di benak saya. Dan ketika membaca Cerpen Muhammad Qadhafi “Negeri Tanpa Nama” di Antologi Negeri Tanpa Nama tak urung saya pun merinding, apakah benar-benar ada sebuah Negeri Tanpa Nama, tak tertera di peta namun nyata, mungkin penduduknya mirip kaum Elf seperti dalam trilogy Lord Of The Rings ?. Nyatanya cerpen ini membuat pembaca berpikir, andai benar ada dan kita tersesat di sebuah Negeri Tanpa Nama adakah kita bersedia menetap di sana atau ingin kembali pulang di tempat kita berasal ?

Ah pulang, selalu berbicara tentang kerinduan. Kerinduan akan kampung halaman layaknya cerpen Gurindam Hilang di Pulau Selayang (halaman 87), kerinduan yang diperam akan masa kecil yang tinggallah bayang seperti yang banyak terjadi di Indonesia kini, modernisasi telah merenggut kemurnian ajaran nenek moyang, guru-guru mengaji dan yang tertinggal hanya langgar-langgar sunyi, desa-desa sepi.

Kesepian mungkin datang menghampiri seorang wanita renta di penghujung usia ketika ditinggal pergi anak semata wayang jauh merantau ke negeri seberang, anak yang terlahir dari rahim wanita yang terpaksa menjalang, kesepian itu dilukiskan bagai Separuh Purnama oleh Ahmad Ijazi H (halaman 65). Namun sosok ibu seringkali digambarkan sebagai wanita tangguh sebagaimana Maduretna Menali mengisahkannya di Mereguk Rahim Ibunda halaman 15, sekaligus meninggalkan secercah tanya pada diri sendiri, siapakah yang kita sebut ibu, sudahkah kita cukup berbakti ?.

Antologi Negeri Tanpa Nama berisikan cerpen dari 20 cerpenis muda dengan latar belakang berbeda, tema yang diangkat pun beraneka rupa. Tema cinta merupakan kisah yang tak kan lekang digerus usia, tergantung bagaimana cara mengemasnya. Menemukan cinta kembali tepat ketika bertemu idaman lain yang mulai mencuri hati seperti yang dikisahkan Robby Anugerah dalam Perempuan Bernama Nia di halaman 42. Atau cinta yang datang tiba-tiba layaknya Hatiku Terdampar di Pulau Rote karya Arinny Fharahma di halaman 163.

Kecintaan para penulis pada Indonesia, betapapun perihnya sebuah fakta tercermin dari beberapa cerpen yang memotret realita di sekitar kita seperti Titipan – karya Shabrina WS, realita pahit tentang sebuah kisah tiga desa di Ponorogo dengan sejarah keterbelakangan mental menimpa hampir seluruh penduduknya secara turun temurun, pahit namun manusia memang tiada berdaya atas takdir dari Sang Kuasa seperti kalimat bijak sosok ibu sebagai wanita yang kuat “Kita terima saja semua sebagai titipannya Gusti Allah. Kalau kita tidak kuat Gusti Allah yang akan menguatkan kita” (halaman 178). Kisah di sudut Kintamani Bali tentang Kupu-Kupu Kertas dengan sebuah cerita dibaliknya dikisahkan  oleh Ni Putu Fatmaha Lindawati. Kedigdayaan Sakerah tak hanya masyhur di Madura namun juga seantero nusantara, namun bagaimana jika celurit telah kehilangan makna ? Fathorrozi yang akan menjawabnya dalam cerpen Matinya Celurit Malaikat di halaman 97.
Hidup adalah misteri seperti kisah mistis yang tersembunyi dalam cerpen Babi-babi itu karya Reni Hariani (halaman 73), tradisi Toraja yang membuat bulu kuduk berdiri pada cerpen Ma’ Nene (halaman 131) karya Miftah Alia Fauziah, Sihir cerpen M. Arif Budiman di halaman 137 adalah realita bahwa tenung, santet, magis masih kuat melekat tengah masyarakat.

Membaca antologi Negeri Tanpa Nama tidak hanya terhibur oleh jalinan cerita fiksi karena fiksi yang diangkat cerpenis dari latar belakang suku bangsa, pendidikan yang berbeda ini sesungguhnya adalah sebuah realita yang difiksikan, memberi kesempatan bagi kita merenung sebagai insan adakah nurani telah terkoyak tergerus perkembangan zaman ataukah kita mampu menjadi Mercusuar Di Balik Kabut seperti yang dikisahkan Elfa Nurul Annisa di halaman 143.

Share:

#1Hari1Ayat - Special Challenge - Back To School



Tak ada kata terlambat untuk belajar dan tak ada kalimat terlalu tua untuk menuntut ilmu. Manusia hanyalah makhluk Allah yang pengetahuannya seujung kuku itulah mengapa kita tak mengenal istilah terlalu pintar atau ilmunya udah ketinggian banget. 


Ingat saja bunyi petikan ayat kursy "mereka tidak mengetahui apa-apa dari ilmu Allah melainkan apa yang dikehendakiNya"

Di usia nyari empat puluh saya memang tidak punya niat untuk bersekolah lagi mengambil gelar S2 bahkan S3. Pertama, karena saya sudah tak punya cukup waktu, tenaga dan biaya. Kedua, ilmu yang berhubungan langsung dengan akherat lebih menarik minat saya. 

Untuk itulah Resolusi 2014 saya yang berkaitan dengan pendidikan adalah lebih mendalami ilmu hadits (yang ada sekian kitab harus dipelajari), berhubung saya belum pernah mengecap pendidikan pesantren dan madrasah saya berharap rasa haus saya akan ilmu tersebut dapat terobati dari perpustakaan mini Majelis Taklim di dekat rumah yang baru didirikan.
Selain itu dengan lebih rajin mengikuti pengajian saya sangat berharap pengetahuan agama saya akan bertambah dan menuntun saya menjadi insan yang lebih baik lagi.

Mengapa saya mewajibkan diri menuntut ilmu agama lebih tinggi ? sebab ibu adalah madrasah pertama bagi anak-anaknya, mendidik satu lelaki adalah mendidik satu lelaki namun mendidik satu wanita, ibu sama halnya dengan mendidik satu generasi. Dan agama adalah pondasi utama untuk membentuk generasi tangguh pembela panji-panji Illahi namun tidak gaptek teknologi.

Share:

#1Hari1Ayat - Al Quran, jangan pernah tinggalkan


Posting 31 – Al Quran, jangan pernah tinggalkan karena ia penjaga iman dan di dalamnya kita temukan ketenangan

#1Hari1Ayat telah genap 31 hari digelar namun bukan berarti seiring berakhirnya even ini kita tak lagi mengakhiri berinteraksi dengan Al Quran. Allah telah berfirman bahwa AL Quran adalah furqan, petunjuk bagi orang-orang yang bertaqwa. Di dalam Al Quran terdapat ayat yang mengatur tata cara beribadah dengan Allah, berinteraksi dengan alam serta hidup bemasyarakat. Itulah mengapa Al Quran disebut sebagai petunjuk. Al Quran sangat lengkap mengatur hukum-hukum beribadah sekaligus bermasyarakat, kewajiban berhijab bagi muslimah, tata cara menceraikan istri, pembagian warisan, penentuan bulan haji, hukuman bagi pencuri hingga ayat-ayat yang mengupas kewajiban berbakti kepada orang tua bahkan mengucapkan “ah” pun dilarang dalam agama (artinya tidak mentaati perintah orang tua), larangan berghibah, keutamaan sholat malam serta kisah-kisah nabi terdahulu tercantum dalam Al Quran dengan sangat lengkap agar kita dapat memetik pelajaran dari kehidupan umat sebelum Nabi Muhammad.

Al Quran adalah salah satu sarana mendekatkan diri kepada Allah karena semakin sering membaca ayat-ayatNya mengingatkan kembali terhadap segala nikmat yang telah kita terima. Jika dunia melenakan kita, bacalah Al Quran tentang surga dan neraka, tentang hari kiamat dan hari pembalasan. Adakah hati tak tergetar karenanya ?. Baca kembali ayat-ayat yang mengajak merenung mengapa matahari, bulan, bintang diciptakan, bagaimana kapal bisa berlayar di lautan, gunung berdiri kokoh dan tidak berjalan-jalan seenaknya, burung bisa terbang tanpa takut terjatuh. Masihkah perlu sikap sombong dan terlena nikmat dunia itu patut dipertahankan ?.

Al Quran disebut juga As Syifa, pengobat. Dalam ilmu pengobatan, rukyah dianjurkan membaca surat tertentu, menyebut Asmaul Husnah yang banyak kita temui dalam ayat-ayat Al Quran terutama dalam surat Al Hasyr namun paling utama AL Quran adalah pengobat hati. Ketika kita terpuruk karena cobaan yang bertubi datang, Allah menenangkan dengan ayat La Tahzan (jangan menangis) dan ayat bahwa janji Allah adalah benar. Saat kita merasa melakukan hal sia-sia Allah menghibur bahwa tak ada hal sia-sia, sebesar biji dzarahpun perbuatan kita akan ada balasannya. Sekali khatam membaca Al Quran bukan berarti kita tak perlu membacanya lagi, merenungi banyak hal tersembunyi.

Al Quran bukan sekedar kitab suci yang diletakkan rapi di dalam lemari, dipuja puji namun tak pernah dipahami, jika ingin selalu mengingat Allah bacalah Al Quran setiap waktu, minimal setelah sholat lima waktu maka inshaAllah akan kita temui betapa hati ini menjadi tenteram, seperti janjiNya bahwa dengan mengingat Allah hati menjadi tenteram.



Share:

#1Hari1Ayat - Calon Penghuni Surga



Posting 30 – Mereka yang Dirindu Surga

Andai dalam kelas ada pertanyaan “Siapa mau masuk surga” dapat dipastikan semua murid akan mengangkat telunjuk menandakan minat besar  sebaliknya tak ada yang bersedia dijebloskan ke dalam neraka, siapa yang tahan dengan panas dan siksanya ?
Namun menjadi penghuni surga tidak dapat diraih dengan santai dan suka-suka, banyak hal harus dilakukan agar memenuhi persyaratan tinggal di istana keabadian yang dialiri sungai di bawahnya menambah kedamaian.

Siapa mereka yang dirindu surga selain para Nabi, Rasulullah dan sahabat yang beriman Islam hingga akhir zaman ?. Tentu yang pertama adalah bayi-bayi , anak-anak yang meninggal sebelum mengenal dosa, Allah pun menjanjikan surga bagi ibu yang meninggal ketika melahirkan serta para syuhada yang gugur karena jihad fisabilillah.
Trus kalau bukan golongan tersebut di atas gimana coba ?, jawabnya ya jadilah bagian dari mereka yang dirindu surga . Siapakah mereka yang dirindu surga ? ayat-ayat Al Quran serta hadits nabi banyak menceritakan tentang mereka yang dirindukan surga, pada dasarnya adal empat golongan utama yaitu orang yang istiqomah membaca Al Quran, orang yang menjaga lisannya (dari dusta, ghibah, mengadu domba, berkata kotor dan kasar), orang yang memberi makan atau menafkahkan hartanya kepada orang yang kelaparan serta orang yang berpuasa di bulan Ramadhan.

Jika kita kaji lebih dalam keempat orang itu merupakan ciri orang yang baik, membaca Al Quran dan mengamalkan kandungan serta esensinya tentulah membentuk pribadi yang baik karena Allah dalam Al Quran menyuruh untuk selalu berbuat baik kepada Allah melalui berbagai bentuk ibadah, kepada orang tua dengan berbakti dan menghormati, kepada sesama dengan tak pelit berbagi. Orang yang mampu menjaga lisan tentunya orang baik-baik karena tak ada sumpah serapah yang keluar dari mulutnya ia juga tak pernah berdusta, menggosip dan mengadu domba. Orang yang memberi makan orang yang kelaparan pastilah orang baik, kisah Fatimah Az Zahra dan Sayidina Ali yang rela berbuka puasa hanya dengan air putih dan memberikan roti gandum bagi pengemis yang kelaparan. Orang yang berpuasa di bulan Ramadhan dengan sungguh-sungguh menahan hawa nafsu hingga sebulan penuh dijanjikan Allah bahwa dosa-dosanya di masa lalu terampuni secara otomatis ia telah menjadi orang baik asal tidak melalukan dosa baru.

Saya menemukan satu ayat dalam Al Quran tentang perumpamaan orang baik, bahwa kebaikan itu terwujud karena seseorang makan dan minum dari sesuatu yang baik (halal), terbiasa mengunjungi tempat yang baik dan indah sehingga apa yang dihasilkannya pun sebuah kebaikan.

Mari kita cermati bunyi surat An Nahl 68 – 69 berikut ini
Indahnya tanda kekuasaan Allah yang ditunjukkan si Lebah, ia hinggap di bunga-bunga, menghisap sari bunga yang murni, tinggal dalam sebuah koloni lebah lalu menghasilkan madu yang bermanfaat bagi kehidupan manusia. Begitupula halnya mukmin yang baik, seyogyanya ia makan dan minum dari sesuatu yang dihalalkan, mengunjungi masjid dan majelis taklim untuk beribadah menjauhi tempat maksiat, berkumpul dengan orang shaleh. inshaAllah kebaikan demi kebaikan pula yang akan ditebarkannya, mengobati hati yang terluka karena sesatnya dunia, menebarkan cahaya untuk senantiasa mengingatNya.

Tanda-tanda kekuasaan Allah tersebar  di seluruh jagad raya, ada pada seluruh makluk ciptaanNya tak peduli itu tumbuhan, hewan atau manusia…Subhanallahu Allahu Akbar semoga kita mampu meniru lebah dan kelak menjadi penghuni surga

Share:

Give Away - Recycle Pensil & Buku, Tanda Iritku


Giveaway Irit tapi Bukan Pelit

Seneng banget pas ketemu GA Unik Irit tapi Bukan Pelit. Ya nih kenapa ya stereotip yang berlaku di masyarakat irit itu hampir selalu identik dengan pelit padahal perintah "jangan boros itu jelas bisa kita baca sebagai firman Tuhan salah satu contohnya ada pada QS Al-Isra ayat 26

“Dan berikanlah kepada keluarga-keluarga yang dekat akan haknya, kepada orang miskin dan orang yang dalam perjalanan dan janganlah kamu menghambur-hamburkan (hartamu) secara boros.”


Jelas kan jika Allah pun melarang kita bertindak boros. Publik berpendapat bahwa kaum wanita itu makhluk paling hobi berbelanja eh tapi sepertinya itu tidak berlau bagi saya. Dari usia kanak-kanak, remaja, hingga usia tiga puluhan sekarang ini saya paling males kalau disuruh ngemall. Trus bagaimana kalau mau beli sepatu ? saya cuma punya sepasang sepatu flat shoes, hasil homeindustry pula di toko kecil dekat alun-alun kota. Beli baju ? nggak setiap tahun kok beli baju kalaupun perlu belinya di toko kecil dekat rumah. Belanja buat saya ya belanja keperluan bulanan untuk keluarga tapi itu pun tak lebih dari satu jam sudah termasuk antri di kasirnya. Soal hemat menghemat bukan hanya soal baju dan sepatu tapi merembet ke alat tulis menulis. Ini tergolong hobi saya yang unik, sejak duduk di Sekolah Dasar saya terbiasa menggunakan buku dan pensil hingga titik terakhir, maksudnya kalau pensil udah pendeeek banget dan nggak nyaman dipegang saya manfaatkan kemasan bekas spidol atau bolpoin yang tak terpakai sebagai “rumah” pensil, lalu dililit kertas kado bekas sebagai penghias. Caranya cukup mudah, kalau lubang "rumah" tadi nggak cukup besar, ujung pensil bisa diraut pelan-pelan menggunakan silet kalau merautnya kebablasan dan jika pensil terasa longgar jika dimasukkan dalam rumah barunya bisa dibebat dengan kertas bekas kado. Ini dia contohnya :

1364829661110548789

Trus untuk buku, setiap kenaikan kelas biasanya ada sisa lembaran yang masih bersih di beberapa buku, lembaran buku kosong sisa tersebut saya robek dengan hati-hati, saya kumpulkan hingga menjadi satu tumpukan dengan lembaran sisa-sisa buku lain bermotif serupa untuk dibuat buku baru, melekatkannya pakai stapler ukuran sedang, sampulnya bisa dari karton bekas atau sampul buku bekas yang masih bagus, tinggal ditutup kalender bekas bagian/sisi putihnya lalu ditempeli sisa-sisa kertas kado yang lucu-lucu. 

Nah kebiasaan ini terbawa hingga saat saya bekerja kantoran (sebelum resign setahun lalu), daripada saya mengajukan pembelian buku baru untuk mencatat poin-poin pekerjaan, saya kumpulkan kertas bekas foto kopi, potong rapi dan bagian yang bersih dari fotokopi masih bisa saya manfaatkan untuk menorehkan catatan (dan kini saya terapkan untuk anak-anak saya :D).

Kelihatannya kurang kerjaan dan sepele ya ?. Tapi kini saya bersyukur bahwa tindakan kurang kerjaan saya ternyata menyumbang kepedulian terhadap bumi maybe it’s not too much but a little thing is better than nothing, right ?.

Pernahkah kita berpikir berapa pohon di hutan yang mesti ditebang untuk membuat buku dari bubur kayu ? berapa lagi yang ditebang agar bisa diolah menjadi pensil ? padahal saat masih kecil saya belum terpikir hal seperti itu, saya hanya senang saja melakukannya karena dengan membuat buku dan pensil artinya saya mengulur waktu Mama dan Papa untuk membelikan pensil dan buku baru, penghematan kecil-kecilan lah buat beliau berdua.

Keren nggak ? ah ini belum seberapa, apa yang saya lakukan masih jauh dibandingkan mereka yang bisa membuat kerajinan dari bahan-bahan bekas, pembungkus sabun, pewangi, dan kemasan sisa lainnya, bahkan ada loh teman saya yang rajin banget, membuat tas dari celana jeans yang sudah nggak muat, menyulap daun pintu yang rusak jadi meja belajar padahal dia cewek tulen, ibu rumah tangga berputra dua tapi kreativitasnya patut diacungi jempol dua.

Irit bukan berarti pelit kok, karena seperti halnya boros, pelit itu juga dilarang  Allah dalam kiasan “tangan terbelenggu pada leher”. Artinya boleh irit agar tak terjebak boros dan belanjakan hartamu di jalan Tuhan agar tak menyesal di hari kemudian.


Dan janganlah kamu jadikan tanganmu terbelenggu pada lehermu dan janganlah kamu terlalu mengulurkannya karena itu kamu menjadi tercela dan menyesal.” (QS al-Isra: 29).

 “Tulisan ini diikutsertakan pada Giveaway Irit tapi Bukan Pelit yang diadakan oleh Kakaakin"


Share:

Work at Home

Kumpulan Emak-emak Blogger

Blogger Perempuan

Blogger Perempuan

Ning Blogger Surabaya

Ning Blogger Surabaya

BloggerHub

Warung Blogger

KSB

komunitas sahabat blogger
Powered by Blogger.

About Me

My photo
Ibu dua putra. Penulis lepas/ freelance writer (job review dan artikel/ konten website). Menerima tawaran job review produk/jasa dan menulis konten. Bisa dihubungi di dwi.aprily@gmail.com atau dwi.aprily@yahoo.co.id Twitter @dwiaprily FB : Dwi Aprilytanti Handayani IG: @dwi.aprily

Total Pageviews

Antologi Ramadhan 2015

Best Reviewer "Mommylicious_ID"

Blog Archive

Labels

Translate

Popular Posts

Labels

Labels

Blog Archive

Recent Posts

Pages

Theme Support

Need our help to upload or customize this blogger template? Contact me with details about the theme customization you need.